Apindo Harap Pipa Gas Distribusi Jadi Prioritas

Apindo Harap Pipa Gas Distribusi Jadi Prioritasetugas PT Perusahaan Gas Negara Tbk memeriksa Regulator System di Bogor, Jawa Barat, Kamis (28/9). - JIBI - Nurul Hidayat
20 September 2019 07:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah meminta pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur gas bumi di wilayah Jawa Tengah. Pasalnya dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal, Semarang dan Ungaran kebutuhan energi yang lebih efisien menjadi sangat mendesak.

Ketua Apindo Jawa Tengah Frans Kongi mengatakan ketersediaan energi menjadi salah satu kunci utama kehadiran investor maupun pelaku usaha di Jawa Tengah. Karena itu, ia sangat bersyukur Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), melalui PT Pertagas, membangun jaringan pipa gas transmisi dari Gresik menuju Semarang.

Proyek pembangunan pipa gas itu dinilai akan memberikan dampak positif bagi Jawa Tengah. Sebab  selama ini para pelaku usaha di wilayah ini sangat tergantung pada BBM dan batubara yang harganya fluktuatif dan tidak ramah lingkungan.

Agar kehadiran proyek pipa transmisi itu dapat segera dioptimalkan saat gas mulai masuk, pembangunan pipa distribusi yang akan mengalirkan gas ke konsumen akhir juga harus dipercepat. “Pengusaha di Jawa Tengah sudah sejak lama menunggu hadirnya sumber energi alternatif selain BBM dan batubara Dengan adanya jaringan pipa gas bumi, kami berharap ketersediaan energi di Jawa Tengah semakin besar dan efisien,” kata Frans melalui siaran pers, Kamis (19/9).

Pembangunan jalur pipa gas transmisi Gresik-Semarang merupakan tindak lanjut dari eksplorasi gas bumi di Blok Jambaran Tiung Biru (JTB) Bojonegoro, Jawa Timur. Proyek JTB dikelola oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC) dan telah ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh Komite percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

Kapasitas sales gas sebesar 192 MMSCFD, produksi gas JTB akan dialirkan melalui pipa Gresik-Semarang. Sesuai proyeksi, lapangan JTB memiliki kandungan gas hingga sebesar 2,5 triliun kaki kubik (TCF). Selain memasok kebutuhan untuk Jawa Timur, gas dari JTB juga akan mengaliri PLTGU Tambak Lorok di Semarang dan pelaku usaha lainnya di Jawa Tengah. 

Sangat Tertinggal

Menurut Frans, para pelaku usaha di Jawa Tengah selama ini sudah sangat tertinggal dibandingkan pengusaha di Jawa Timur dan Jawa Barat yang telah lama menggunakan gas bumi. “Harga gas mungkin lebih mahal daripada batubara, tetapi efisiensinya bisa sampai 30 persen sehingga lebih menguntungkan dan ini akan membuat industri di Jawa Tengah bisa lebih kompetitif,” ujarnya.

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko menyambut baik masuknya gas bumi ke provinsinya. Sebab, hingga saat ini sumber energi bagi para pelaku usaha di Jateng masih tergantung pada minyak dan batubara. Selain harga yang fluktuatif, tingkat pencemaran akibat penggunaan batubara juga tinggi.

Dengan menggunakan gas bumi, industri dapat menghemat biaya hingga 30%-40%. Selain itu tingkat pembakaran yang lebih terjaga membuat kualitas produk lebih baik. Itu sebabnya Sujarwanto berharap pembangunan jaringan trasmisi gas dari Gresik-Semarang dapat segera didukung dengan percepatan pipa distribusi yang menghubungkan ke konsumen.