Dari Hobi Kembangkan Usaha Kerajinan Kayu

Dari Hobi Kembangkan Usaha Kerajinan Kayu Yustinus Arinto menunjukan sejumlah karyanya, Jumat (26/4)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
27 April 2019 10:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Berawal dari hobi lima tahun yang lalu saat masih tinggal di Tangerang Selatan, Yustinus Arinto mulai membuat berbagai kerajinan berbahan kayu dengan berbagai keunikannya.

Semula, Rinto, begitu dia biasa disapa, hanya ingin memanfaatkan halaman belakang rumahnya di Tangerang Selatan. Iseng, dia kemudian membuat kerajinan dengan bahan kayu jati belanda. Kebetulan saat itu sedang musim do it yourself untuk furnitur. Alhasil Rinto pun menjajal untuk membuat mebel di rumah menggunakan sejumlah kayu sisa.

Belajar secara autodidak melalui Youtube, karya pertamanya adalah kitchen set. Lalu dia pun mencoba membuat berbagai furniture lain ataupun kerajinan. Produk-produk itu dipasarkannya melalui dagang elektronik (dagang-el) Qlapa.com. Namun seiring berjalannya waktu, sejumlah kendala ia temui.

“Kendala awalnya adalah tempat. Saya mengerjakan di garasi rumah. Sedang kami tinggal di kompleks, khawatir menganggu [tetangga]. Lalu dioper ke [lokasi] workshop lain. Namun kemudian terkendala soal waktu dan control. Mau cari tempat lain di sana [Tangerang], kendalanya biaya [sewa] tinggi,” ucap Rinto, Jumat (26/4).

Rentetan kendala itu diakuinya sedikit mengganggu. Dia pun terpaksa berhenti berproduksi sementara waktu. Masa vakum ini berubah saat dia kembali ke Jogja sejak tahun lalu. Dia mulai berpikir untuk “menghidupkan”lagi hobi lawasnya. Singkat cerita, sekitar dua bulan lalu, usaha ini resmi dilahirkan kembali di Jogja.

 

Strategi Pemasaran

Meski memiliki harapan baru di lokasi anyar, bapak dua anak ini mengaku bukan berarti saat ini tak memiliki tantangan. Ada saja yang harus dihadapinya kala berbisnis. Misalnya, soal pemasaran. Dagang-el yang selama ini diandalkannya tutup. Artinya bisnis ini harus dirintis mulai dari nol, strategi pemasaran pun harus diubah. Dia tak lagi bertumpu pada marketplace besar, tetapi lebih memanfaatkan media sosial Instagram.

Kelak, Rinto bermimpi ingin membuat marketplace untuk berbagai kerajinan. Tujuannya tentu untuk memudahkan memasarkan produk-produk Rumah Kecil Factory. Selain itu juga untuk mewadahi para maker (perajin) yang ada di Nusantara ini. “Nama usaha ini Rumah Kecil Factory. Istilahnya kayak produksi rumahan, kecil-kecilan tetapi harapannya jadi seperti pabrik,” ucapnya.

Kendati harus memulai lagi dari awal, Rinto percaya usaha yang dirintisnya ini akan bertumbuh. Optimisme ini dipupuknya karena melihat sisi permintaan yang terus bertambah. Di bulan pertama membuka lapak, setidaknya 20 produk yang dibuatnya sudah laris terjual untuk wilayah DIY dan Jakarta. Ke depan, dia yakin pasar kerajinan  kayu ini dapat merambah pasar internasional.

Saat ini, jenis produk kerajinan yang telah diproduksinya seperti tempat tisu, tempat telur, meja, dan berbagai kerajinan lainnya. Harga yang dibanderol juga beragam. Dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. “Produk [handmade] seperti ini sulit ditemui yang sama. Karena setiap produk dibuat berbeda-beda, tidak dibuat masal,” ucapnya.(