Advertisement
Dvia Batik & Lurik Ciptakan Baju Batik untuk Semua Generasi
Owner Dvia Batik & Lurik Idha Tri Astuti menunjukkan produknya ketika mengikuti Grebeg UMKM DIY 2019 di Plaza Ambarrukmo, Sleman, beberapa waktu lalu./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Baju batik selama ini kerap diindetikkan dengan kondangan dan orang tua. Namun, sejatinya pakaian batik bisa dikenakan siapa saja baik tua maupun muda. Pesan itu pula yang ingin dikampanyekan Dvia Batik & Lurik milik Idha Tri Astuti.
Idha Tri Astuti mulai membangun bisnisnya pada 17 September 2014. Usahanya ini dibuat berawal dari kepeduliaannya akan pemanfaatan baju batik dan lurik. "Kami memperhatikan batik dan lurik itu hanya untuk acara resmi. Cenderung untuk kondangan dan yang memakai bapak-bapak atau ibu-ibu saja," kata dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di Grebeg UMKM DIY 2019 di Plaza Ambarrukmo, Sleman beberapa waktu lalu.
Advertisement
Karena hal itu pula, ia memutuskan untuk membuat desain baju batik dan lurik yang bisa dalam kesempatan apapun baik untuk acara resmi, jalan-jalan, pergi ke mal hingga untuk kuliah. "Kami bikin desain santai, girly untuk cewek dan untuk cowok, kekinian sehingga anak muda bisa nyaman pakai untuk sehari-hari dan enggak gerah walaupun dipakai seharian," tutur dia.
Dalam memproduksi baju batik dan lurik serta menjalankan usaha ia dibantu delapan penjahit dan empat awak manajemen. Untuk kain batik, ia pun memproduksi sendiri dan dibantu para pembatik yang dia rekrut. Sementara, untuk kain lurik ia memiliki rekanan sendiri.
"Produk batik kami terdiri dari batik tulis dan cap. Kembali ke misi agar anak muda mencintai dan memakai batik. Harus dikenalkan batik yang sebenarnya. Kalau murni tulis semua harganya akan mahal semua. Kalau ada cap, baju batik kami bisa dijangkau oleh berbagai kalangan," terang dia.
Tren Model Baju
Ia mengungkapkan Dvia Batik & Lurik juga menjadi penyuplai pakaian batik di beberapa toko baju batik ternama di DIY. Setiap bulan ia bisa memproduksi 80-150 model baju yang berbeda. Setiap model akan memiliki motif yang berbeda-beda sehingga setiap baju memiliki keunikan sendiri dan terkesan eksklusif. "150 Model itu kalau saat peak season. Karena kami menyetor ke beberapa toko, jadi untuk satu model biasanya ada 20 potong baju. Tetapi, motifnya berbeda-beda. Biar enggak pasaran," kata dia.
Ia selalu memperhatikan tren model baju sehingga produknya tidak ketinggalan zaman. Untuk mencari inspirasi dan mengamati tren, ia kerap memakai tool Google Trends. "Di situ kan kelihatan tren dari tahun berapapun. Model pakaian itu berputar. Setelah nyemplung di dunia fesyen, model baju itu ternyata kembali lagi ke zaman dahulu," kata dia.
Harga baju bervariasi mulai Rp150.000 hingga Rp1,4 juta. Dvia Batik & Lurik memang memiliki pilihan produk yang banyak baik dengan harga terjangkau maupun produk premium. Untuk penjualan dilakukan secara online dan offline. Hal ini untuk mengakomodasi kebutuhan masing-masing konsumen.
"Selain itu, kami juga kerap ikut pameran dan pernah diajak Disperindag DIY untuk pameran di Jepang. Lalu, kami juga diikutman event fashion show seperti Jogja Fashion Week. Kami selalu ikut sejak 2016," papar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Inflasi DIY Februari 2026 Capai 4,91 Persen, Emas dan Cabai Pemicunya
- Update Harga Emas UBS-Galeri24 Hari Ini, Tembus Rp3,19 Juta per Gram
- Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp13.000 per Gram
- Konflik Timur Tengah, Jamaah Umrah Jogja Tertahan di Madinah
- Pemerintah Siapkan Skenario Jaga Ketahanan Energi di Tengah Konflik
- Harga Cabai Rawit Tembus Rp100.000 di Jogja
- Angka Impor BBM Indonesia 5 Tahun, Terbesar dari Singapura
Advertisement
Advertisement








