CV AGRINDO : Sukses Membentuk Usaha Bersama Suami

CV AGRINDO : Sukses Membentuk Usaha Bersama SuamiOwner CV Agrindo, Intan Mutia Swastika./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
06 Agustus 2019 08:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menjalani perjalanan panjang dalam kehidupan, berbagai tantangan dihadapi mengiringi kehidupan Owner CV Agrindo, Intan Mutia Swastika.

Intan mengaku masih ingat betul awal bekerja. Kala itu dia masih duduk di bangku SMA. Pekerjaan pertama yang dia lakoni yakni membantu kakak berjualan dengan mengambil barang di Pasar Beringharjo, Jogja. Pengalaman mendapatkan uang dari hasil keringatnya sendiri ini benar-benar tertanam di benaknya. Dari situ juga dia mulai belajar untuk bekerja dan berbisnis.

Guna menambah pundi-pundi rupiah, saat SMA, Intan memberanikan diri menjadi instruktur senam. Perjalanannya hingga menjadi seorang instruktur senam bermula saat dia mengikuti latihan senam. Ketertarikannya yang besar membuat instrukturnya kala itu mengajak dia menjadi asisten instruktur. Dia pun mengamini ajakan itu dan mulai mendalami dunia senam. Lama kelamaan predikat asisten itu luntur dan Intan sepenuhnya menjadi seorang instruktur. Lewat pekerjaan ini, dia berhasil membeli sebuah tape. Meski terkesan sederhana, dia mengaku pencapaian tersebut menjadi kebanggannya.

Saat ditanya mengenai alasannya memilih bekerja meski masih belia, Intan mengaku memang terbiasa hidup mandiri. Apalagi ibu yang dikasihinya telah meninggal saat ia masih SMP. Hanya ayahnya yang berusaha menghidupi keluarga dengan berjualan buku. Karena itu, Intan bertekad mengurangi beban sang ayah dengan berusaha memenuhi kebutuhannya meski dalam jumlah kecil.

Kemandirian Intan berlanjut saat  kuliah. Kali ini dunia seni hiburan yang membuatnya tertarik. Dari sekian jenis seni, dia membuat kelompok dance bersama teman-temannya. Pengalamannya tampil dari panggung ke panggung membuatnya dapat mengumpulkan uang sehingga dapat membiayai kebutuhan kuliah secara mandiri selain dari beasiswa.

Ketika gelar sarjana berhasil disematkan di nama belakangnya, Intan diperhadapkan dengan tiga pilihan. Melanjutkan kuliah, bekerja atau menikah. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, lulusan Sastra Indonesia UGM ini memutuskan untuk bekerja dan merantau di Bali sebagai marketing officer.

Namun, ujar dia, profesi itu hanya ditekuninya beberapa tahun. Atas nasihat kakak, dia kembali ke Jogja. Setelah itu perempuan kelahiran Jogja, 20 Oktober 1978 itu punmelanjutkan kuliahnya di Magister Manajemen UGM. “Ada dilema juga saya kuliah tetapi enggak ada uang, bisa masuk dibantu kakak. Enggak mau memberatkan orangtua. Saya kemudian bekerja lagi,” kata Intan, Senin (5/8).

 

Bersama Suami

Seiring berjalannya waktu pada 2003 ia dipertemukan seorang pria yang menjadi rekan kerjanya. Dari situ menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia intens berkomunikasi dan mulai merintis usaha bersama.

Pada awalnya Intan dan rekan merintis usaha berjualan bahan kimia. Sebab latar belakang pendidikan rekannya adalah Kimia. Akhirnya mereka berkolaborasi, Intan fokus pada pemasaran dan temannya mengurusi bahan baku di produksi.

Namun, pada awal usaha itu tidak begitu baik. Intan merasa kurang mampu mengikuti karena tidak memiliki basik di ilmu kimia. Singkat cerita, dia bertukar pikiran dengan rekan kerja mengenai bisnis yang pernah dijajal. Dari situ dia baru mengetahui bisnis natadecoco cukup menjanjikan tetapi sayang temannya tak menghasilkan cuan yang baik dari usaha tersebut. “Prinsip saya ketika saya enggak bisa, saya harus bisa. Kalau saya ingin bisa, saya harus belajar, berarti kalau saya pengin tahu, saya harus mencari tahu,” ujarnya.

Akhirnya ia dan rekan kerja kembali menekuni usaha natadecoco. Kali ini, Intan memperhitungkan kebutuhan pasar secara lebih matang dan meningkatkan kualitas natadecoco yang dibuat.

Agar lebih fokus pada ruang usaha ini, bekas kandang ayam diubah menjadi tempat produksi natadecoco yang representatif. Sedikit demi sedikit bisnis ini memperlihatkan “wajahnya” yang manis. Guna memperbesar ruang usahanya, dia pun menjual sebuah motor untuk modal usaha. Peningkatan produksi ini yang membuat orang-orang mengenal bisnis hingga dia dapat menyetor natadecoco ke Garudafood dengan standar yang sudah ditetapkan perusahaan.

Pada 2006 cobaan kembali dihadapi. Di saat ia dan rekan usaha berusaha meningkatkan kualitas produksi, gempa terjadi. Tempat produksinya mengalami kerusakan. Tak ingin terpuruk terlalu lama, keduanya berusaha bangkit setelah mendapat suntikan modal. Tak hanya itu, dia dan rekan kerjanya pun memutuskan untuk menikah.

Setelah bertahun-tahun merintis usaha ini, kini Intan dan suami dapat memetik hikmah yang selama ini telah ditabur. Usahanya yang keras dan ulet membuat pasangan ini tidak hanya dapat memproduksi natadecoco untuk Garuda Food tetapi juga mengembangkan usaha plastik, minuman, kosmetik dan usaha lainnya. “Pertemuan antara saya dan suami itu luar biasa. Sempat fluktuatif juga,” ucapnya.    

Intan mengatakan kesuksesan adalah proses. Saat sukses telah digapai itupun bukan menjadi titik akhir. “Ya Man Jadda WaJada, kalau mau berusaha pasti bisa. Ini juga tidak lepas dari doa, usaha, dan restu orang tua. Kami bisa seperti ini karena Allah, jatah dari Allah, kembali ke Allah, untuk Allah,” ujarnya.

Ia berharap kesuksesan ini tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga berdampak pada orang lain. Sebab dia dan suami berpandangan jika bekerja merupakan bagian dari ibadah sehingga keduanya ingin selalu memberikan yang terbaik.