Pariwisata Terpadu Kunci Kemajuan Dunia Wisata

Pariwisata Terpadu Kunci Kemajuan Dunia WisataDirektur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB Bisma Jatmika (paling kanan) dan Direktur Utama BOB Indah Juanita (dua kanan) beserta direksi BOB saat memberikan penjelasan dalam rapat di zona otoritatif BOB belum lama ini.
12 Agustus 2019 06:17 WIB Media Digital Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Keseriusan Badan Otorita Borobudur (BOB) mendorong perkembangan dunia pariwisata semakin jelas. Salah satunya dengan mendorong terbentuknya integrated tourism masterplan. 

Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB Bisma Jatmika mengungkapkan saat ini pihaknya tengah menyusun integrated tourism masterplan bersama konsultan Bank Dunia, konsultan dunia, dan dibantu UGM. Dari susunan rencana itu tersebut ada beberapa rekomendasi dari konsultan.

"Ada beberapa hal yang memang bisa kejar duluan sebelum laporan selesai," kata dia dalam rilis, Minggu (11/8).

Ia mencontohkan saat ini Kota Lama Semarang, Jawa Tengah sedang berusaha menjadi world heritage city dan Gunungkidul, DIY sedang mempersiapkan masterplan Gunungsewu yang dibantu Kementerian Pariwisata. "Kami bisa dorong ke sana. Sambil dengan kawan-kawan tour and travel, kita ambil yang bisa jadi produk cepat," terang dia.

Misalnya, ketika wisatawan ingin ambil paket menginap tiga hari dua malam dengan tema heritage, mereka bisa diarahkan ke Borobudur, Prambanan, dan Kota Lama Semarang. "Mereka bisa lihat candi Buddha terbesar di dunia, kemudian ke candi Hindu terbesar, lalu kita ajak kuliner ke Solo dan berakhir di Kota Lama Semarang menikmati bangunan kolonial," tutur dia.

Menurutnya, hal itulah yang tengah diupayakan sehingga Kementerian Pariwisata dan dunia industri pariwisata bisa menjual produk wisata itu dengan cepat ke luar negeri. Momentum ini, kata dia, harus bisa ditangkap.

"Industri pariwisata kita itu demand creation, bukan demand driven loh. Misalnya, di dunia ini ada dua miliar turis, dari yang biasanya kita ambil 15 juta, sekarang kita harus bisa ambil 20 juta. Jumlahnya kan itu-itu saja. Kita harus kreatif dan lebih hebat dari yang lain," terang dia.

Selain itu, sangat penting memikirkan dengan serius positioning Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar) terhadap destinasi internasional di tingkat regional ASEAN, Asia, dan dunia. "Positioning seperti apa yang diinginkan? Semoga perencanaan ini Oktober selesai. Sebelum itu selesai, kita bisa bikin produk yang siap jual," terang dia.

Mengenai positioning, jika Joglosemar memosisikan lebih tinggi dari destinasi internasional, hal itu harus diimbangi dengan infrastruktur, akomodasi, fasilitas meeting, incentive, convention, exhibition (MICE) dan hotel yang memadai. Semua aspek harus siap.

Menurutnya, saat ini sudah ada potensi tetapi belum terintegrasi termasuk perencanaannya. Integrated tourism masterplan bisa menjadi pegangan semua pemangku kepentingan yang mengambil kebijakan dan strategi yang bergerak di bidang bisnis, masyarakat, komunitas, hingga akademisi.

"Semuanya nanti bisa memakai dokumen itu sebagai payung perencanaan. Ke depan perlu didetailkan lagi," terang dia.