Harga Beras Naik, Gabah Ikut Terkerek

Harga Beras Naik, Gabah Ikut TerkerekIlustrasi pedagang beras - JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
11 Januari 2019 06:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Harga beras yang merangkak naik di akhir tahun turut mempengaruhi harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, harga gabah di tingkat petani pada Desember 2018 naik 1,59% dibandingkan bulan sebelumnya.

Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) DIY, Arif Yuniarto mengakui naiknya harga beras tentu berimbas langsung pada naiknya harga gabah, baik di tingkat petani maupun penggilingan. Meskipun rata-rata harga gabah setiap bulan mengalami fluktuasi, menurut Arif harga tertinggi memang ada pada Desember 2018 sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh BPS terutama pada gabah kualitas GKP. "Sesuai HPP harganya Rp3.700 per kilogram (kg) untuk gabah dan Rp7.300 per kg untuk padi di tingkat petani," ujarnya kepada Harian Jogja, Kamis (10/1).

Kepala BPS DIY, JB Priyono menjelaskan berdasarkan hasil observasi gabah sebanyak 48 transaksi di DIY selama Desember 2018 pada tiga kabupaten yaitu Kulonprogo, Bantul, dan Sleman pihaknya mencatat ada 2,08% persen gabah dengan kualitas gabah kering giling (GKG), 56,25% berkualitas gabah kering panen (GKP), dan sisanya 41,67% berkualitas rendah. Berdasarkan data tersebut, Priyono menegaskan selama Desember 2018 tidak ada harga gabah di bawah harga pokok penjualan (HPP), baik di tingkat petani maupun penggilingan. "Gabah kualitas GKG dan GKP sebesar 58,33 persen dari keseluruhan jumlah observasi, tidak kami temui kasus harga gabah baik di tingkat petani maupun penggilingan yang berada dibawah HPP," ujarnya.

Sementara itu, Priyono menjelaskan rata-rata harga gabah setiap bulan mengalami fluktuasi. Harga tertinggi selama tiga bulan terakhir untuk gabah kualitas GKG di tingkat petani dan penggilingan terjadi pada Oktober. Sedangkan untuk gabah kualitas GKP di tingkat petani dan penggilingan terjadi pada Desember. Begitu pula dengan gabah kualitas rendah, harga tertinggi juga terjadi pada Desember.

Priyono menyebut dibandingkan November 2018, rata-rata harga gabah kualitas GKG naik 0,60% dari Rp5.566,67 menjadi Rp5.600 di tingkat petani dan naik 0,59% dari Rp5.616,67 menjadi Rp5.650 di penggilingan, gabah kualitas GKP naik 2,56% dari Rp5.584,62 menjadi Rp5.727,78 per kg di tingkat petani dan naik 2,54% dari Rp5.634,62 menjadi Rp5.777,78 per kg di penggilingan. Sedangkan harga gabah kualitas rendah naik sebesar 3% dari Rp4.577,78 menjadi Rp4.715 per kg di tingkat petani dan naik 2,97% dari Rp4.627,78 menjadi Rp4.765 per kg di penggilingan.

"Harga gabah tertinggi di tingkat petani senilai Rp6.000 per kg kami temukan pada gabah kualitas GKP dengan varietas IR 64 di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Sebaliknya, harga gabah terendah di tingkat petani senilai Rp4.350 per kg pada gabah kualitas rendah dengan varietas IR 64 dan Pepe terjadi di wilayah Kecamatan Sewon, Bantul," ujar Priyono.