BM INDOMARET YOGYAKARTA : Jeli Membaca Karakter dan Kebutuhan Pasar

BM INDOMARET YOGYAKARTA : Jeli Membaca Karakter dan Kebutuhan PasarBranch Manager Indomaret Yogyakarta Suharsan/ Harian Jogja - Mediani Dyah Natalia
21 Mei 2019 10:22 WIB Mediani Dyah Natalia Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan dunia usaha ada dalam berbagai lini bisnis, termasuk toko berjejaringan. Bahkan tingkat persaingan kini tak hanya dari pemain lokal, tetapi juga pesaing asing. Branch Manager Indomaret Yogyakarta Suharsan menyatakan Indomaret memiliki strategi menghadapi hal ini. Namun jeli membaca karakteristik pasar dan kesempatan juga perlu dikedepankan. Bagaimana Indomaret mampu mempertahankan pasar? 

Saat krisis moneter merebak pada 1998 dan 2008, UMKM di Indonesia merupakan lini yang tangguh menghadapi perekonomian global yang lesu. Situasi ini jelas menggambarkan bisnis yang kecil tak dapat dianggap remeh. Di era ini, sudah selayaknya setiap pelaku ekonomi bergandengan tangan untuk memperbesar pasar, bukan memperebutkannya.

Karena itu, Indomaret berusaha menempatkan UMKM sebagai mitra strategis untuk dapat berkembang bersama. Guna mencapai hal tersebut, Indomaret berusaha mengawal sumber daya manusia (SDM) yang ada menjadi pelaku UMKM yang mumpuni. “Kami berusaha mendampingi UMKM agar dapat mengolah produk sehingga bisa masuk ke pasaran,” kata dia kepada Harian Jogja saat ditemui di sela-sela Seminar dan Gathering UMKM yang diikuti sebanyak 150 peserta, di Hotel Neo Awana, Jogja, Selasa (30/4).

Salah satu upaya yang ditempuh Indomaret untuk memberdayakan UMKM ialah dengan merilis Sewa Teras. Dengan program ini, Indomaret memberikan kesempatan yang luas bagi UMKM memanfaatkan teras atau lahan kosong di depan toko berjejaring. Karena berhadapan secara langsung, Indomaret dapat secara intensif memberikan pendampingan. Contohnya dengan memberikan saran mengenai penyajian produk yang higienis hingga sesuai kemauan pasar. 

Karakteristik Berbeda

Suharsan mengaku baru saja mendapat amanat menakhodai area Yogyakarta. Menurutnya, Daerah Istimewa ini memiliki karakter yang berbeda dari Surabaya, Jawa Timur, wilayah yang dipimpinnya selama beberapa waktu. Pegawai misalnya. Yogyakarta dan Surabaya memiliki karakteristik yang tak sama. “Karyawan sebenarnya sama. Karena karyawan di manapun memiliki tugas yang sama sesuai dengan sistem kerja kami, tetapi yang berbeda itu dari sisi budaya. Jawa Timur lebih greng, kalau di sini [Yogyakarta] lebih halus,” ujarnya.

Kendati demikian, perbedaan tersebut bukanlah halangan. Dengan membaca karakter dan tahu bagaimana menepatkan diri, tentu hal tersebut dapat dilampau.

Dari sisi konsumen, dia menilai kedua wilayah ini juga memiliki perbedaan signifikan. Surabaya merupakan wilayah perkotaan dengan masyarakat yang konsumtif dan daya beli yang lumayan kuat. Sedangkan Yogyakarta, mayoritas adalah mahasiswa atau generasi muda. Alhasil pendekatan yang dipilih di antara kedua wilayah ini tentu berbeda. “Salah satu cara kami menjawab kebutuhan segmen generasi muda adalah Indomaret Plus. Kami sudah memiliki beberapa titik di Yogyakarta. Mengenai penambahan, jika posisi [lokasi] pas dan ketentuan lain dapat dipenuhi, tentu bisa ditambahkan. Namun jika tidak memungkinkan, kami tidak akan memaksakan,” ujarnya.

Salah satu tantangan sekaligus peluang yang kini ada di depan mata bagi setiap pihak adalah keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA), di Kulonprogo. Sebagai gerbang Yogyakarta di tingkat nasional dan internasional, tentu menjadi bagian dari YIA adalah pilihan terbaik. “Ada ketentuan dari teritorial yang harus dipenuhi. Kami sendiri melihat jika memang ada peluang yang terbuka, kami akan mencoba,” katanya.

Apalagi, Indomaret mendapat kesempatan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk membina UMKM lokal. Tentu hal ini menjadi nilai lebih karena Indomaret berusaha mengangkat kearifan lokal yang ada di Yogyakarta. Apalagi Yogyakarta merupakan daerah yang kental dengan nuansa budaya sehingga sangat kuat untuk dipasarkan secara luas.

 

Persaingan Global

Suharsan menuturkan pemain toko berjejaring tidak hanya dari tingkat lokal. Bahkan, merek-merek asing pun tertarik menjajal peruntungan di Indonesia. Walaupun, ada pelaku asing yang sebelumnya pernah gagal bertahan di Indonesia.

Kendati demikian, dia mengaku sama sekali tak khawatir. Bahkan Indomaret selalu berusaha menyiapkan strategi selangkah lebih maju, yakni dengan menerapkan program bisnis secara online dan offline.

“Kami menjual kekuatan dari produk lokal itu sendiri. Misal kopi. Karena itu kami memiliki Point Cafe Indomaret untuk memenuhi kebutuhan pasar ini,” ucapnya.

Di era digital ini, Suharsan mengklaim juga berusaha memperkuat strategi secara daring. Apalagi belanja online kini mulai menjadi gaya hidup atau tren yang harus diperhatikan. Karena itu, Indomaret memiliki KlikIndomaret dengan tagline Easy & Safe Online Shopping (Berbelanja dengan Mudah dan Aman).

Tak hanya itu, tegasnya, Indomaret juga berusaha menjalankan mandate dari pemerintah untuk memperkuat penggunaan uang elektronik atau e-money.

“Dukungan tersebut dilakukan Indomaret melalui aplikasi i-saku sebagai alat bayar secara online yang hadir dengan beragam kemudahan. Jadi soal persaingan di tingkat global, kami tidak takut karena sudah mempersiapkan semuanya dengan matang,” ucap dia.