WAKIL KETUA JIHW: Jatuh Bangun Bawa Nama Indonesia ke Internasional

WAKIL KETUA JIHW: Jatuh Bangun Bawa Nama Indonesia ke Internasional Wakil Ketua Jogja International Heritage Walk (JIHW), Dahlia Puspasari./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
25 Februari 2020 09:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jatuh bangun dialami Wakil Ketua Jogja International Heritage Walk (JIHW), Dahlia Puspasari, bersama tim JIHW, untuk membawa nama Indonesia ke kancah Internasional.

2010 menjadi cerita awal perjalanan Lia bersama JIHW. Mendapat amanah menjadi bagian JIHW, menjadi tantangan tersendiri baginya. Sempat mengira penyelenggaraan mudah, ternyata event tersebut bukan agenda main-main, setelah mempelajari lebih jauh tentang aturan-aturan yang diberlakukan.

“Awalnya enggak ngerti, jalan kaki sehat kan gampang. Jadi tanpa pikir panjang, bertanya dengan timku di Jejepangan [komunitas pencinta budaya Jepang] aku ambil. Setelah dipelajari lebih detail itu bahasa Belanda harus diterjemahkan ke bahasa Inggris kemudian ke bahasa Indonesia, ini event gak main-main, pantesan sulit banget buat orang melakukan ini,” ucap Lia, Senin (17/2).

Lia pun mulai memutar otak, karena waktu itu belum ada infrastruktur yang memadai, dan perlu kesiapan dari pemerintah dan orang Indonesia. Akhirnya ia berkomunikasi dengan ketua JIHW, GKR Mangkubumi dan Sekjen JIHW Fitriani Kuroda, untuk meminta izin mengubah konsep yang sudah ada. Diakuinya saat itu memang kondisi masih jauh dibandingkan negara lain.

“Tapi kita tidak boleh menyerah karena ini kesempatan kita yang terakhir, untuk berkompetisi internasional, karena kita pernah berkompetisi ternyata gagal. Oke kami coba, akhirnya [konsep diubah] diizinkan, berkat restu beliau Gusti Mangkubumi,” katanya.

Waktu itu, kata dia, finansial sulit terlebih secara infrastruktur di Indonesia juga belum ramah terhadap pejalan kaki. Dia pun mulai menimbang-nimbang apa yang dimiliki dan apa yang tidak dimiliki. Hingga akhirnya, ia menemukan ide dari komunikasi dan pola pikir banyak orang untuk mengombinasikan dengan heritage. 

Rute Sederhana

Peralatan dan finansial yang minim pun bukan menjadi penghalang bagi Lia dan timnya. Rute sepanjang 40 kilometer (km) perlu disiapkan, waktu itu 20 km di kawasan Prambanan dan 20 km lagi di kawasan Imogiri. Alat sederhana mulai dari cat tiga warna, untuk menandai batu sebagai tanda rute, dan speedometer sepeda motor untuk mengukur jarak pun dimaksimalkan. Akhirnya ditemukan rute yang menarik dengan nuansa alam, keramahtamahan warganya menjadi daya tarik.

Kemudian, di Imogiri berbagai tantanganpun dihadapi timnya, mulai dari rute hingga berbagai tantangan lain dihadapi. Kerjasama tim pun berhasil menyiapkan berbgai hal yang dibutuhkan. “Dibalik berbagai kesiapan itu ada orang-orang yang gigih, melakukan sesuatu walaupun tidak masuk akal,” ucapnya.

Meski begitu, kesiapan rute saja belum cukup. Ia memerlukan bantuan tenaga lebih untuk berjalannya pelaksanaan, untuk mendampingi para pejalan dari luar negeri. Saat itu, banyak yang tidak mau, karena tidak boleh memberikan hadiah sesuai aturan yang ada. Lia, mencoba tidak menyerah, ia dan timnya pun mengetok pintu universitas yang ada di Jogja.

Saat itu hanya ada satu dari Mapala Carabiner UNY yang bersedia membantu. Peraturan yang ada juga mengharuskan tidak boleh ada peserta yang melakukan kecurangan, memotong rute yang ada sehingga ia butuh lebih banyak orang lagi. Lia pun memutuskan menggandeng orang-orang di pramuka.

Meski di negara lain, kegiatan serupa lebih banyak melibatkan orang tua dalam penyelenggaraan, Lia justru meyakini kemampuan anak-anak muda yang harus berkontribusi dan mencintai pada bangsa ini. Ia ingin mengingatkan juga pada generasi muda, dengan konsep heritage ini ada masa lalu dan jika tidak ada masa lalu tersebut, tidak ada masa depan. Masalah yang dihadapi Lia, belum berhenti juga. Menurutnya, masih banyak negara yang tidak mengetahui Indonesia atau Jogja. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar baginya, untuk mengenalkan nama Indonesia dan Jogja di kancah internasional.

Kejadian tidak terduga pun terjadi waktu itu, dengan meletusnya Gunung Merapi, yang membuat event tersebut batal dilaksanakan. Kendati demikian, nama Indonesia khususnya Jogja justru lebih dikenal. Bahkan tidak sedikit, yang memberikan bantuan kepada korban bencana letusan Merapi itu. 

Kembali Mempersiapkan

Dahlia mengatakan JIHW juga dibantu oleh tokoh di Jepang yang merupakan suami dari Fitriani Kuroda. Kesempatan yang kembali diberikan di 2011 itu coba dimaksimalkan olehnya, meski banyak orang yang pesimistis acara ini dapat berjalan. Berbagai kesiapan pun kembali dilakukan, baik di Prambanan maupun di Imogiri. Berbagai pengalaman mempersiapkan event dengan waktu yang mepet hingga disangka pencuri saat mempersiapkan di malam hari pun jadi cerita tersendiri.

Hingga akhirnya tim juri datang ke Jogja, dan kembali menilai ada kesalahan yang dilakukan karena seharusnya menteri atau Presiden yang menemui mereka. Namun, saat itu GKR Mangkubumi mencoba meyakinkan cukup bertemu dengannya jika berkunjung ke Jogja. Apalagi, imbuhnya, salah satu dari tim panitia yang saat ini menjadi PR JIHW Salima Canthika Putri saat itu masih duduk di bangku SMP. Situasi ini mendorong panitia untuk meyakinkan juri jika Indonesia bisa menyelenggarakan.

“Waktu itu si Sasa bilang ke juri. Kamu tidak boleh menilai negaraku ini seperti yang kamu pandang, 350 tahun kami berusaha merdeka, kalau cuma ngelewatin negaramu kami tidak takut. Kamu tahu enggak lambang negara kami adalah Garuda, aku hanya burung merpati kecil tetapi aku tdak takut berkompetisi di Internasional. Dewan juri pun ada yang meneteskan air mata waktu itu,” ucap Lia.

Hingga akhirnya pada 2011 diberilah kesempatan untuk menyelenggarakan dan sukses. Berbagai interaksi dengan masyarakat yang menjadi rute pejalan kaki, memberi kesan tersendiri bagi para peserta. Menurut Lia kesuksesan di 2011 tidak lepas bantuan banyak pihak waktu itu. 

Hasil Manis

Pada 2012, JIHW kembali diminta untuk menyelenggarakan agenda tersebut. Berbagai lika-liku, seperti minimnya finansial sempat dihadapi. Hingga akhirnya pada 2013 mendapat surat yang mengharuskan untuk ada perwakilan datang ke Prancis, untuk mengetahui pengumuman apakah Indonesia lolos atau tidak. Lia pun meminta tolong kepada Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, waktu itu Tazbir Abdullah.

Penantian panjang dengan segala kerja keras, pengorbanan dan doa yang telah dilakukan pun, membuahkan hasil manis waktu itu, dinyatakannya Indonesia berhasil lolos dan menjadi bagian dari  International Marching League (IML) Walking Association. Seluruh tim pun bersyukur saat diumumkannya kabar baik tersebut.

Hal-hal baik pun mengikuti setelah itu. Hingga kini setidaknya sudah tiga kali JIHW ditetapkan sebagai sport tourism terbaik di Indonesia, membantu korban bencana di Jogja waktu ada Badai Cempaka. Hingga efek berkelanjutan tentunya nama baik Indonesia yang dibawa hingga ke luar negeri.

 “Saya sebenarnya tidak punya prinsip apa-apa. Pada dasarnya harus berani mencoba dan harus menjadi pemenang. Yakin juga dengan yang punya hidup. Sukses dikarier itu hanya hadiah. Ini juga bukan kerja aku sendiri, tetapi banyak yang support,” ucapnya.  

Dikatakan Lia, event JIHW ini juga merupakan milik seluruh orang Indonesia. Diharapkannya masyarakat Indonesia mendukung, karena ini bukan event milik pribadi atau Jogja, tetapi Indonesia. Selain itu diharapkannya anak-anak muda juga turut berperan.