Produsen Semen Perlu Pacu Ekspor

Produsen Semen Perlu Pacu Eksporilustrasi. - Bisnis/Paulus Tandi Bone
14 Oktober 2019 09:57 WIB Andi M. Arief Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pelaku industri semen disarankan memacu ekspor untuk menjaga kinerja. Sebab, konsumsi semen pada Januari—September 2019 terus menurun dibandingkan realisasi tahun lalu. 

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyatakan konsumsi semen pada kuartal III/2019 di dalam negeri tumbuh negatif 2,2% dari realisasi periode yang sama tahun lalu menjadi 45,75 juta ton. Namun demikian, akselerasi serapan di pasar ekspor membuat total konsumsi hanya turun tipis 0,5% dari realisasi tahun lalu menjadi 53,54 juta ton.

“Dengan kondisi domestik yang menurun, beberapa produsen seperti Semen Indonesia Group dan Semen Merah Putih meningkatkan penjualan ekspornya sehingga realisasi ekspor klinker [tanur putar] dan semen pada Januari—September sebesar 4,79 juta ton atau naik 40% di mana tahun lalu hanya 4,14 juta ton,” papar Ketua ASI Widodo Santoso kepada Bisnis, Minggu (14/10/2019).

Widodo mengatakan pengembangan ekspor dapat meningkatkan utilitas pabrik semen yang masih relatif sangat rendah. Adapun, data terakhir menunjukkan utilitas tanur putar dan cement mill masing-masing berada di posisi 64% dan 56%.

Widodo menyampaikan negara tujuan ekspor semen dan clinker hingga September adalah Australia, Banglades, Srilanka, China, Maladewa, Filipina, Timor Leste, dan Papua Nugini. Menurutnya, negara tujuan ekspor akan bertambah lantaran ruang utilitas pabrikan dalam negeri masih besar atau setara dengan 25 juta ton.

Dari sisi serapan domestik, Widodo memproyeksi tidak ada peningkatan dan berpotensi tumbuh negatif dari realisasi tahun lalu. Pasalnya, konsumsi pada semester II/2018 terbilang cukup tinggi mengingat adanya program infrastruktur yang besar. Sementara itu, sebagian besar program tersebut telah rampung pada tahun ini.

Widodo mengatakan penurunan konsumsi terbesar terjadi pada provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan seluruh provinsi di pulau Sumatra kecuali provinsi Kepulauan Riau dan Sumatera Barat. Walaupun program pembangunan perumahan tetap berjalan, konsumsi semen untuk konstruksi perumahan belum meningkat dari realisasi tahun lalu.

Adapun, konsumsi di daerah lainnya meningkat dengan pertumbuhan paling besar pada daerah Maluku dan Papua sebesar 12,8% atau menjadi 1,24 juta ton. Sementara itu, konsumsi di pulau Sumatera dan pulau Jawa yang menopang sekitar 75% konsumsi nasional masing-masing turun 5,6% dan 2,5% secara tahunan.

Mengingat rendahnya konsumsi sepanjang Januari-September tahun ini dan banyaknya ruang kapasitas produksi, Widodo meminta agar pemerintah menghentikan sementara penerbitan pembangunan pabrik baru. Widodo berharap kekurangan konsumsi sebesar 400.000 ton dapat dikejar pada kuartal IV/2019 agar realisasi pertumbuhan konsumsi tahun ini tidak negatif.

Menurutnya, harus ada kenaikan permintaan yang signifikan dalam 3 bulan terakhir tahun ini. Hal tersebut disebabkan tingginya pertumbuhan konsumsi sejak 2015 di kisaran 3%--5% atau 2 juta—3 juta ton.

Widodo optimistis permintaan lokal dapat melonjak pada sisa akhir tahun ini. Hal tersebut mengingat siklus permintaan industri semen yang lebih besar 10% pada semester II daripada semester I lantaran sebagian proyek pemerintah akan berlangsung pada periode tersebut.

Adapun, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono berpendapat rendahnya konsumsi semen memengaruhi harga semen di pasaran. Dia menilai ke depan akan ada keseimbangan baru, terkait harga semen.

Sumber : bisnis.com