Aspek Memuaskan Jadi Fondasi Wisata DIY

Aspek Memuaskan Jadi Fondasi Wisata DIYWisatawan di Candi Prambanan. - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
29 Oktober 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Secara umum wisatawan yang berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasa puas. Namun, tingkat kebersihan di objek wisata menjadi aspek yang dinilai masih perlu ditingkatkan. Bank Indonesia menilai semua aspek harus mampu memberikan kepuasan ke wisatawan apalagi DIY memiliki potensi wisata yang besar. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengatakan berdasarkan survei yang dilakukan mengenai kepuasan wisatawan di DIY, mereka sudah merasa puas baik dari sisi aksesibilitas, amenitas, maupun atraksi. Mengenai akses destinasi sebesar 46,5% merasa puas, begitu pula soal transporasi di mana 51,3% merasa puas.

"Untuk kualitas penginapan sebanyak 50,4 persen merasa puas, sebesar 50,3 persen merasa puas untuk keamanan dan 43,3 persen puas untuk daya tarik objek wisata. Untuk kebersihan, 40,3 persen baru merasa cukup puas. Ini yang harus ditingkatkan agar wisata di DIY semakin menarik," kata dia, Senin (28/10).

Bank Indonesia melihat geliat pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke DIY merupakan yang tertinggi di antara provinsi lainnya di Jawa. Pertumbuhan kedatangan wisman ke DIY dalam lima tahun terakhir tercatat tinggi dan berpotensi untuk dapat terus ditingkatkan. "Memang dari sisi penerimaan devisa, DIY masih lebih rendah dibanding DKI Jakarta dan Jawa Timur," kata dia.

Jumlah wisatawan mancanegara di DKI Jakarta tertinggi dengan 2,56 juta wisman atau 82% dari total wisman di Jawa. Jawa Timur berada di posisi kedua yakni dengan 237.000 (7,6%), kemudian Jawa Barat dengan 163.000 (5,3%), DIY dengan 142.000 (4,6%) dan Jawa Tengah dengan 6.000 atau 0,2% (lihat grafis). 

Tantangan Ke Depan

Untuk pengembangan pariwisata DIY dalam jangka panjang, akses dari DIY menuju Borobudur diperkirakan akan semakin mudah dengan rencana pembangunan jalan tol Bawen-Yogyakarta dan pembangunan jalur kereta Yogyakarta International Airport (YIA).

Namun, potensi ini menghadapi tantangan seperti porsi tenaga kerja di sektor pariwisata masih relatif kecil dengan mayoritas tingkat pendidikan SMP dan sederajatnya serta di bawahnya. Sementara itu tenaga kerja sektor pariwisata yang merupakan lulusan dari SMK Pariwisata justru sangatlah sedikit dan berada di bawah angka 10%.

Tantangan selanjutnya yakni pembiayaan untuk sektor pariwisata masih belum optimal. Peran perbankan dalam sektor pariwisata di DIY masih relatif terbatas dengan share sekitar 36,2%, dengan pertumbuhan yang cenderung stagnan di bawah pertumbuhan total kredit. Kredit pariwisata sendiri masih didominasi sektor perdagangan dan transportasi. Namun perlu kewaspadaan seiring dengan risiko kredit pariwisata yang cenderung tinggi. Selain itu, pembiayaan berupa investasi dari penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk DIY juga masih relatif terbatas. "Tantangan lainnya yakni persaingan dengan negara tetangga yang tinggi. Peringkat travel and tourism competitiveness index 2017 Indonesia naik delapan peringkat dibandingkan 2015, namun masih tertinggal dari Thailand. Aspek yang tertinggal paling jauh dari Thailand adalah jasa-jasa pendukung turisme yang meningkatkan akses dan kenyamanan pengunjung [akses dan amenitas]," papar dia. 

Integrasi dengan Jateng

Melihat semua tantangan tersebut diperlukan sebuah strategi pengembangan wisata DIY dengan integrasi pariwisata DIY dan Jawa Tengah. Integrasi pariwisata DIY dan Jateng menjadi krusial dalam pencapaian target Joglosemar, yaitu dua juta wisatawan mancanegara pada 2019 terutama melalui pengembangan empat hal yang menjadi prioritas, yaitu aksesibilitas, atraksi, ekosistem termasuk amenitas, serta promosi.

Pengembangan aksesibitas dengan adanya YIA, jalan tol Bawen-Jogja dan jaringan jalur kereta api. YIA akan dapat menampung lebih banyak wisatawan dan akan banyak dibuka rute baru ke luar negeri langsung. Jalan tol mempermudah wisatawan dari DIY dan Semarang menuju Borobudur dan Kereta Bandara YIA akan menghubungkan Bandara Kulonprogo–Kedundang–Jogja–Brambanan. Selain itu juga menggelar atraksi dan event berdaya saing tinggi dapat dikembangkan dengan event music and entertainment, sport dan cultural and religy.

Promosi dan pemasaran juga perlu dilakukan secara intensif untuk mengembangkan pariwisata. Hal itu bisa dilakukan melalui smart destination yang merupakan implementasi program bundling ticket antarkawasan wisata di Joglosemar, bisnis model digital bekerja sama dengan online travel agent (OTA). Promosi juga bisa dimaksimalkan dengan aktif berpartisipasi dalam program travel mart di seluruh dunia dan melalui joint promotion antara Borobudur dan Pachu Picchu di Peru, Prambanan dan Taj Mahal di India, serta Ratu Boko dan Polonnaruwa di Sri Lanka.

Selain itu, pengembangan pariwisata harus didukung dengan pengembangan ekosistem pariwisata daerah. Pengembangan ekosistem ini bisa dilakukan dengan menginisiasi pembentukan balai ekonomi desa misalnya melakukan replikasi Balkondes di Borobudur pada destinasi wisata lain seperti Prambanan.

Pengembangan ekosistem juga bisa dilakukan dengan optimalisasi community based tourism (CBT). Hal ini bisa dilakukan melalui penguatan kelembagaan dan pendampingan. "Perlu juga dilakukan standardisasi desa wisata melalui desa wisata percontohan untuk pengembangan ekosistem," kata dia.

Rerata Pertumbuhan Lima Tahun untuk Wisman

Wilayah                Persentase

DIY                         19%

DKI Jakarta          4,5%

Jatim                     3,7%

Jabar                     2,2%

Jateng                   -21%

Jawa                      4,7%*

Asal Wisatawan Mancanegara

Malaysia

Tiongkok

Jepang

Singapura

Saudi Arabia

Korea Selatan.

Penerimaan Devisa

Wilayah                Nominal                                               Persentase

DKI Jakarta          US$2,9 miliar/Rp40,6 triliun          85,6%

Jatim                     US$222 juta/Rp3,1 triliun              6,7%

DIY                         US$128 juta/Rp1,7 triliun              3,8%

Jabar                     US$122 juta/Rp1,7 triliun              3,8%

Jateng                   US$5 juta/Rp70 miliar                     0,1%

Sumber: wawancara