DIREKTUR UTAMA RS UII: Memperluas Kemanfaatan

DIREKTUR UTAMA RS UII: Memperluas KemanfaatanDirektur Utama RS UII Widodo Wirawan ketika ditemui di RS UII, Bantul beberapa waktu lalu./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
03 Maret 2020 09:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Widodo Wirawan mulai bergabung pada Agustus 2018 sebagai Direktur Utama di RS UII. Ia ingin selalu membawa kemanfaatan yang lebih luas kepada masyarakat dan insan RS UII.

Sebagai Direktur Utama, ia memiliki tugas yang penuh tantangan karena harus menjalankan sebuah rumah sakit berkonsep baru di wilayah Bantul selatan. "Katanya daerah yang sulit. Sultan [Gubernur DIY Sri Sultan HB X] dahulu pas kami buka bilang terima kasih karena hadir di wilayah ini. Tantangan ini harus dibalik menjadi hal yang positif. Kami berkomitmen akan mengedukasi masyarakat untuk memperhatikan kesehatan dengan lebih baik," papar dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di RS UII, Bantul beberapa waktu lalu.

Keberadaan RS UII pun membawa kemanfaatan bagi masyarakat karena jarak yang terjangkau terutama bagi masyarakat di area selatan. Selain itu, sebanyak 70% dari pegawai di RS UII merupakan warga sekitar RS berada. Melalui rumah sakit ini pula, ia berkomitmen terus memperbaiki budaya kesehatan masyarakat sekitar.

"RS ini merupakan rintisan dan lokasinya di daerah yang jauh. Jarak yang jauh dari Jogja memang menjadi tantangan sendiri. Tetapi, kalau dibalik jadi positif, RS ini justru mendekatkan diri ke masyarakat yang selama ini aksesnya jauh ke rumah sakit," kata dia

Ia yakin lambat laun wilayah sekitar RS akan semakin berkembang. Ke depan setelah ada RS UII tidak menutup kemungkinan akan tumbuh pasar, swalayan, hingga perumahan. Perekonomian akan semakin menggeliat. Hal itu pun sudah dimulai dengan tumbuhnya warung makan yang didirikan warga.

"Sebagai startup dan pasarnya sulit, jadi usahanya juga lebih besar. Tetapi, kami optimistis bisa maju karen sesuai niat kami untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Bukan abal-abal atau pencitraan saja. Citra yang tampak di mata masyarakat harus sesuai dengan aslinya," jelas dia.

Ia dan pengelola RS UII pun tidak takut dengan komplain. Justru ia senang karena ada masukan dan untuk perbaikan kualitas pelayanan RS. Ia mengaku mulai banyak masukan dari masyarakat karena semakin banyak warga yang memanfaatkan fasilitas kesehatan di RS UII.

"Kami harus senang dan harus membiasakan diri dengan komplain. Kami harus responsif terhadap komplain itu demi kebaikan bersama. Kami selalu belajar dan sebelum komplain terjadi, kami sudah aktif duluan. Misal ada hal yang tidak berjalan lancar, ada saluran untuk memberikan masukan," kata dia.

 

Peningkatan Fasilitas

Fasilitas di RS pun terus ditingkatkan agar masyarakat tidak jenuh. Ada welcome drink, taman bacaan, tempat khusus untuk ibu menyusui, hingga sofa yang nyaman untuk ibu hamil. Fasilitas ini akan semakin dilengkapi misalnya akan ditambah alat pijat untuk ibu hamil.

"Kami juga ada kegiatan sosial di masyarakat. Hampir tiap bulan ada corporate social responsibility (CSR) seperti pemeriksaan ibu hamil, tim kesehatan turun ke lapangan, screening ibu dan anak. Kami juga sampai ke pelosok," ujar dia.

Ke depan RS UII juga akan mengembangkan layanan ibu dan anak. Kesehatan ibu dan anak juga menjadi perhatian nasional karena masih tingginya kematian ibu dan anak.

"Kami juga sedang proses akreditasi dan harapannya akhir tahun sudah dinilai sehingga tahun depan bisa kerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga masyarakat lebih terbuka aksesnya ke RS UII," tutur dia.

Ia lulus pada 2005, kemudian bekerja di bagian kesehatan masyarakat. Ia menilai hal itu bidang yang makro, sedangkan dokter praktik lebih mikro. Ia mulai praktik pada 2007. Ia senang bisa bertemu pasien setiap hari. Ada kepuasan tersendiri ketika ia bisa menolong atau memberi manfaat bagi orang lain. Kemudian, pada 2008 mulai bekerja di RS.

"Ternyata enggak cukup cuma mengobati pasien. Misalnya ada pasien butuh perawatan intensif dan ternyata fasilitas kurang. Akhirnya sebagai dokter cuma bisa sambat. Sejak itu, mulai klik dan tertantang. Enggak cukup hanya penyembuhan. Kalau mau kebermanfaatan lebih luas, cara pandang harus lebih luas. [Setelah masuk manajemen RS] Lebih banyak puasnaya, bisa menampung masukan teman-teman dokter," ujar pria yang juga menjabat sebagai Dirut di sebuah RS di DIY sebelum menjadi Dirut RS UII.

Rumah Sakit UII menghadirkan layanan dokter spesialis di antaranya penyakit dalam, kesehatan anak, dokter bedah, dokter kandungan dan kebidanan, dokter gigi dan mulut, radiologi, serta laboratorium sebagai penunjang medik untuk memberikan ketepatan diagnosis dan terapi pada pasien. Bangunan Rumah Sakit UII yang terdiri dari enam lantai juga memiliki kapasitas rawat inap yaitu VVIP, VIP, kelas 1, 2, dan 3 dengan total 246 tempat tidur.