Proyeksi Pertumbuhan 5,3% Sulit Terwujud

Proyeksi Pertumbuhan 5,3% Sulit TerwujudIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
11 Januari 2020 06:22 WIB Lorenzo Anugrah Mahardhika Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Sejumlah goncangan baik dari luar maupun domestik membuat target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah pada 2020 sebesar 5,3% sulit terealisasi. 

Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Fajar B. Hirawan menuturkan kemungkinan Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2020 cukup kecil. Sebab ketidakpastian global diperkirakan masih akan terjadi sepanjang 2020. Hal ini terbukti dengan eskalasi tensi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta perang dagang antara AS dan China yang masih berlangsung.

Selain itu, sejumlah kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia  yang belum rampung untuk 2020 juga menambah halangan untuk mencapai angka pertumbuhan 5,3%. Sejumlah bidang yang kebijakannya belum selesai sepenuhnya sehingga memunculkan hambatan ini di antaranya di bidang investasi dan perdagangan.

Ia melanjutkan tekanan terhadap sektor konsumsi rumah tangga, seperti kenaikan beberapa iuran dan tarif akan memiliki dampak cukup signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020.

“Rentang angka 4,9 persen hingga 5,1 pesen menurut saya adalah pertumbuhan ekonomi yang paling feasible untuk dicapai oleh Indonesia pada 2020,” katanya saat dihubungi, Jumat (10/1).

Menurut Fajar, hal terpenting yang perlu dilakukan pemerintah adalah menuntaskan agenda kebijakan reformasi struktural serta mengantisipasi dampak yang akan terjadi akibat kenaikan beberapa iuran. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan belanja modal dan bantuan sosial. Peningkatan jenis belanja ini dinilai dapat menjaga tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat. “Contohnya seperti belanja modal untuk pembiayaan proyek infrastruktur yang masih belum selesai dapat mengantisipasi melemahnya daya beli masyarakat,” jelasnya.

Secara terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan akan mewaspadai tiap-tiap peristiwa yang dapat memengaruhi kondisi perekonomian global dan domestik. Ia pun akan tetap fokus memperkuat ekonomi domestik agar angka pertumbuhan ekonomi Indonesia minimal dapat tetap terjaga seperti tahun lalu. "Optimisme tetap kami jaga. Kami ingin perekonomian Indonesia lebih baik dari 2019," katanya.

Ia mengatakan risiko kondisi global terhadap perekonomian diperkirakan masih akan dinamis seperti pada 2019. Salah satu faktor penyebabnya adalah pemilu yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat yang menambah faktor politik.

Selain itu, dunia juga masih terdampak akibat ketidakpastian global pada tahun lalu. Masih banyak negara-negara yang tidak memiliki kapasitas fiskal dan moneter yang memadai untuk meningkatkan ekonominya.

Sebelumnya, dalam laporan Global Economic Prospects: Slow Growth, Policy Challenges, Bank Dunia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 di angka 5,1%. Proyeksi pertumbuhan ini tetap sama seperti dalam laporan kuartalan Bank Dunia pada Desember 2019 lalu. Angka ini sedikit dibawah target asumsi makro pemerintah dalam APBN 2020 sebesar 5,3%.

 

Sumber : Bisnis Indonesia