Ronald Apriyan Berbagi Keceriaan Melalui Lukisan

 Ronald Apriyan Berbagi Keceriaan Melalui LukisanRonald Apriyan ketika ditemui di rumahnya, Bantul, Sabtu (26/1)./Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
09 Februari 2019 10:30 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Ingin membagikan keceriaan dalam lukisan menjadi semangat Ronald Apriyan ketika berkarya. Napas lukisan itu tidak ia dapatkan dengan mudah, tetapi harus melalui perjalanan panjang. Karya-karyanya pun digemari banyak orang dari berbagai kalangan.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebutkan industri seni rupa dunia sedang memusatkan perhatiannya ke Asia Tenggara. Indonesia pun tak luput dari perhatian mereka. Indonesia mempunyai potensi terbesar baik secara kualitas, kuantitas, pelaku kreatif, produktivitas, dan potensi pasar. Seni rupa Indonesia juga sudah memiliki jaringan yang sangat kuat baik dalam negeri maupun di luar negeri.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga menjadi gudangnya perupa-perupa andal yang memiliki ciri khasnya sendiri. Salah satu perupa dengan ciri khas karya yang bisa ditemui di DIY adalah Ronald Apriyan.

Ditemui di rumahnya di Bantul, Ronald mengungkapkan gaya lukisannya saat ini tidak murni lagi seperti aliran lukisan yang diketahui selama ini. Ia ingin menebarkan keceriaan dan kebahagiaan dalam setiap karyanya. Hal itu bisa terlihat dari setiap karyanya tiga tahun belakangan yang berangkat dari tema anak-anak. "Saya mengagumi secara filosofi dunia anak-anak. Bebasnya, warnanya, keriaannya, dan tentunya kebahagiaan. Secara langsung orang langsung mengena dan merasa happy [setelah melihat karyanya]," kata dia kepada Harian Jogja, Sabtu (26/1).

Ia pun merasa senang, sebagai perupa karyanya mendapatkan apresiasi oleh semua kalangan. Tidak hanya kalangan muda, tetapi juga generasi tua pun mampu menangkap semangat kebahagiaan dalam setiap goresan kuas Ronald di kanvas. Itulah tujuan yang ingin ia capai.

Pancaran keceriaan lukisan-lukisan itu pun mampu ditangkap oleh siapa saja bahkan oleh orang yang sangat awam terhadap karya seni. Mereka bisa langsung menikmati secara visual meskipun belum sampai memahami makna yang terkandung di dalamnya. Berawal dari rasa suka itu, semakin banyak orang yang ingin mengoleksi lukisan-lukisan Ronald.

"Tetapi, ada juga yang merasa serius dan lebih dalam memaknai karya saya," ujar dia.

Jati Diri

Ronald bercerita harus melalui perjalanan panjang sebelum menemukan jati diri lukisannya saat ini. Ia pernah melukis dengan gaya realis, ekspresif, surealis dan drawing. "Ini pencarian yang panjang selama delapan tahun dari menjadi pelukis profesional. Memang seperti itu. Melukis itu enggak bisa diprediksi berapa lama untuk menemukan jati diri," tutur dia.

Ronald mulai menjadi pelukis profesional pada 2007. Selama delapan tahun, ia melalui proses mencari-cari jati diri. Sampai pada akhirnya menemukan napasnya. Teman-teman dan penikmat karya seni pun bisa melihat karakter itu dan meyakini bahwa jati diri itu sudah ditemukan oleh Ronald. Perjuangan itu juga tidak lepas dari dukungan keluarga.

"Mereka bilang Ini sudah meyakinkan. Lukisan ini ya Ronald. Satu tahun pertama perjuangkan, orang cepet banget akrabnya. Sebelumya orang-orang masih meraba-raba. Sekarang, kata mereka 'ini dah kamu'. Saya merasa paling nyaman dengan karya yang sekarang. Enggak ingin cari-cari lagi. Paling mengembangkan saja," ucap dia.

Ia mengakui bentuk dan warna sekarang tidak langsung terbentuk seperti sekarang. Ia tetap mencari-cari bentuk, warna, dan teknik yang cocok. Sama halnya dalam mencari baju yang cocok dengan gaya dan nyaman. Ciri khas lainnya adalah keruangan, kedalaman, dan dimensi bertumpuk-tumpuk pada karyanya. "Passion-nya paling nyaman. Agar orang tahu dengan indentitas dan gaya kita. Lukisan itu juga media komunikasi antara perupa dan publik," papar dia.

Terus Menginspirasi

Selama berkarya, ia kerap membuat pameran lukisan. Salah satunya Persembahan Cinta. Meskipun cinta kerap dipandang sebagai sesuatu yang norak, melalui karya itu ia ingin menyampaikan cinta memiliki makna yang luas. Cinta tidak melulu kepada pasangan, tetapi juga keluarga, negara, lingkungan, dan sebagainya. Tak hanya di Indonesia, Ronald juga pernah memamerkan karyanya di negara lain seperti Singapura. "Untuk memaknai karya saya bebas saja tergantung penikmat. Publik akan punya makna sendiri. Yang terpenting saya ingin karya saya selalu menginspirasi setiap hari," kata dia. Karya lukisan Ronald Apriyan./Ist/Ronald Apriyan

Ronald mengaku dalam waktu satu hingga dua tahun belakangan lukisannya memancing orang lain untuk mencoba membuat lukisan serupa. Ia mengaku tidak khawatir dengan situasi ini karena orang-orang tahu mana karyanya yang asli dan tidak.

"Saya ikhlas ada yang ngambil spirit-nya. Gapapa asal dengan tujuan baik dan konfirmasi saya. Saya enggak takut kehilangan market saya, posisi saya. Kami sama-sama profesional. Mereka enggak akan bisa sejajar dengan saya kecuali dia bisa bikin karya lebih hebat dari saya. Saya enggak marah karena mereka juga nyari makan untuk anak istrinya," tutur dia.

Ronald tidak kaku dalam berkarya. Ia pun menerima permintaan dari pelanggan sesuai dengan tema mereka. Namun, gaya lukisanya memang tetap dipertahankan. Menurutnya, keterlibatan pelanggan dalam menentukan tema justru membuat karya itu semakin berarti dan mendapatkan tempat istimewa di rumah pelanggan. Lukisan Ronald selalu dipamerkan di ruang utama seperti ruang tamu. Para pelanggannya bangga menunjukkan karya Ronald kepada keluarga ataupun tamu yang berkunjung.

Tak hanya pelanggan pribadi, Ronald juga kerap bekerja sama dengan perusahaan ataupun hotel. Setiap bulan, rata-rata ia menyelesaikan dua hingga tiga lukisan. Saat ini pun banyak pelanggan yang masuk daftar tunggu. Sebagai seniman, ia tetap ingin mempertahankan ciri khas lukisannya tanpa mengorbankan kepuasan pelanggan. Jalinan komunikasi yang baik pun selalu dijaga.

Ia pun mampu memberdayakan asisten dan pekerja seiring semakin besar namanya. Ia mempekerjakan hingga tujuh karyawan dengan tugas yang berbeda-beda.

Bekraf menuliskan dalam situs resminya, sebagai wujud dukungan pada seni rupa, berbagai festival seni rupa diadakan secara rutin. Sudah ada empat perhelatan seni rupa yang reputasinya diakui secara internasional. Mereka adalah Jogja Biennale, Jakarta Biennale, Art Jog dan OK Video Festival. Bahkan sudah lebih dari 160 pelaku kreatif seni rupa Indonesia terlibat dalam forum dan acara internasional.

Melihat potensi yang sangat besar ini, Bekraf antusias untuk memberikan dukungan sesuai dengan kewenangannya sebagai lembaga pemerintah. Bekraf akan menyediakan berbagai fasilitiasi seperti pembangunan ruang seni dan budaya, fasilitasi forum dan ajang seni rupa bertaraf internasional, serta mewujudkan supaya Indonesia menjadi pusat seni rupa Asia Tenggara. Dengan memasukkannya ke dalam 16 subsektor, Bekraf berkomitmen mengelola seni rupa secara lebih serius.