Prospek Bisnis Travel Tahun Ini Diprediksi Suram

Prospek Bisnis Travel Tahun Ini Diprediksi SuramIlustrasi traveling - Reuters
16 Maret 2020 07:27 WIB Dewi Aminatuz Zuhriyah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Prospek bisnis agen perjalanan atau travel pada tahun ini tidak cukup hoki. Virus Covid-19 diperkirakan yang menyerang lalu lintas orang dan barang.

Sekjend Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan beberapa bahkan sudah ada yang menutup usahanya lantara minimnya pemasukan bahkan sama sekali tidak ada. Sebelumnya para pengusaha travel hanya mengharuskan karyawannya untuk mengambil cuti tanpa bayaran dengan durasi waktu minimal satu pekan. “Sudah ada yang tutup. Yang pure pemain inbound sudah banyak yang tutup,” kata Pauline, Jumat (13/3).

Namun, Pauline belum bisa menyebutkan berapa banyak perusahaan yang sudah tutup lapak bisnis travel. Sejak virus Corona atau penyakit Covid-19 makin mengglobal, Pauline mengaku sudah tidak ada lagi pemasukan yang didapat oleh pelaku usaha. Dampaknya ada banyak tenaga kerja pariwisata yang menganggur. “Guide, sopir angkutan wisata semua tidak ada pekerjaan.”

Wakil ketua DPP Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) Budijanto Ardiansjah mengatakan setiap tahunnya ada penambahan sekitar 200-300 anggota Asita ini berarti penambahan dalam jumlah perusahaan bisnis travel atau agen perjalanan. Namun, akibat Covid-19 yang hingga Minggu (15/3) tercatat sudah mencapai 96 orang yang positif, dia mengatakan sangat berdampak pada bisnis travel. “Kalau gara-gara Covid19 sih belum ada yang tutup tetapi efisiensi agar survive telah dilakukan,” kata Budijanto.

Dia mengatakan sejauh ini biaya operasional pelaku usaha travel hanya tersisa 20% sehingga memang cukup sulit untuk membayar operasional termasuk gaji pegawai. “Saya belum dapat data semua hanya bebebrapa yang sudah info ke saya. Tapi rata-rata dua atau tiga grup per perusahaan.”

 

Hingga Mei

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan jika hingga Mei 2020 Covid-19 tak kunjung reda, maka besar kemungkinan akan banyak pengusaha travel yang gulung tikar karena omzet yang turun drastis dan juga potensi gelombang PHK yang cukup besar.

“Ini baru permulaan, jika skenario BIN puncaknya adalah Mei 2020 maka akan banyak pengusaha travel yang mengalami penurunan tajam omzet. Kondisi ini akan diimbangi dengan efisiensi secara besar besaran termasuk efisiensi biaya karyawan. Jika terus berlanjut hingga Juni, dapat dipastikan banyak usaha travel yang ajukan pailit dan NPL bank bisa meningkat. Itu yang harus diwaspadai,” kata Bhima.

Dia memprediksi hingga akhir 2020, pertumbuhan wisatawan mancanegara diperkirakan minus 2%-3%.

“Untuk pertumbuhan wisman tahun ini perkiraanya minus dua persen-tiga persen. Wisatawan domestik kemungkinan berkurang. Belum tahu berapa. Mungkin hanya naik sesaat saat mudik Lebaran,” lanjutnya.

Sumber : Bisnis Indonesia