KANDANG INGKUNG & KOPI : Kemas Ingkung Jadi Makanan Khas DIY

KANDANG INGKUNG & KOPI : Kemas Ingkung Jadi Makanan Khas DIYOwner Kandang Ingkung Resto dan Kopi Dwi Puguh Pranowo ketika ditemui di Kandang Ingkung Resto dan Kopi, Jitengan, Balecatur, Gamping, Sleman beberapa waktu lalu./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
07 Maret 2020 14:27 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—DIY merupakan destinasi wisata yang populer. Keragaman kuliner menjadi salah satu daya tarik. Melihat peluang itu, Dwi Puguh Pranowo ingin membuat ayam ingkung menjadi salah satu makanan tradisional khas DIY. 

Dwi Puguh Pranowo merupakan pemilik Kandang Ingkung dan Kopi yang terletak di Jitengan, Balecatur, Gamping, Sleman. Ia mulai mengembangkan usaha kulinernya sejak dua tahun lalu.

"Saya lihat DIY ini tujuan turis di Indonesia. Kami lihat ada peluang di bisnis situ. Saya riset kecil-kecilan, bisnis kuliner yang long term itu yang berkaitan dengan tradisional seperti gudeg, sate. Kalau gudeg sudah banyak sekali pemainnya. Kalau sate, terkendala tempat. Akhirnya saya melihat ingkung. Sebenarnya dia produk lama, cuma dia belum dikemas semakai makanan khas Jogja," ujar dia kepada Harian Jogja, beberapa waktu lalu.

Ia mengaku ingin membuat restoran yang unik di tempat yang unik. Ketika bersepeda, ia menemukan sebuah kawasan hutan. Ia kemudian membayangkan membuat restoran dengan bangunan tradisional di tengah hutan. Kemudian lahirlah Kandang Ayam dan Kopi.

"Awalnya kapasitasnya cuma 50 sampai 60 kursi. Tiga bulan langsung ramai. Sampai pada duduk di tikar. Akhirnya muncul ide untuk membuat area makan yang lesehan pakai tikar," kata dia.

Menu utama yang disajikan yakni ayam ingkung dan ada pula garang asem. Menu per orangan untuk menu utama dibanderol mulai dari Rp38.000 dan untuk paket Rp138.000 per kilogram (kg). Menu paket bisa dinikmati untuk empat hingga enam orang.

"Untuk rasa enggak dominan manis. Awalnya manis, tetapi ada yang komplain akhirnya kami kurangi manisnya. Kami kombinasikan rasa khas Jogja tetapi dikurangi manisnya," ujar dia.

Dalam menjalankan usaha, ia terus menjaga kualitas dan cita rasa masakan. Berbagai inovasi dilakukan agar tetap berkembang. "Kami ini dari segi rasa beda, suasana juga berbeda. Makan di tengah hutan, banyak pohon. Banyak tamu yang senang terutama yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia," jelas dia.

Nama kandang pun dipilih agar semakin unik. Keunikan lainnya yakni adanya tempat khusus untuk membuat kopi. Para tamu dipersilahan bikin kopi sendiri sesuai selera dan membayar seikhlasnya. Air yang digunakan pun dimasak dengan kayu bakar sehingga ada rasa khas.