Gegap Gempita Pemilu Tak Pengaruhi Investasi

Gegap Gempita Pemilu Tak Pengaruhi InvestasiSuasana sidang perdana Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (14/6/2019). - Antara/Hafidz Mubarak A
17 Juni 2019 02:47 WIB Herlambang Jati Kusumo & Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Proses pemilu yang mulai masuk masang sidang gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) dinilai tidak akan begitu berpengaruh banyak pada iklim investasi.

“Tidak banyak pengaruhnya kalau kita lihat, masyarakat semakin cerdas. Mungkin spekulan-spekulan saja,” ucap Pengamat ekonomi yang juga Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi Hamid, Sabtu (15/6/2019).

Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi selama proses pesta demokrasi ini, tidak ada kenaikan yang signifikan atau turun tajam. Dapat dikatakan kondisi perekonomian cenderung stabil, tidak begitu terpengaruh pemilu.

Dapat dilihat data Badan Pusat Stasistik (BPS) Ekonomi Indonesia triwulan I/2019 terhadap triwulan /2018 tumbuh 5,07% (year on year/yoy), meningkat dibanding capaian triwulan I/2018 yang sebesar 5,06%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa perusahaan sebesar 10,36%. Dari sisi pengeluaran dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga tumbuh 16,93%.

Sementara perekonomian DIY triwulan I/2019 terhadap triwulan I/2018 tumbuh 7,50% (yoy) lebih tinggi dibanding pertumbuhan periode yang sama di 2018 sebesar 5,41%. Bila dibanding triwulan IV-2018 perekonomian DIY tumbuh 0,49% (quartal to quartal/qtq).

Stabilitas keamanan memang menjadi pertimbangan investor. Namun riak-riak itu tidak pengaruh sejauh ini. “Mungkin pas ada gejolak itu rupiah turun tetapi naik lagi. Saya tdak melihat ancaman situasi pemilu dan prosesnya sampai sekarang nungkin sampai keputusan besok,” ucapnya.

Di kalangan masyarakat ia juga tidak melihat masyarakat sangat resah. Hanya memang di media sosial atau elit politik yang menyampaikan seakan-akan ada gerakan dan semacamnya.

Pembangunan YIA

Edy melihat di DIY sendiri pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. “Akan mengerek pertumbuhan ekonomi di DIY,” ucapnya.

Mungkin tidak segera investor itu akan masuk, tetapi sangat potensial. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan untuk menarik investor itu yaitu infrastruktur penunjang saat ini, aksesbilitas sangat penting.

Sebelumnya General Manager Angkasa Pura 1, Agus Pandu Purnama mengatakan untuk YIA saat ini semakin diminati oleh penumpang. Dikatakannya setelah masa libur Lebaran, pembangunan YIA juga akan kembali dikebut. “Target Oktober siap full operasi, tetapi kami punya space hingga akhir Desember,” katanya.

Pasar Modal

Kondisi investasi pasar modal baik DIY maupun nasional semakin bertumbuh dan memiliki sentimen positif setelah ada keputusan pemenang Pilpres 2019. Jumlah investor di DIY pun meningkat terus.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY Irfan Noor Riza mengatakan investor asing menunjukkan animo luar biasa untuk masuk ke pasar modal. Ia mengungkapkan meski masih ada isu politik terkait sidang MK, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh pada iklim investasi. "Sekarang investor pasar modal sangat dewasa dan enggak terlalu terbawa arus. Baik pilkada maupun pilpres enggak begitu terpengaruh. Riak kecil memang ada tetapi enggak signifikan," kata dia.

Ia menyebutkan untuk jumlah investor di DIY hingga April 2019, tercatat 39.810 investor. Ia meyakini dengan tambahan investor yang masuk pada Mei dan Juni 2019, jumlah investor di DIY mencapai 40.000. Ia yakin, jumlah investor di DIY akan terus bertumbuh seiring sentimen positif dari sisi politik dan sosial.

"Investor melihat Indonesia sangat strategis dan masih kondusif untuk investasi di pasar modal. Dan sekarang makin banyak masyarakat yang melek investasi di pasar modal sehingga investas bodong bisa dicegah," papar dia.

Kemajuan ini tak lepas dari upaya yang selalu dilakukan dan program yang disediakan BEI. Program Yuk Nabung Saham terus digalakkan sehingga semakin luas imbasnya. Kesadaran masyarakat akan menabung saham pun semakin tinggi.

"Sekarang ini, berkat dukungan KSEI, untuk pembukaan rekening efek bisa dipercepat, satu jam dua jam jadi. Hanya dengan Rp100.000 juga sudah bisa buka rekening efek," kata dia.