Advertisement
Ngeri, Limbah Bisnis Busana Capai US$500 Miliar per Tahun
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Limbah bisnis busana di dunia dapat mencapai US$500 miliar per tahun. Data tersebut menurut Ellen MacArthur Foundation, badan yang fokus mempelajari polusi industri mode.
Patrice Desilles, Academic Program Head Esmod Jakarta mengatakan, untuk menanggulangi penumpukan polusi tersebut, saat ini banyak pilihan yang bisa ditempuh masyarakat. Mulai dari merawat pakaian agar tak mudah rusak, memanfaatkan kain perca, hingga membeli baju bekas layak pakai.
Advertisement
"Menurut kami, konsumen harus memiliki pengetahuan tentang bagaimana merawat pakaian mereka agar dapat bertahan lama," kata Patrice.
Dari sisi industri, fakta mengenai limbah bisnis busana tersebut kemudian memunculkan beberapa usulan kebijakan ramah lingkungan, salah satunya dengan mengolah kembali kain perca menjadi komponen yang bermanfaat.
Di Indonesia, sudah banyak desainer yang menerapkan konsep sustainable fashion yakni dengan melakukan prinsip zero waste pattern dimana mengurangi pembuangan kain sisa. Misalnya, bahan yang tadinya harus dipotong, dikemas dengan cara yang lebih sederhana dan tidak perlu ada proses pemotongan.
Kain perca umumnya hanya dianggap sebagai bahan sisa yang tidak ada manfaatnya, sehingga pada akhirnya akan dibuang dan menjadi limbah atau sampah.
Dalam industri kerajinan kreatif ternyata kain perca sangat cocok untuk direproduksi menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Selain itu, dari sisi sosial, sustainable fashion dapat diterapkan melalui berbagai kegiatan bermanfaat seperti halnya yang dilakukan Sadari Sedari yaitu mengumpulkan pakaian bekas dan mengubahnya menjadi donasi sosial, atau juga menyumbangkan pakaian pada mereka yang memang membutuhkan.
"Sebagai pelopor pendidikan fashion di Indonesia, Esmod Jakarta menyadari bahwa Sustainable fashion merupakan bagian dari gaya hidup saat ini," ujarnya.
Selain itu, banyak desainer yang mulai menggunakan bahan ramah lingkungan, teknik pewarnaan alami, dan yang tidak kalah penting yaitu menempatkan label tata cara perawatan kain.
"Saat ini, kami juga lebih memilih untuk menggunakan serat kain tencel yang berasal dari kayu, sehingga ketika pakaian tersebut sudah tidak dipakai lagi, dapat dengan mudah terurai ke alam. Metode ini juga kami terapkan kepada para siswa melalui kurikulum di sekolah," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jadi Daya Tarik Budaya, Melasti Ngobaran Masuk Kalender Wisata 2027
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Daftar Jalan Tol yang Diskon 30 Persen Saat Mudik
- Rupiah Anjlok ke Rp16.868, Terpukul Sentimen Geopolitik
- Harga Minyak Dunia Naik, Subsidi BBM 2026 Terancam Bengkak
- Inflasi DIY Februari 2026 Capai 4,91 Persen, Emas dan Cabai Pemicunya
- Update Harga Emas UBS-Galeri24 Hari Ini, Tembus Rp3,19 Juta per Gram
- Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp13.000 per Gram
- Konflik Timur Tengah, Jamaah Umrah Jogja Tertahan di Madinah
Advertisement
Advertisement







