DIY Petakan Masalah untuk Tentukan Strategi bagi UMKM, Apa Saja?

DIY Petakan Masalah untuk Tentukan Strategi bagi UMKM, Apa Saja? Ilustrasi UMKM - Bisnis Indonesia/Rachman
13 November 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memetakan enam persoalan pokok dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi. Guna mengembangkan UMKM di DIY diperlukan strategi yang tepat.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan UMKM memiliki peran besar terhadap perekonomian. UMKM memiliki peran dalam peningkatan tenaga kerja, pendapatan, termasuk pembentukan PDB. UMKM di DIY masih didominasi skala usaha mikro. "Jumlah UMKM 2018 di DIY sebanyak 259.581. Berdasarkan skala usaha masih didominasi usaha mikro sebanyak 141.991. Usaha kecil sebanyak 64.896 dan menengah 39.196," kata dia di Sahid Raya Hotel and Convention Yogyakarta, Sleman, Senin (11/11).

Ia mengungkapkan di tengah peran UMKM yang besar untuk perekonomian DIY, dalam proses pembinaan oleh Dinas Koperasi dan UMKM DIY ada beberapa fakta yang harus diselesaikan. Keenam hal tersebut yakni proporsi usaha mikro masih lebih besar dibandingkan usaha kecil dan menengah; pengklasteran UMKM dengan rentang sangat lebar; belum ada data UMKM terperinci; pemeringkatan dan penilaian kesejahteraan koperasi untuk pengklasteran belum menyasar semua koperasi; sumber daya manusia koperasi belum semua tersertifikasi serta kompetensi pembinaan dan layanan konsultasi Koperasi dan UMKM belum terstruktur dan terdokumentasi dengan baik. "Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UMKM membuat inovasi model pembinaan yakni Si Bakul Beringharjo yang merupakan akronim dari Berdaya Saing dan Khas Orang Jogja dan dengan branding name Si Bakul Jogja. Ini model sistem pembinaan peningkatan kapasitas UMKM yang tepat, efektif, sesuai kebutuhan, dan berkelanjutan sejalan dengan Revolusi Industri 4.0 yang mengarah pada digitalisasi," jelas dia.

 

Peningkatan Daya Saing

Aji menjelaskan sistem pembinaan ini dapat mendorong peningkatan daya saing dan produktivitas dan dapat menjadi dasar pembinaan di era digital. Ada beberapa tahapan kegiatan yang sudah dilakukan dalam program Si Bakul Jogja ini. Kegiatan tersebut yakni menyusun indiklator pengklasteran UMKM, peningkatan dan penilaian kesehatan koperasi; melaksanakan pengklasteran UMKM tahun pertama; menyusun kurikulum pembinaan UMKM berdasarkan level usaha, membuat branding khusus Si Bakul Beringharjo dan lagi Si Bakul Beringharjo; menyusun cetak biru untuk pembinaan UMKM, membuat dan mengembangkan sistem daring untuk tata kelola koperasi dan UMKM secara terpadu dan menjalin kerja sama dengan pemangku kepentingan potensial dalam pengembangan UMKM. "Pemangku kepentingan yang potensial salah satunya Bank BPD DIY. Ruang lingkup kerja sama dengan Bank BPD DIY dilakukan dengan peluncuran kartu mitra Si Bakul Jogja. Kartu ini berfungsi sebagai kartu identitas mitra binaan dan dapat dimanfaatkan sebagai kartu ATM," kata dia.

Ia mengungkapkan inovasi tersebut diharapkan menjadi solusi sehingga pembinaan terhadap UMKM bisa berjalan efektif, tepat waktu, tepat program dan tepat sasaran. Tujuannya UMKM naik kelas. Upaya pembinaan UMKM untuk meningkatkan daya saing produk membutuhkan integritas dan kolaborasi dari berbagai pihak seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia, dan masyarakat.

Direktur Utama Bank BPD DIY Santoso Rohmad mengungkapkan kerja sama dengan Pemda DIY memperkuat komitmen Bank BPD DIY untuk ikut serta mengembangkan UMKM. Sinergi dengan Pemda DIY sudah terbangun sejak lama. "Kami ingin UMKM di DIY ini bisa tumbuh bahkan bersaing, artinya dari pembinaan kita enggak setengah-setengah. All out. Ke depan DIY jadi tujuan wisata yang betul-betul menghadirkan DIY yang sesungguhnya dengan segala kreativitasnya. UMKM dan semua lini ekonomi diperkuat," kata dia.

Pembinaan UMKM dilakukan mulai dari simulasi bisnis, pelatihan diberikan kepada kelompok nonformal dan formal mulai dari pengelolaan keuangan, packaging, kualitas produk, promosi, hingga dari sisi kapan UMKM harus berhubungan dengan bank. "Kita persiapkan UMKM untuk siap menghadapi masa depan. Pembinaan dilakukan bertahap. Peran BPD enggak sekadar pembiayaan saja. Pembiayaan iya, tetapi kapan harus berhubungan dengan bank juga kita ajarin. Jangan tiba-tiba langsung berhubungan dengan bank, malah berisiko juga," ujar dia.