Asita DIY Keluhkan Mahalnya Tiket Pesawat dan Penghapusan Free Bagasi

Asita DIY Keluhkan Mahalnya Tiket Pesawat dan Penghapusan Free BagasiPesawat Garuda Indonesia - Ist/Garuda Indonesia
18 Januari 2019 02:17 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA --Mahalnya tiket pesawat dan penghilangan bagasi gratis oleh maskapai penerbangan dinilai sangat mengkhawatirkan dunia pariwisata termasuk DIY.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia DIY Udi Sudiyanto mengatakan, karena dua hal itu, wisatawan akan berpikir ulang untuk melakukan perjalanan termasuk ke DIY. Pasalnya biaya perjalanan akan menjadi lebih mahal, khususnya bagi wisatawan dari luar Jawa.

"Ketika mereka datang ke Jogja [DIY] selama tiga hari, dua malam, mereka pasti akan membawa bagasi untuk keperluan mereka sendiri. Akan tetapi, dengan mereka harus membayar bagasi tersebut, tentu akan memberatkan mereka. Sudah tiket mahal, masih harus bayar extra luggage, semakin tidak terjangkau bagi masyarakat," ujarnya kepada Harian Jogja, Rabu, (16/1).

Udi menyebutkan, wisatawan akan berpikir ulang apabila akan belanja barang kerajinan dan suvenir dari DIY. Karena barang itu akan menambah bagasi lebih berat dan akan lebih mahal tarifnya.

"Jadi secara global, penghilangan free bagasi tidak hanya memengaruhi pariwisata secara langsung, tetapi juga berpengaruh terhadap perdagangan di DIY, khususnya kerajinan dan perbelanjaan. Saya sangat menyayangkan kebijakan ini." katanya

Ia berharap pemerintah turun tangan dalam menanangani persoalan ini. "Bagaimana kita mau mencapai 20 juta [kunjungan wisata], apabila kebijakan berbading terbalik?" ucapnya.

Menurutnya, untuk mencapai tujuan tersebut seharusnya dilakukan promosi yang gencar. Namun, yang terjadi ada kenaikan tiket pesawat dan penghapusan bagasi gratis. Udi pun mengaku tidak habis pikir terhadap kedua hal itu, mengingat saat ini memasuki low season untuk wisata.

"Saya tidak paham pola pikir mereka. Apalagi Januari-Maret kan low season. Kok bukannya bikin promo malah naikkan harga. Apa yang terjadi sebenarnya?" katanya.

Ia menekankan, pihak yang berhadapan dengan konsumen adalah staf maskapai penerbangan dan agen tiket yang ada di daerah, bukan mereka yang berada di kantor pusat. "Kalau mau mengubah kebijakan, tolong dikaji lebih dalam dan libatkan Asita sebagai salah satu agen penjualan mereka. Apalagi harga tiket di dalam negeri lebih mahal daripada tiket ke luar negri. Ini sangat memprihatinkan. Masyarakat akan lebih suka jalan-jalan ke luar negeri daripada ke dalam negeri." kata dia.