Berikut Kunci Ekonomi DIY Bertumbuh Tahun Ini

Berikut Kunci Ekonomi DIY Bertumbuh Tahun IniIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
11 Februari 2019 08:30 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang makin solid didukung oleh terjaganya stabilitas keuangan daerah di DIY. Kinerja perbankan terindikasi mengalami perbaikan yang tercermin dari penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang masih solid.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Budi Hanoto mengungkapkan, penyaluran kredit perbankan pada 2018 tumbuh meningkat 10,04% (year on year/yoy) sedangkan penghimpunan DPK tumbuh sebesar 7,01% (yoy). "Stabilitas sistem keuangan ditopang oleh kualitas kredit yang baik, dengan tingkat kredit macet [non performing loans/NPL] pada 2018 terus menurun mencapai 2,61 [persen],” katanta, Jumat (7/2).

Ke depan, seiring dengan makin digenjotnya penyelesaian pembangunan infrastruktur serta kinerja konsumsi yang diperkirakan masih akan meningkat sebagai trickle down effect peningkatan aktivitas pariwisata di DIY, Bank Indonesia meyakini perekonomian DIY pada 2019 akan terus melanjutkan pertumbuhan. "Dengan prakiraan pada kisaran 6,8-7,2 persen [yoy]. Pencapaian tersebut tentunya tidak lepas dari dukungan inflasi yang stabil dan dijaga pada sasaran 3,5 persen plus minus satu," tutur dia.

Ekonomi DIY Melesat

Budi mengatakan momentum pertumbuhan ekonomi DIY terus berlanjut sebagaimana tercermin pada kinerja perekonomian DIY yang makin solid. Realisasi pertumbuhan PDRB DIY pada Triwulan IV/2018 mampu menembus angka 7% yang merupakan capaian pertumbuhan tertinggi sejak perubahan tahun dasar PDRB 2010, yaitu sebesar 7,39% (yoy). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,03% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mampu tumbuh 5,25% (yoy).

Selain itu, kinerja perekonomian DIY juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional secara agregat, yang tumbuh sebesar 5,18% (yoy). Pertumbuhan ekonomi DIY yang makin kokoh ini ditopang oleh akselerasi kinerja investasi seiring dengan masifnya pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung di DIY. Selain itu, konsumsi juga tetap terjaga, terutama konsumsi rumah tangga yang mengalami peningkatan dipengaruhi momentum liburan Natal serta banyaknya potongan harga pada akhir tahun.

"Dengan capaian tersebut, maka pertumbuhan ekonomi DIY keseluruhan pada 2018 terakselerasi dengan tumbuh sebesar 6,20 persen [yoy], meningkat signifikan dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 5,26 persen [yoy] dan merupakan pertumbuhan tahunan tertinggi yang pernah dicapai DIY selama 10 tahun terakhir," ujar dia.

Akselerasi kinerja investasi merupakan faktor pendorong utama pertumbuhan PDRB DIY dengan andil (yoy) sebesar 3,61%, lebih tinggi dibanding andil konsumsi rumah tangga yang tercatat sebesar 1,37%. Pertumbuhan kinerja investasi ditopang oleh pembangunan infrastruktur strategis di DIY, antara lain New Yogyakarta International Airport (NYIA), Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), revitalisasi kawasan Malioboro serta pembangunan Underpass Kentungan yang masih terus berlanjut. Masifnya pembangunan proyek infrastruktur tersebut mampu mendorong investasi tumbuh sebesar 11,50% (yoy), atau meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 10,97% (yoy).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi DIY pada Triwulan IV/2018 juga didorong oleh perbaikan permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga meningkat dari 1,93% (yoy) pada Triwulan III/2018 menjadi 2,28% (yoy) pada Triwulan IV/2018. Peningkatan konsumsi rumah tangga didorong oleh pendapatan masyarakat yang membaik, inflasi yang terkendali, dan tingkat keyakinan konsumen yang naik.

Konsumsi LNPRT meningkat dari 2,23% (yoy) pada Triwulan III/2018 menjadi 14,36% (yoy) dipengaruhi peningkatan belanja konsumsi terkait persiapan penyelenggaraan Pemilu 2019. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh kinerja lapangan usaha konstruksi yang memiliki andil terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada 2018 yaitu sebesar 1,25%. Pada triwulan laporan, konstruksi mampu tumbuh mencapai 18,43% (yoy), meningkat signifikan dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 14,87% (yoy).

Kinerja Keuangan Nonbank

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Untung Nugroho mengatakan sejalan dengan kinerja fundamental makroekonomi domestik, stabilitas sektor keuangan wilayah DIY juga dapat terjaga dengan baik.

Untuk perkembangan industri keuangan nonbank, Untung menyebutkan perkembangan asuransi umum dan jiwa penerimaan premi sebesar Rp1,6 triliun atau meningkat sebesar 75,45% (quartal to quartal/qtoq), sedangkan jumlah klaim mencapai Rp594 miliar atau meningkat sebesar 29,17% (qtoq). Perusahaan Asuransi yang memiliki cabang dan kantor pemasaran di wilayah DIY sebanyak 77 Perusahaan.

Untuk aset bersih dana pensiun di DIY sebesar Rp1,1 triliun atau tumbuh 10,76% (yoy), sedangkan secara nasional hanya tumbuh sebesar 2,47% (yoy). Investasi dana pensiun di DIY sebesar Rp1 triliun, mengalami peningkatan sebesar 8,78% (yoy), sedangkan secara nasional hanya tumbuh 1,88% (yoy). Perusahaan dana pensiun di DIY ada 7 perusahaan.

"Piutang perusahaan pembiayaan di DIY sebesar Rp4,3 triliun atau meningkat 8,72 persen melampaui pertumbuhan nasional yang hanya 5,38 persen. Rasio Non-Performing Financing [NPF] mencapai 1,50 persen berada di bawah nasional yang mencapai 2,83 persen," ujar dia.

Ia menyebutkan OJK telah mengeluarkan ketentuan baru terkait pembiayaan yaitu POJK No.35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan tanggal 27 Desember 2018 yang menetapkan perusahaan pembiayaan yang memiliki Tingkat Kesehatan Keuangan dengan kondisi minimum sehat dan mempunyai nilai Rasio NPF Neto untuk pembiayaan kendaraan bermotor lebih rendah atau sama dengan 1% dapat menerapkan ketentuan besaran uang muka pembiayaan kendaraan bermotor kepada debitur paling rendah 0% dari harga jual kendaraan yang bersangkutan. "Ketentuan mengenai uang muka ini diberlakukan sangat selektif," kata dia.

Sementara, untuk modal ventura memiliki aset sebanyak Rp49 miliar, dengan penurunan pertumbuhan sebesar 1,08% sedangkan nasional mencapai pertumbuhan sebesar 5,35%. Di DIY ini hanya ada satu perusahaan nodal ventura yaitu PT Sarana Yogya Ventura.

Kemudian, perkembangan untuk perusahaan teknologi finansial (tekfin) borrower perusahaan tekfin P2P di DIY tercatat sebanyak 46.729 orang dengan nilai Rp262,09 miliar, sedangkan lender tercatat sebanyak 6.047 orang dengan nilai sebesar Rp28,42 miliar. Adapun perusahaan tekfin P2P yang memiliki Kantor Cabang di DIY yaitu PT Danamas.

Kinerja pergadaian swasta yang sudah mendapat izin tercatat sebanyak lima pergadaian, lembaga keuangan mikro (LKM) yang sudah mendapat izin sebanyak lima LKM dengan aset sebesar Rp8,01 miliar dan terdapat tiga bank wakaf mikro (BWM) di antaranya, yaitu berlokasi di Kabupaten Bantul sebanyak satu BWM dan Kabupaten Sleman sebanyak dua BWM.