Advertisement
IDE BISNIS: Terapkan Pewarna Batik untuk Kain Ombre
Produk Ombre Urban
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Bertahun-tahun mempelajari ilmu seni kriya dan akhirnya menjadi guru seni kriya batik di sebuah SMA swasta, Dian Mutiara, 25, merasa jiwa-jiwa seninya perlu lebih banyak ruang bebas. Akhirnya Dian memutuskan banting stir ke dunia bisnis dengan memanfaatkan beragam pewarna batik untuk membuat pakaian kekinian dengan teknik pewarnaan ombre.
Bagi Dian, mempelajari segala hal tentang batik sudah menjadi makanan sehari-hari di masa sekolah hingga masa-masa dirinya menjadi guru SMA. Sejak sekolah hingga menjadi guru, ia menekuni teknik pewarnaan ombre atau gradasi warna lantas menerapkannya dalam bisnis kecil-kecilan. Mulai dari tas hingga sepatu ombre dijualnya untuk tambahan biaya sekolah.
Advertisement
"Aku mikir, duh, kalau kuliah di [jurusan] seni biaya praktiknya mahal. Aku pengin bikin bisnis yang enggak jauh-jauh dari passion-ku di seni kriya, tetapi juga menjangkau anak muda," kata Dian saat ditemui Harian Jogja di Gerai Ombre Urban, Jalan Suryopranoto No.1A, Pakualaman, Jogja, belum lama ini.
Dian memang terbiasa membatik. Namun jika dia membangun bisnis batik kekinian. Prosesnya akan lama dan harga jualnya kemungkinan akan tinggi dan tidak diminati anak muda.
Maka Dian memutuskan untuk tetap berkreasi dengan pewarna batik dan menggunakan teknik pewarnaan ombre. Dian merintis bisnisnya sembari mengajar di SMA swasta sebagai guru seni batik.
Setiap sore saat selesai mengajar, Dian menghabiskan waktu di rumah produksinya yang terletak di Jalan Wates, Sedayu, Bantul. Berbeda saat masa sekolah, waktu itu Dian mulai membuat kaus, outer dan kemeja ombre yang sampai saat ini masih dijual di gerainya.
Proses membuat baju ombre diawali dengan peracikan berbagai macam pewarna batik untuk menghasilkan warna-warna yang dibutuhkan. Setelah itu, Dian mencelup bagian atas kaus katun atau kemeja linen putih ke dalam pewarna itu.
Dian kemudian menunggu proses penyerapan warna ke dalam kain sembari menunggu warnanya kering. Proses itu diulangi untuk pewarnaan kedua dengan warna yang berbeda. Tujuannya untuk menghasilkan tabrak warna atau gradasi.
"Memang kalau dibayangkan prosesnya itu mudah. Kenyataannya tidak semudah itu, mencelup bahan dan memadukan warna butuh feeling yang kuat supaya menghasilkan karakteristik ombre yang sama di setiap produknya," kata Dian.
Dian mengatakan dalam mencelup warna ke bahan tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan dan tergesa-gesa. Sebab penyerapan warna tak bisa diprediksi, terkadang warna akan menjadi lebih gelap daripada pewarna aslinya jika dijemur terlalu singkat. Warna juga akan menjadi lebih muda jika dijemur terlalu lama. Maka Dian harus menggunakan perhitungan agar perpaduan warna yang diinginkan dapat terwujud dalam setiap produknya.
"Kalau sembarangan, warna bisa rusak. Kalau warna rusak, butuh recolor, dicelup lagi dengan penambahan beberapa bahan. Jelas menambah biaya produksi," kata Dian.
Sempat Kewalahan
Di tengah pekerjaannya sebagai guru seni kriya batik di SMA swasta, Dian sempat kewalahan menangani produksi ketika orderan mulai membludak. Dian pun memutuskan merekrut pekerja untuk membantu proses pewarnaan. Ternyata hasil kerja yang diharapkan jauh berbeda. Dian sadar bahwa hasil ombre sama dengan lukisan. Tiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
"Karakteristik ombreku sama dia berbeda banget, itu bikin produkku tidak konsisten. Memang itu risiko produk homemade. Akhirnya aku putuskan aku mengerjakan sendiri lagi saja," kata Dian.
Mengerjakan seluruh kapasitas produksi seorang diri tidak mudah. Apalagi di sela-sela jadwal mengajarnya, Dian juga harus mempersiapkan produknya memasuki beberapa pameran. Dian pun akhirnya memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya sebagai guru seni kriya dan fokus pada bisnisnya.
Keputusan Dian fokus pada bisnisnya ternyata membuahkan hasil. Kini Dian bisa meluangkan waktu empat hari sekali untuk memproduksi 30 potong produk pakaian ombre.
"Sekarang setiap bulannya saya bisa menjual 300 pieces. Harga produk saya sesuai sama anak muda, range-nya mulai dari Rp85.000 hingga Rp100.000," kata Dian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Jogja Diserbu Wisatawan Pengeluaran Sekali Jalan Tembus Jutaan
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang
- Ekspor Batu Bara Kena Pungutan Baru, Berlaku Mulai 1 April 2026
- Rupiah Menguat Tipis Saat Pasar Menunggu Sinyal Damai Iran
- Pemerintah Berupaya BBM Subsidi Tetap Aman Saat Dunia Bergejolak
- Mulai 1 April, Kuota BBM Malaysia Dipotong
- Rupiah Terkikis di Awal Perdagangan Pagi Ini
- Harga Emas Antam Tergelincir Tajam Pagi Ini Turun Puluhan Ribu
Advertisement
Advertisement







