WALKING-WALKING: Fasilitasi Wisatawan Difabel untuk Menyelam

WALKING-WALKING: Fasilitasi Wisatawan Difabel untuk MenyelamDirector Biro Wisata Walking Walking, Meyra Marianti - Ist
25 Mei 2019 10:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kemajuan teknologi menjadikan wisatawan kian mudah menyambangi objek wisata. Biro wisata mesti mengembangkan ide dan berpikir kreatif agar tidak gulung tikar ditinggal pelanggan.

Meyra Marianti, Director Biro Wisata Walking Walking sempat kaget saat mendapatkan job wisata. Ketika itu, wisatawan yang akan dia antar adalah kaum difabel.

Tak ingin mengecewakan klien, Meyra mencoba memberikan service terbaiknya. Bukannya tanpa kendala, bagi Meyra, untuk melayani kliennya itu. Sejumlah pelaku wisata yang selama ini menjadi mitra Walking-Walking banyak yang resisten.

“Dulu itu pas mau ngantar orang berwisata dan salah satunya difabel. Nah pas ngehubungi orang di lokasi wisata itu dijawab repot [jika ada orang difabel]. Kaget juga saya, tetapi itu yang memicu saya untuk mengembangkan pelayanan untuk difabel,” ujar Meyra, beberapa waktu lalu.

Melayani wisatawan difabel memang perlu persiapan ekstra. Sejumlah fasilitas pun harus disiapkan oleh penyedia jasa wisata itu seperti kursi roda hingga mobil khusus untuk menuju lokasi wisata. Meyra tak kurang akal. Berbekal jaringan yang dia miliki, dia menghubungi sejumlah pihak yang selama ini sudah peduli dengan kaum difabel.

Salah satunya dengan Pusat Rehabilitasi Yakkum yang memiliki kendaraan khusus untuk penyandang disabilitas. Mulai dari seatbelt khusus, hingga dilengkapi sirine jika ada keadaan darurat dari penumpang.

Selain fasilitas, sumber daya manusia (SDM) juga perlu dipersiapkan secara khusus. Kesabaran, perhatian, ketelitian dan kecakapan khusus untuk berkomunikasi menjadi kunci. Walking Walking pun perlu menggandeng para profesional untuk mendukung trip wisata yang dilakukan.

Meyra menambahkan sampai saat ini Walking Walking menyediakan sejumlah paket wisata untuk penyandang disabilitas, baik paket wisata darat maupun underwater atau yang disebut diveable. Harga yang dipatok untuk wisata itu mulai dari Rp1,5 juta. Paket underwater sementara dilakukan di Tulamben, Bali.  “Kami memilih tempat itu menyesuaiakan kondisi laut yang tenang dan hangat, untuk menyesuaikan keamanan dan kenyamanan tanpa mengambaikan spot khas birunya lautan yang indah,” ujar Meyra. 

Wisatawan penyandang disabilitas yang melakukan diving di Tulamben, Bali, beberapa waktu lalu./Ist

Ke depan, kata Meyra, perusahaannya akan menawarkan spot-spot indah lainnya, seperti di Karimun Jawa dan Bunaken. Untuk mencari orang yang bisa diving dapat mengajari penyandang disabilitas bukan perkara mudah. Perlu orang yang telah memiliki sertifikat khusus, sehingga keselamatan jelas terjamin. “Perlu penyesuaian-penyesuaian, pada penyandang disabilitas. Mulai dari alat bantu bernafas, hingga pemberat dikaki agar posisi kaki tetap berada di bawah pada kondisi penyandang disabilitas tertentu,” katanya.

Tidak hanya objek wisata underwater, spot darat juga ditawarkan seperti di Jogja, Malang, hingga luar negeri seperti di Kuala Lumpur, Malaysia, Korea dan Jepang. Meyra berkisah penyandang disabilitas yang pernah menggunakan jasa Walking Walking beraga dari karena kecelakaan, hingga korban perang dari luar negeri.

Meski sudah berpengalaman menangani wisatawan difabel, Meyra tak jarang masih mendapatkan pertanyaan tentang jaminan keselamatan. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk terus mengkampanyekan wisata bagi penyandang disabilitas. “Kadang yang ikut kita itu gak percaya bisa ikut wisata itu, sampai menangis terharu,” katanya.

Menurut Meyra perlu dukungan semua pihak untuk mewujudkan tempat wisata yang ramah bagi wisatawan difabel. Meyra pun merasa tidak pernah ada duka dalam menjalani profesinya ini untuk turut mengkampanyekan wisata bagi disabilitas. “Saya banyak sukanya, karena banyak orang yang bahagia. Dukanya enggak ada. Lebih ke saya yang harus lebih banyak belajar lagi supaya bisa lebih menyesuaikan dari segala aspek seperti armada, peralatan dan lain sebagainya. Agar mereka lebih nyaman,” ucapnya.

Selain misi sosial, melayani wisatawan difabel bisa menjadi bisnis baru bagi biro wisata di tengah sengitnya persaingan di industri pariwisata.