Selama Masa Penanganan Corona, Saatnya Pariwisata DIY Berbenah

Selama Masa Penanganan Corona, Saatnya Pariwisata DIY BerbenahIlustrasi wisata Jogja. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
26 Maret 2020 08:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah hal mesti dilakukan untuk menyambut wisatawan di DIY pascapandemi Corona mereda. 

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan kondisi saat ini dimanfaatkan untuk membuat konsep-konsep peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola destinasi dan peningkatan destinasi itu sendiri. “Sehingga saat badai Corona berlalu kita sudah siap akan konsep Indonesia Tourism Reborn. Selama masa rehat ini tetap saling berkomunikasi dan bersinergi secara online untuk konsep penataan Indonesia Tourism Reborn yang bisa diterapkan nantinya setelah badai Corona berlalu.

Menurut dia, dalam bulan ini industri masih fokus pada prioritas kesehatan dan menata hingga restrukturisasi kewajiban-kewajiban finansial industri kepada pemerintah maupun internal perusahaan. Selain itu, mengingat kondisi saat ini low production, diperlukan upaya rescheduling kewajiban-kewajiban finansial. Hal-hal ini harus disampaikan dan diperjuangkan.

Ia memberi rekomendasi kepada pemerintah untuk fokus menangani Corona secara efektif dan tepat sasaran hingga tegas dalam menjalankan regulasi agar segera bisa lepas dari dampak virusa ini. Bobby juga mendorong pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah di bidang perekonomian. Dengan harapan masyarakat dan industri agar dapat menata kembali kehidupan dan usahanya pasca-Corona.

Di sisi lain, dia juga menyoroti upaya pemerintah dalam meyakinkan wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara. Menurut dia, upaya yang dapat dilakukan seperti memperbarui penanganan Corona, langkah-langkah yang ditempuh pun harus jelas dan konkret. Kebijakan-kebijakan ini yang harus disampaikan kepada dunia, termasuk informasi terbaru soal perkembangan grafik. Strategi ini diharapkan dapat menjadi cara memberitakan pada orang wisatawan dunia jika Indonesia serius menangani wabah ini.

“Tantangan ke depan adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat bersinergi bersama dalam menata kembali perekonomian negara yang porak poranda karena Corona. Stabilitas negara yang menjadi prioritas utama, karena recovery Corona ini sesuai prediksi yang sudah di sampaikan oleh Bank Indonesia, cukup memakan waktu. Butuh sinergitas bersama dalam masa recovery pasca-Corona,” ucapnya. 

Puasa Promosi

Kepala Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Prof. Janianton Damanik mengatakan semua industri pariwisata saat ini harus puasa promosi karena kontraproduktif. “Konsentrasi pembenahan destinasi atau konsolidasi kelembagaan pemangku kepentingan untuk menyusun aksi kolektif pasca-pandemi Covid-19,” ujarnya.

Dia merekomendasikan untuk menghindari promosi tanpa basis fakta keamanan destinasi. Esensi promosi bukan lagi atraksi wisata semata, tetapi standar operasional prosedur (SOP) penanganan wabah. “Praktisnya, bahasa promosi bukan sebatas ini indah, unik dan seterusnya, tetapi juga ini cara kami handle penyakit dan Anda aman.  Artinya, promotor pariwista harus memahami persis psikografi wisatawan, bukan sekadar menawarkan jasa,” ujarnya.

Kondisi saat ini menjadi pembelajaran sangat baik bahwa jaminan steril dari wabah adalah modal terbesar dalam pariwisata. “Jangan main-main dengan faktor higenis dan kesehatan di destinasi. Buat standar operasional prosedur yang kredibel sehingga wisatawan percaya bahwa destinasi aman,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan pelaku wisata tidak bisa jalan sendiri, harus sistemik. Apa yang dikerjakan di stasiun, terminal, bandara, atraksi, hotel dan lain sebaginya harus sinergis. Petugas bandara harus tahu detil apa yang dilakukan hotel, begitu sebaliknya. Hal ini perlu kerja tim yang solid.