Perang Dagang AS-China Ternyata Menguntungkan Jawa Tengah

Perang Dagang AS-China Ternyata Menguntungkan Jawa TengahPerajin miniatur kapal membuat kapal berbahan bambu di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (3/7/2019). - Antara/Harviyan Perdana Putra
07 Juli 2019 19:57 WIB Hafiyyan Ekbis Share :

Harianjogja.com, SEMARANG — Perang dagang Amerika Serikat dan China ternyata memberikan keuntungan bagi arus investasi di Jawa Tengah.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Ratna Kawuri menyampaikan, perang dagang Amerika Serikat dan China membuat barang-barang dari Negeri Panda terhambat masuk ke AS.

Oleh karena itu, agar kinerja ekspornya tidak terganggu, China pun bersiasat dengan menggelontorkan investasinya ke Indonesia, salah satunya Jateng. Hal ini menyebabkan Jateng tidak lagi hanya berkompetisi dengan Jawa Barat dan Jawa Timur, tetapi juga Vietnam.

“Kompetisi kita kini sudah sampai dengan Vietnam, bagaimana caranya menarik investor masuk. Tantangannya ialah menjaga iklim investasi agar kondusif,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat (5/7/2019).

Faktor lain yang mendorong arus investasi di Jateng ialah tren relokasi atau pengembangan pabrik besar yang berlangsung sejak 2015 masih terjadi. Jadi, pabrik skala kakap di wilayah Barat, seperti Banten, Bekasi, dan Karawang, memilih meluaskan usahanya di Jawa Tengah.

“Pertimbangan pemindahan atau perluasan usaha ke Jateng ialah nilai upah tenaga kerja yang kompetitif dan ketersediaan lahan yang besar,” ujarnya.

Secara garis besar, sambung Ratna, iklim investasi di Jateng terbilang baik. Pada kuartal I/2019, realisasi investasi Jateng mencapai Rp21,42 triliun, dengan perincian Penanaman Modal Asing Rp11,65 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp9,76 triliun.

Hasil itu membuat Jateng berada di posisi ketiga terbesar dari realisasi investasi dibandingkan provinsi lainnya, di bawah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sampai akhir 2019, diharapkan realisasi investasi dapat mencapai Rp56 triliun, sesuai target yang dicanangkan Gubernur Ganjar Pranowo.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia