Advertisement
Durasi Menginap Wisatawan di Indonesia Anjlok, Ini Penyebabnya
Pramusaji melayani wisatawan asing di warung Kopi Borobudur komplek Balkondes (Balai Ekonomi Desa) Borobudur, Magelang, Jateng, Jumat (4/8). Kementerian BUMN melalui program BUMN Hadir Untuk Negeri menargetkan pembangunan 100 Balkondes di seluruh Indonesia sebagai wujud kontribusi BUMN untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di bidang kepariwisataan. - Antara/Anis Efizudin
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Minimnya pergelaran berskala internasional menjadi salah satu penyebab anjloknya rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang.
Data Badan Pusat Statistik menyatakan, rata-rata lama tamu menginap pada September 2018 hanya mencapai 1,84 hari menurun 0,13 poin jika dibandingkan dengan rata-rata lama menginap selama September 2018. Untuk tamu asing sendiri, sebetulnya lebih lama yaitu 2,92 hari dibandingkan tamu domestik selama 1,66 hari.
Advertisement
Penurunan itu rupanya selaras dengan tingkat penggunaan kamar hotel klasifikasi bintang yang mencapai 53,52% atau turun 5,43 poin dibandingkan TPK September 2018 yang mencapai 58,95%.
Namun, tidak sebanding dengan jumlah kunjungan wisman yang naik sebesar 2,15% dari September 2018 dibandingkan bulan yang sama pada tahun ini.
Direktur Statistik Keuangan, Teknologi Informasi, dan Pariwisata, Titi Kanti Lestari mengatakan adanya penurunan ini dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi mulai dari mahalnya tiket pesawat dan minimnya perhelatan internasional yang ada pada September ini.
“Ada kemungkinan karena tiket mahal, jadi yang tadinya tinggal dihotel lebih lama jadi sebentar,” kata Titi kepada Bisnis.com, Senin (4/11/2019).
Dia menuturkan, berbeda dengan tahun lalu dimana banyak event besar, seperti Asian Games dan IMF-World Bank Annual Meeting, pada September tahun ini cenderung sepi. Jadi, meski jumlah wisman naik, namun rata-rata tidak tinggal lama di Indonesia lantaran minimnya acara pariwisata yang menarik.
Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia (Astindo), Rudiana menuturkan penurunan lama waktu menginap ini juga bisa disebut sebagai penurunan jumlah wisatawan.
"Penurunan jumlah wisatawan kan bukan hanya di jumlah otangnya, tapi secara kualitas juga terjadi penurunan yaitu lama tinggal dan rata rata pengeluaran mereka juga yang turun,” kata Rudiana.
Menurutnya, banyak faktor mengapa wisatawan gak ingin tinggal lama. Namun, faktor yang paling menonjol adalah minimnya pergelaran skala internasional yang bisa menarik tamu asing.
“Kontribusi lainnya tentu segi kemanan dan bencana yang kerap melanda pun ada kontribusi yang cukup signifikan, tapi kita juga harus lihat bahwa perkembangan ekonomi dunia masih tidak menentu, perang dagang China Amerika maih memberi dampak angin buruk pada perekonomian.”
Selain itu, sama dengan Titi, Rudiana juga menilai mahalnya tiket domestik juga memberikan pengaruh, serta promosi pariwisata yang terbatas budget.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 24 Januari 2026, Berhenti di 13 Stasiun
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Pulau Jawa Dominasi Laporan Penipuan Keuangan, Kerugian Capai Rp9,1 T
- Update Harga Emas: Antam Naik Tajam, UBS-Galeri24 Merosot
- Taspen Tegaskan Perlindungan Peserta Seusai Vonis Kasus Penipuan
- Puluhan Ribu Kopdes Merah Putih Ditarget Beroperasi April 2026
- Bulog Rancang Pembayaran Digital Gabah Petani Mulai 2026
- Pembiayaan Utang APBN 2026 Naik Jadi Rp832 Triliun
- Pidato di WEF, Prabowo Optimistis Ekonomi Indonesia Lebih Kuat
Advertisement
Advertisement



