Laju Ekonomi RI Terganggu Perlambatan Perekonomian Tiongkok

Laju Ekonomi RI Terganggu Perlambatan Perekonomian TiongkokIlustrasi perekonomian Tiongkok. - JIBI/Bisnis Indonesia
07 Januari 2019 13:10 WIB Hadijah Alaydrus Ekbis Share :

JAKARTA — Sinyal perlambatan ekonomi China yang mulai kuat berpotensi mengganggu laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri, terutama dari sisi net permintaan eksternal yakni ekspor.

Sinyal ditunjukkan oleh kekhawatiran sejumlah perusahaan multinasional, termasuk Apple Inc. yang mengeluhkan potensi penurunan penjualan perangkat selularnya di Negeri Panda tersebut.

Kondisi ini diperkuat oleh data Biro Statistik Nasional China yang memperlihatkan Purchasing Managers' Index (PMI) turun menjadi 49,4 pada Desember 2018. Realisasi ini merupakan angka PMI terendah sejak Februari 2016.

Tidak hanya itu, Caixin/Markit Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) menunjukkan performa industri China turun menjadi 49,7 pada Desember dari 50,2 pada November 2018.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, selain data PMI yang menunjukkan bahwa perusahaan China tengah mengurangi ekspansinya, potensi perlambatan pertumbuhan China ini juga ditambah dengan kondisi rebalancing di negara tersebut di mana pemerintah ingin fokus mendorong konsumsi domestik.

Menurutnya, pasar sudah membaca sinyal ini sejak 3 bulan terakhir. Tidak heran, SSE Composite Index melemah hingga 10,86% dalam kurun tersebut. Semua ini merupakan dampak dari perang dagang yang mulai terasa.

"Efek perlambatan ini lebih besar ke Indonesia daripada AS [yang melambat] karena global supply chain Indonesia lebih ke China yang panjang, daripada AS," ujar Bhima, Minggu (6/1).

Rekonsiliasi Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping dinilai masih belum jelas. Batas waktu pengenaan kenaikan tarif kedua masih pada Maret 2019. Sementara itu, kenaikan tarif sebelumnya masih terus berlaku.

Artinya, Bhima menilai bahwa efek perbaikannya hanya sementara. Dalam hal ini, pemerintah bisa fokus mengantisipasi hal ini. Strategi yang dijalankan oleh pemerintah tetap harus mencari pasar alternatif, di luar China.

"Kalau ekspor barang sulit diandalkan, bisa dorong ekspor jasa seperti pariwisata, ekspor tenaga kerja profesional, IT dan jasa konstruksi," tegas Bhima.

MITRA DAGANG

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menegaskan, pelemahan ekonomi China pasti akan berpengaruh ke Indonesia karena China adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Dengan demikian, Indonesia pasti akan menghadapi tantangan penurunan ekspor ke negara tersebut.

"Tapi di sisi lain, ini bisa jadi peluang karena China juga perlu merelokasi pabrik dan mencari alternatif untuk sourcing produknya juga," ujar Shinta.

Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat menjadi bagian dari supply chain China. Faktanya, Shinta melihat sudah ada sejumlah perusahaan China yang melakukan relokasi agar barangnya tidak kena label buatan China.

Dengan strategi ini, barang-barang tersebut aman dari kenaikan tarif yang ditetapkan Trump. "Bila ini terjadi seharusnya tidak akan terlalu masalah untuk pengusaha Indonesia," ungkap Shinta.

Kesempatan ini bisa diraih juga tergantung bagaimana kesiapan Indonesia dalam bersaing dengan negara lain. Artinya, reformasi struktural harus tetap berjalan dan semua pemangku kepentingan harus dilibatkan.

Risiko perlambatan ekonomi China juga ditangkap oleh bank sentral dalam negeri yang melihat potensi pertumbuhan ekonomi lebih rendah pada tahun ini, yakni 6,5% dari perkiraan 6,6% tahun lalu.

Kondisi China ini turut mengancam net permintaan eksternal Indonesia yang diperkirakan masih akan negatif tahun ini.

"Net external demand itu ekspor dikurangi impor. Impornya sekarang mulai turun tetapi ekspornya juga turun. Penyebabnya karena geopolitical risks on trade war," tegas Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman kepada Bisnis.

Efek perang dagang ini, lanjutnya, telah membuat harga-harga komoditas ekspor mulai rontok.

Di samping itu, Aida melihat isu go green turut berpengaruh pada komoditas ekspor utama Indonesia, yakni minyak sawit (crude palm oil/CPO). "Plus kompetisi, seperti CPO yang bisa digantikan oleh soybean oil," kata Aida.

Terkiat dengan pelemahan China, Aida mengungkapkan bahwa bank sentral telah memasukkan risiko ini di dalam proyeksi ekonomi dalam negeri.

"Iya kan China tetap merupakan motor terutama di regional. Hanya pelemahan China within our projection," tegasnya.

Aida mengakui bahwa pelemahan ekonomi China merupakan dampak dari perang dagang. Selain itu, China tengah melakukan rebalancing pertumbuhan ekonominya yang lebih ke arah domestik.

Saat ini, BI memperhatikan dengan seksama data-data dampak dari perang dagang. "Jika truce [perjanjian antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping] 90 hari berlangsung positif maka asumsi global aman," ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia