Stok Beras Indonesia 2,30 Juta Ton, Bulog: Ini Stok Paling Tinggi

Stok Beras Indonesia 2,30 Juta Ton, Bulog: Ini Stok Paling TinggiPedagang menata beras di Pasar Tradisional Pinasungkulan, Manado, Sulawesi Utara, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Adwit B Pramono
05 Oktober 2019 09:07 WIB Rezha Hadyan Ekbis Share :

Harianjogja.com, MALANG — Stok beras nasional masih aman hingga awal tahun depan atau musim panen selanjutnya.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan bahwa stok beras nasional yang ada di gudang Bulog di seluruh Indonesia saat ini mencapai 2,30 juta ton.

"Ini merupakan stok paling tinggi dan akan cukup sampai musim panen berikutnya dan masa panen sendiri sekitar Maret dan April," ujarnya usai Rapat Koordinasi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di Batu, Malang, Jawa Timur, Jumat (4/10/2019).

Akan tetapi, kata Tri, potensi lonjakan harga masih bisa terjadi lantaran ada peningkatan kebutuhan beras akibat perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Selain itu, masih banyak pula daerah belum memasuki masa panen pada Januari hingga Februari 2020.

Oleh karena itu, menurut Tri, Bulog masih akan melanjutkan operasi pasar atau operasi Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) yang saat ini baru menggelontorkan 340.000 ton dari target awal sebanyak 1 juta ton.

"Kami masih akan menggelontorkan 600.000 ton. Stok nanti sisa ada di atas 1,50 juta ton [setelah digelontorkan]. Itu masih aman," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mendesak supaya Bulog untuk melakukan operasi KPSH untuk menekan kenaikan harga beras di seluruh Indonesia.

Dia mengatakan bahwa operasi KPSH tersebut akan melibatkan seluruh pedagang di pasar rakyat.

Pedagang tersebut nantinya akan menjual beras Bulog sesuai harga eceran tertinggi (HET) per wilayah yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 57/2017 tentang Penetapan HET Beras.

Enggartiasto menilai operasi KPSH harus segera dilalukan lantaran harga beras mulai merangkak naik.

Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi kenaikan harga beras sebesar 0,13% pada September 2019.

Selain itu, menurut Enggar, kemungkinan mundurnya musim penghujan pada November 2019 patut diwaspadai lantaran berpotensi menimbulkan gejolak harga beras.

"Artinya musim tanam mundur. Akan tetapi, jangan sampai ada keterlambatan pasokan dan beras kualitas medium harus tersedia di pasar," katanya.

Enggartiasto menambahkan bahwa ketersediaan beras kualitas medium dengan HET yang ditetapkan pemerintah merupakan upaya untuk menjaga daya beli masyarakat terhadap beras sebagai kebutuhan pokok.