Realisasi Pemangkasan Indukan Dinilai Sekadar Wacana

Realisasi Pemangkasan Indukan Dinilai Sekadar WacanaIlustrasi. - Bisnis/Endang Muchtar
13 Agustus 2019 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo & Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peternak ayam broiler menyayangkan realisasi pemangkasan indukan ayam belum terealisasi. Wacana tersebut dinilai sekedar wacana. 

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jateng-DIY, Parjuni mengungkapkan pada momen Iduladha ini harga ayam broiler di tingkat peternak mulai turun. Ia mengkhawatirkan bulan depan akan kembali turun. “Daya beli turun biasanya masuk Suro. Ditambah realisasi pemangkasan induk seperti hanya wacana. Kita belum ada info, padahal sudah diputuskan,” katanya, Senin (12/8).

Diungkapkannya, pemangkasan day old chick (DOC) yang hanya dua pekan dengan menarik 30% telur tetas berumur 19 hari dari mesin tetas, dinilai Parjuni juga tidak begitu pengaruh untuk mengangkat harga ayam di tingkat peternak. “Pemangkasan cuma di Jawa Tengah. Seharusnya serentak di Jawa Timur, Jawa Barat dan daerah lainnya,” katanya.

Dia mendorong agar ada pemisahan segmen pasar antara peternak yang masih kecil dengan perusahaan yang sudah besar. Menurutnya, seringkali peternak besar mengambil pasar dari peternak kecil sehingga peternak kecil tidak mampu mengimbangi.

Parjuni mengungkapkan pada Rabu (14/8) direncanakan ada rapat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Ia mengungkapkan akan menyampaikan berbagai permasalahan yang dialami peternak tersebut.

Pada momen pasca-Iduladha harga ayam di tingkat peternak berada di bawah harga pokok produksi (HPP) Rp18.000/ kilogram (kg). Saat ini realisasinya berada dikisaran Rp16.000/kg-Rp16.500/kg.

Kepala Bidang Perdagangan dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yanto Aprianto mengatakan untuk harga ayam broiler di pasaran kisaran Rp33.600/kg. “Secara umum setelah Iduladha ini harga masih bahan pokok stabil. Untuk telur turun menjadi Rp21.600/kg,” katanya.

 

Pasokan Aman

Disperindag DIY melihat pasokan bahan pangan selama Iduladha stabil dan aman. Yanto mengatakan harga bahan pangan juga stabil. Namun, ia mengakui harga komoditas cabai masih dalam posisi tinggi. "Tetapi, ini bukan hanya di DIY, tetapi menyeluruh," kata dia.

Ia menjelaskan harga rata-rata cabai merah keriting Rp64.667 per kg, cabai merah besar Rp58.667 per kg, cabai rawit hijau Rp54.333 per kg, dan cabai rawit merah Rp75.333 per kg.

Untuk daging sapi, harga pun masih stabil tinggi. Daging sapi paha belakang Rp120.000 per kg, daging sapi paha depan Rp118.333 per kg, daging sapi has luar Rp116.667 per kg, daging sapi has dalam Rp111.667 per kg, daging sapi sandung lamur Rp90.000 per kg, dan daging sapi tetelan Rp75.000 per kg.

"Untuk daging ayam broiler Rp33.667 per kg dan telur ayam negeri Rp21.667 per kg," tutur dia.

Pengawasan terhadap harga bahan pangan terus dilakukan. Disperindag DIY pun akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga kestabilan harga termasuk untuk mengantisipasi kemarau panjang khususnya terhadap komoditas beras.

Ia mengungkapkan pada pekan ini Disperindag DIY akan mengadakan operasi pasar murni berupa komoditas beras di seluruh DIY. Sebanyak 36 ton beras disiapkan untuk operasi pasar ini. Hal ini dilakukan untuk antisipasi kemarau panjang.

"Rencana operasi khusus khusus beras. Sementara, untuk komoditas lainnya seperti minyak, gula, dan gandum sebagai pendukung dengan harga murah. Sasaran keluarga miskin dan daerah kekeringan," kata dia.

Kepala Biro Administrasi, Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti mengungkapkan Pemda DIY perlu intervensi dalam menjaga kestabilan pasokan dan harga bahan pangan volatile food. "Produksi cabai lumayan banyak di DIY dan dijualnya ke luar DIY. Dijualnya pakai lelang dan enggak prioritaskan jual di lokal," kata dia.

Menurutnya, Pemda DIY perlu turun tangan untuk ketahanan pangan lokal. Pemda perlu mengidentifikasi persoalan di lapangan. "Kita tunggu data dari kabupaten dan kota berkaitan dengan hasil pertanian pangan itu apa saja sehingga kebijakan ke depan jangan ke luar dulu [menjualnya]," kata dia.