Kinerja Ekonomi DIY Makin Solid, Ini Buktinya

Kinerja Ekonomi DIY Makin Solid, Ini BuktinyaIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
13 Mei 2019 22:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Momentum pertumbuhan ekonomi DIY terus berlanjut sebagaimana tercermin pada kinerja perekonomian DIY yang makin solid. Realisasi pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY pada Triwulan I/2019 melanjutkan capaian pertumbuhan tertinggi sejak perubahan tahun dasar PDRB 2010, yaitu sebesar 7,50% (year on year/yoy).

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan menjelaskan angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,39% (yoy) dan  periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mampu tumbuh 5,41% (yoy). Selain itu, kinerja perekonomian DIY juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional ataupun Jawa secara agregat, yang tumbuh sebesar 5,07% (yoy) dan 5,66% (yoy).

"Pertumbuhan ekonomi DIY sebagian besar didorong oleh konsumsi swasta dengan proporsi mencapai 68 persen. Selain itu, investasi dan belanja pemerintah juga turut memberikan kontribusi yang besar dalam mendorong perekonomian DIY," jelas dia ketika ditemui di Gedung Heritage KPw BI DIY, Rabu (8/5).

 Ia mengungkapkan meskipun secara umum konsumsi rumah tangga (RT) masih mendominasi struktur perekonomian DIY, andil pertumbuhan terbesar untuk pertumbuhan PDRB DIY sejak Triwulan III/2018 bersumber dari investasi. Hal ini seiring dengan maraknya pembangunan proyek infrastruktur strategis yang mendorong pesatnya pertumbuhan kinerja investasi di DIY. Berdasarkan data historis, perkembangan investasi cenderung berlawanan arah dengan pergerakan konsumsi RT. Pergerakan itu mengimplikasikan dampak peningkatan investasi tidak langsung ditransmisikan kepada peningkatan konsumsi RT pada waktu yang bersamaan tetapi baru dirasakan beberapa periode ke depan.

 

Konsumsi RT Stagnan

Stagnansi pertumbuhan konsumsi RT terjadi pada skala nasional sejak lima tahun terakhir dengan konsumsi RT hanya mampu tumbuh pada kisaran 5%. Sementara di DIY, pertumbuhan konsumsi RT pada tahun 2018 tercatat 3,95% (yoy), melambat dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 5,22% (yoy). Sama halnya dengan nasional, perlambatan terutama berasal dari perlambatan pertumbuhan konsumsi makanan dan minuman (di luar restoran) yang mendominasi struktur konsumsi masyarakat DIY dengan pangsa mencapai 41,5% pada 2018, lebih tinggi dibanding Nasional sebesar 39,2%.

Sementara itu, secara umum, perkembangan inflasi di DIY relatif terkendali dengan selalu tercatat di bawah target nasional dengan tren yang menurun yaitu tercatat 2,61% (yoy) pada Triwulan I/2019. Kebijakan yang fokus untuk menjaga stabilitas harga terus diupayakan untuk menjaga permintaan domestik agar tetap tumbuh.

Meskipun dari sisi demand terindikasi melambat, secara umum kinerja lapangan usaha utama di DIY masih tumbuh positif yang mengimplikasikan permintaan domestik masih baik, terutama pada sektor jasa. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran (shifting) pola belanja masyarakat yang sebelumnya belanja barang menjadi ke arah jasa untuk leisure, termasuk belanja daring sehingga sektor jasa tersebut mampu tumbuh melebihi 7% (yoy) pada akhir tahun.

Selain itu, kinerja jasa keuangan yang mampu tumbuh signifikan mencapai 9,59% (yoy) pada Triwulan III/2018, melonjak dibanding rerata tiga tahun terakhir yang tercatat hanya sebesar 4,72% (yoy) yang mengindikasikan perbaikan kinerja jasa keuangan, termasuk perbankan (pangsa 76,8% dari jasa keuangan).