2019 Penuh Tantangan, Daya Saing BPR & BPRS Perlu Didorong

2019 Penuh Tantangan, Daya Saing BPR & BPRS Perlu DidorongKetua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan BPR Indonesia (Perbarindo) DIY Ascar Setiyono - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
21 Desember 2019 15:57 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY melihat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) menghadapi banyak tantangan baik dari segi internal maupun eksternal. Karena itu daya saing BPR dan BPRS perlu terus didorong. 

Kepala OJK DIY Untung Nugroho mengungkapkan kinerja keuangan BPR dan BPRS di DIY posisi Oktober 2019 lebih baik dibandingkan dengan kinerja nasional dari sisi perkembangan aset, sedangkan perkembangan kredit dan DPK masih sedikit berada di bawah perkembangan nasional. BPR dan BPRS di DIY masing-masing tumbuh sebesar 11,95% (aset), 11,15% (kredit), 11,45% (DPK) secara year on year (yoy) dan melebihi pertumbuhan nasional yang tumbuh sebesar 10,84% untuk aset, 11,90% untuk kredit, dan 11,92% DPK. "Sementara, secara year to date (ytd) aset, kredit, dan DPK BPR dan BPRS di DIY tumbuh sebesar 8,58 persen, 10,19 persen, dan 8,06 persen," kata dia, Jumat (20/12).

Untung menyebutkan dalam perkembangannya, industri BPR saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dari sisi internal maupun eksternal BPR. Dari sisi internal, industri BPR dihadapkan pada beberapa tantangan besar. Pertama, tingkat permodalan yang masih terbatas. Jumlah BPR yang masuk kategori usaha (BPRKU) 1 dengan modal inti < Rp15 miliar masih sangat banyak yaitu mencapai 73,58% (39 BPR), sedangkan yang tergolong BPRKU 2 dan 3 masing-masing hanya sebanyak 15,09% (delapan BPR) dan 11,32% (enam BPR).

"Kedua, kurangnya kualitas dan kuantitas pengurus dan sumber daya manusia (SDM). Kelemahan di SDM ini juga dapat menjadi penyebab terjadinya beberapa kelemahan atau pelanggaran operasional di BPR," kata dia.

Ketiga, biaya dana yang mahal yang berdampak pada suku bunga kredit yang tinggi. Bunga kredit yang tinggi ini tentunya akan melemahkan daya saing BPR dalam penyaluran kredit. Keempat, pemanfaatan teknologi masih rendah menjadikan BPR kurang kompetitif, high cost dan produk kurang menarik. 

Teknologi Finansial

Dari sisi eksternal, BPR dan BPRS memiliki banyak tantangan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. BPR dan BPRS dituntut untuk semakin berkembang di tengah kemajuan teknologi dan persaingan di industri keuangan yang telah berfokus pada teknologi informasi. Tantangan selanjutnya adalah masalah persaingan dengan lembaga keuangan lainnya salah satunya adalah  teknologi finansial (tekfin) peer to peer lending.

BPR dan BPRS saat ini harus mampu mengantisipasi kebutuhan masyarakat yang menginginkan layanan cepat. Untuk itu perlu adanya inovasi dan mulai sadar akan teknologi informasi. Selain itu, BPR dan BPRS dihadapkan dengan program pemerintah melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang disalurkan lewat bank umum. "BPR dan BPRS harus semakin aktif dan menyesuaikan dengan perkembangan TI (teknologi informasi), BPR juga diharapkan bekerja sama dengan lembaga lain seperti perusahaan TI untuk core banking dan tekfin untuk pengembangan produk dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian," ujang dia.

Untung menyebutkan melihat tantangan tersebut, perlu adanya penguatan kelembagaan dan pembenahan internal yang menyeluruh dan pengembangan produk dan layanan BPR dan BPRS yang lebih menjawab kebutuhan masyarakat. OJK mendorong penguatan penerapan manajemen risiko, pemenuhan permodalan (KPMM), tata kelola (GCG), kegiatan usaha dan wilayah jaringan kantor BPR berdasarkan modal inti.

"OJK mendorong peningkatan daya saing BPR di antaranya melalui pengembangan produk dan layanan BPR, melalui sinergi dengan Bank UMUM, seperti kredit chanelling dan pemanfaatan penggunaan ATM Bank Umum untuk nasabah BPR," kata dia. 

Di Atas 10%

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan BPR Indonesia (Perbarindo) DIY Ascar Setiyono mengatakan pertumbuhan bisnis industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) baik konvensional maupun syariah dirasakan cukup berat pada 2019. Baik dari sisi aset maupun pembiayaan diharapkan terus bertumbuh mendekati penghujung 2019 ini.

Ia mengaku meskipun pertumbuhan bisnis tahun ini kurang dari 10%, Perbarindo DIY masih optimistis pertumbuhan industri BPR di DIY bisa di atas 10% pada 2020. "Untuk mewujudkan optimisme itu BPR harus menjawab tantangan khususnya persaingan dengan industri perbankan umum," kata dia.

Perbarindo DIY mengamati tantangan pertumbuhan industri BPR di DIY terjadi karena adanya persaingan kredit khususnya dalam pemasarannya. Pasalnya, di satu sisi BPR cukup likuid tetapi penyaluran kredit masih relatif pelan. Berbagai persaingan penyaluran kredit diakui cukup ketat, terlebih di tingkat mikro ada KUR dan tekfin.