Biaya Sekolah Dasar Picu Inflasi Agustus

Biaya Sekolah Dasar Picu Inflasi AgustusIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
03 September 2019 09:21 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY merilis inflasi Jogja pada Agustus 2019 tercatat 0,07% dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS DIY, Bantul, Senin (2/9). Andil terbesar yang mendorong terjadi inflasi adalah biaya sekolah dasar naik 7,51%. 

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS DIY Amirudin menjelaskan Jogja mengalami inflasi 0,07% pada Agustus 2019 disebabkan naiknya indeks harga konsumen kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik 0,23%. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik 0,32%; kelompok sandang naik 1,32%; kelompok kesehatan naik 0,20%; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 2,00%. "Sementara, kelompok bahan makanan turun -0,40 persen dan kelompok

transportasi, komunikasi dan jasa keuangan turun -1,36 persen," ujar dia dalam BRS BPS DIY, Bantul, Senin (2/9).

 Ia mengungkapkan laju inflasi kalender yakni Agustus 2019 terhadap Desember 2018 sebesar 1,87%. "Untuk laju inflasi year on year yakni Agustus 2019 terhadap Agustus 20 sebesar 2,94 persen. Kondisi inflasi DIY ini masih terkendali dan kalau dibandingkan nasional juga lebih kecil," kata dia.

Ia menjelaaskan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Agustus 2019 sehingga memberikan andil mendorong terjadinya inflasi di antaranya sekolah dasar naik 7,51%

dengan memberikan andil 0,07%. Cabai rawit naik 28,74% dengan memberikan andil

sebesar 0,06%.

Sekolah menengah pertama naik 6,40% dengan memberikan andil sebesar 0,05%. Sekolah menengah atas, emas perhiasan dan cabai merah naik 4,89%, 5,14%, dan 12,86% dengan memberikan andil masing-masing sebesar 0,04%.

"Sebaliknya komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi di antaranya tarif angkutan udara turun 15,75 persen dengan memberikan andil sebesar -0,24 persen; bawang merah turun 16,81 persen dengan memberikan andil sebesar -0,08 persen," terang dia.

Adapun 82 kota yang dihitung angka inflasinya, 44 kota IHK mengalami inflasi dan 38 kota IHK mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Kudus sebesar 0,82% diikuti oleh Kota Manokwari dan Watampone masing-masing sebesar 0,81% dan 0,72%. Sementara, inflasi terendah terjadi di Kota Pare-pare, Madiun dan Tasikmalaya yang masing-masing mencapai 0,04 %. "Deflasi terbesar terjadi di Kota Bau-Bau yang mencapai 2,10 persen diikuti oleh Kota Kendari dan Manado yang masing-masing mencapai 1,56 persen dan 1,50 persen," ujar dia.