Advertisement
LPS Prediksi Pertumbuhan DPK Lebih Tinggi Dibanding Kredit, Ini Dasarnya
Ilustrasi pengunjung melintas didepan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkap besarnya potensi nilai simpanan masyarakat tumbuh lebih tinggi dibanding kenaikan penyaluran kredit pada 2020. Hal ini terjadi karena faktor eksternal dan internal.
Sekretaris LPS Muhamad Yusron mengatakan indikasi pertumbuhan simpanan yang lebih tinggi dari kredit telah terlihat sejak pertengahan 2019. Prediksi ini bisa terwujud di 2020 jika kondisi ekonomi dan sentimen investor terhadap perekonomian Indonesia tidak membaik.
Advertisement
“Indikasi hal ini sudah terpantau sejak pertengahan tahun lalu. Selain karena sisi kredit yang cenderung melambat, namun adanya ekspansi fiskal di Pusat dan daerah yang didukung pula arus inflow positif di pasar bond mendorong pertumbuhan simpanan lebih baik,” ujar Yusron kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Jumat (10/1).
Berdasarkan Data Distribusi Simpanan Bank Umum yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dana pihak ketiga (DPK) yang dikelola bank umum per November 2019 tumbuh 6,54% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp6.042 triliun. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018.
Pada saat yang sama, berdasarkan data Analisis Uang Beredar November 2019 yang dirilis Bank Indonesia kredit perbankan tercatat tumbuh 7% yoy menjadi Rp5.549,4 triliun. Hal ini menunjukkan tipisnya margin pertumbuhan DPK dan kredit perbankan di akhir 2019. “Jika sentimen bisnis dan ekspektasi terhadap ekonomi bisa lebih positif kemungkinan pertumbuhan kredit di Semester II/2020 akan lebih balance dengan simpanan,” kata Yusron.
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Wisnu Wardhana mengatakan perlambatan kredit satu tahun terakhir menjadi keuntungan tersendiri di tengah lambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga sepanjang tiga tahun terakhir. “Ini menjadi blessing in disguise, karena pertumbuhan DPK jadi mendekati pertumbuhan kredit. Bukan karena DPK melaju kencang, tetapi karena kredit tumbuh melambat,” katanya kepada JIBI beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan pada tahun ini proyeksi pertumbuhan ekonomi akan lebih kurang setara dengan tahun lalu. Dengan demikian permintaan kredit dapat dipastikan juga akan serupa dengan tahun lalu.
DPK pada sisi lain mengalami penguatan pertumbuhan, meskipun cenderung sedikit. Hal ini akan memungkinkan pada tutup buku 2020, persentase pertumbuhan DPK dan kredit berpotensi tidak jauh berbeda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Bus KSPN Jogja-Pantai Parangtritis dan Baron: Jadwal, Rute, dan Tarif
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update Harga Emas 7 Maret 2026: Antam Melonjak, UBS dan Galeri24 Turun
- Kunjungan Wisman ke Yogyakarta via Bandara YIA Turun pada Januari 2026
- Antisipasi Harga Minyak Melonjak, Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk
- Stok Beras Nasional Aman 324 Hari ke Depan
- Pemerintah Jamin Stabilitas Harga Pangan Jelang Lebaran 2026
- Strategi Bijak Kelola Dana THR agar Tabungan Tetap Aman
- Harga Emas Dubai Anjlok Drastis Akibat Konflik Iran dan AS-Israel
Advertisement
Advertisement








