Ngeri, Limbah Bisnis Busana Capai US$500 Miliar per Tahun

Ngeri, Limbah Bisnis Busana Capai US$500 Miliar per Tahun
19 Agustus 2019 08:07 WIB Reni Lestari Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Limbah bisnis busana di dunia dapat mencapai US$500 miliar per tahun. Data tersebut menurut Ellen MacArthur Foundation, badan yang fokus mempelajari polusi industri mode. 

Patrice Desilles, Academic Program Head Esmod Jakarta mengatakan, untuk menanggulangi penumpukan polusi tersebut, saat ini banyak pilihan yang bisa ditempuh masyarakat. Mulai dari merawat pakaian agar tak mudah rusak, memanfaatkan kain perca, hingga membeli baju bekas layak pakai.

"Menurut kami, konsumen harus memiliki pengetahuan tentang bagaimana merawat pakaian mereka agar dapat bertahan lama," kata Patrice.

Dari sisi industri, fakta mengenai limbah bisnis busana tersebut kemudian memunculkan beberapa usulan kebijakan ramah lingkungan, salah satunya dengan mengolah kembali kain perca menjadi komponen yang bermanfaat.

Di Indonesia, sudah banyak desainer yang menerapkan konsep sustainable fashion yakni dengan melakukan prinsip zero waste pattern dimana mengurangi pembuangan kain sisa. Misalnya, bahan yang tadinya harus dipotong, dikemas dengan cara yang lebih sederhana dan tidak perlu ada proses pemotongan.

Kain perca umumnya hanya dianggap sebagai bahan sisa yang tidak ada manfaatnya, sehingga pada akhirnya akan dibuang dan menjadi limbah atau sampah.

Dalam industri kerajinan kreatif ternyata kain perca sangat cocok untuk direproduksi menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Selain itu, dari sisi sosial, sustainable fashion dapat diterapkan melalui berbagai kegiatan bermanfaat seperti halnya yang dilakukan Sadari Sedari yaitu mengumpulkan pakaian bekas dan mengubahnya menjadi donasi sosial, atau juga menyumbangkan pakaian pada mereka yang memang membutuhkan.

"Sebagai pelopor pendidikan fashion di Indonesia, Esmod Jakarta menyadari bahwa Sustainable fashion merupakan bagian dari gaya hidup saat ini," ujarnya.

Selain itu, banyak desainer yang mulai menggunakan bahan ramah lingkungan, teknik pewarnaan alami, dan yang tidak kalah penting yaitu menempatkan label tata cara perawatan kain.

"Saat ini, kami juga lebih memilih untuk menggunakan serat kain tencel yang berasal dari kayu, sehingga ketika pakaian tersebut sudah tidak dipakai lagi, dapat dengan mudah terurai ke alam. Metode ini juga kami terapkan kepada para siswa melalui kurikulum di sekolah," jelasnya.

 

Sumber : bisnis.com