BFI Finance Catat Kenaikan Pendapatan

BFI Finance Catat Kenaikan PendapatanStiker Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tertempel di pintu salah satu bank di Jakarta. - Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
25 Februari 2020 07:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Secara umum, tahun lalu industri keuangan berjalan dengan penuh dinamika di beragam sektor, baik secara global maupun domestik. Meski demikian, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) berhasil menutup 2019 dengan hasil yang apik lewat pertumbuhan total pendapatan sebesar Rp5,2 triliun atau naik 4,4% dari pendapatan di tahun 2018 serta mempertahankan non-performing financing (NPF) di angka 0,85%.

Finance Director & Corporate Secretary BFI Finance Sudjono mengatakan performa baik ini bukan dilalui tanpa tantangan. Pada 2019, industri multifinance mengalami ujian yang bertubi-tubi. Ujian itu mulai dari ketidakpastian ekonomi dan industri secara global karena dampak dari turunnya harga komoditas dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, adanya momentum pemilihan umum legislatif dan presiden, melambatnya bisnis otomotif, hingga likuiditas perbankan yang cukup ketat.

“Secara keseluruhan pertumbuhan melambat dan terjadi kontraksi sebagai langkah antisipasi di semester I/2019. Namun, kami berhasil mengejar ketinggalan tersebut di semester II/2019 dengan membukukan nilai pembiayaan baru per kuartal tertinggi dalam dekade terakhir di kuartal IV/2019 serta menjaga kualitas aset yang superior,” ungkap dia, Senin (24/2).

Kinerja yang solid dari perusahaan ini didukung oleh prinsip kehati-hatian dengan kelolaan risiko yang terukur. Perusahaan juga berhasil menjaga kepercayaan mitra perbankan, baik mitra perbankan di dalam dan di luar negeri yang tercermin dari persentase cost of fund yang cukup stabil.

Terlepas dari kelolaan risiko dan berhasilnya BFI Finance membukukan kenaikan pendapatan, pada 2019 perusahaan juga mencatat adanya kenaikan yang signifikan di biaya operasional. Kenaikan ini terjadi terutama terkait dengan biaya penyelesaian kasus sengketa hukum dengan eks pemegang saham BFI Finance yang telah berlangsung sejak awal 2000. Biaya tersebut telah dicatat seluruhnya pada 2019, sehingga diharapkan ke depan perusahaan dapat tumbuh lebih sehat tanpa terganggu.

Sebagai dampak dari biaya penyelesaian tersebut, laba sebelum pajak perusahaan turun dari Rp1,8 triliun menjadi Rp1,1 triliun, sementara laba bersih konsilidasian menjadi Rp712 miliar. “Dengan selesainya sengketa ini, maka kami dapat memfokuskan diri lebih baik untuk peningkatan bisnis dan operasional, dan diharapkan kinerja positif Perusahaan akan terus berlanjut,” kata Sudjono.

Hingga Desember 2019, BFI Finance telah melebarkan sayap layanannya hingga ke penjuru Nusantara. Perusahaan telah membuka kantor operasional baru untuk pertama kalinya di Wonogiri, Pati, dan Pemalang. Dengan demikian, kantor operasional dan pemasaran BFI Finance sampai dengan akhir tahun lalu tersebar di 423 lokasi dengan 45 cabang di antaranya melayani pembiayaan syariah.