Pariwisata Bertumbuh, Ini Harapan Pengelola Homestay

Pariwisata Bertumbuh, Ini Harapan Pengelola HomestayDirektur Utama SMF, Ananta Wiyogo (tiga dari kiri) berjabat tangan seusai menandatangani kerja sama pembiayaan homestay di Desa Nglanggeran, Senin (11/2/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
06 April 2019 15:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Usulan Kementrian Pariwisata (Kemenpar) agar homestay dapat dimasukkan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi, disambut baik oleh pelaku wisata di DIY. Meski begitu selain homestay ada hal lain yang penting untuk ditingkatkan, yaitu sumber daya manusia (SDM). 

Ketua Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Nglanggeran, Patuk, Mursidi mengatakan kabar tersebut pihaknya menyambut baik adanya wacana tersebut. Saat ini sendiri pihak pengelola Nglanggeran juga telah menandatangani kerja sama dengan Sarana Multigriya Finansial (SMF) PT Multi Gaya Finansial untuk memberi pinjaman dengan bunga ringan.

“Kemarin sudah dilakukan penandatangan MoU, bulan ini kemungkinan sudah mulai pengajuan. Harapannya ya dapat membantu mengembangkan homestay,” ucap Mursidi, Jumat (5/4).

Diharapkannya dengan itu, ataupun wacana pemerintah tentang KPR homestay dapat membantu meningkatkan fasilitas maupun renovasi homestay yang rusak. Saat ini sendiri setidaknya dikatakan Mursidi sudah ada 87 homestay tetapi baru 40 yang beroperasi. “Penyebabnya karena kadang  saudara datang jadi digunakan keluarganya sendiri,” ucapnya.

Mursidi mengungkapkan selain masalah homestay hal yang perlu ditingkatkan untuk pengembangan pariwisata yaitu kapasitas SDM. Ia menyadari kapasitas SDM ditempatnya perlu ditingkatkan termasuk dalam menyambut wisatawan mancanegara (wisman). 

Pembayaran KPR

Hal senada juga diungkapkan Ketua Desa wisata kaki langit dan ketua koperasi Notowono di Mangunan, Purwo Harsono atau kerap disapa Ipung mengatakan pihaknya menyambut baik adanya kabar KPR terseut, tetapimenurutnya untuk pembayaran seharusnya setelah usaha tersebut beroperasi.

“Dengan KPR itu tentu cukup murah, kami berharap pembayaran setelah usaha dimulai atau operasional. Tidak saat mulai pembangunan,” katanya.

Saat ini, Ipung mengatakan telah ada 16 homestay, ditambah sembilan lagi sedang dirintis. Ia menarget setidaknya ada 100 homestay, karena sangat terlihat homestay tersebut mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Ipung juga menyoroti masalah SDM yang perlu diubah mindset untuk dapat mengembangkan pariwisata. Untuk mewujudkan itu menurutnya masyarakat harus diberi contoh secara langsung.