Advertisement
Pencairan Subsidi Bunga Untuk UMKM Perlu Dipercepat
Pengrajin menyelesaikan pembuatan alas sepatu di Jakarta, Jumat (17/1). - JIBI/Bisnis.com/Abdullah Azzam
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah perlu mempercepat pencairan subsidi bunga untuk UMKM karena akan membantu bank yang kesulitan arus kas dan masyarakat yang terlilit masalah ekonomi di tengah pandemi Covid-19.
Adapun, rencananya pemberian subsidi bunga untuk debitur UMKM yang senilai Rp34,15 triliun ke 60,66 juta rekening akan mulai diberikan pada Mei 2020. Namun, Bisnis mendapatkan informasi bahwa hingga saat ini pencairan subsidi bunga tersebut belum kunjung disalurkan.
Advertisement
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan penyaluran subsidi bunga perlu dipercepat agar restrukturisasi yang dilakukan lembaga keuangan tidak berdampak pada likuiditas. Bank yang melakukan restrukturisasi memang bermanfaat bagi debitur, tetapi di sisi lain akan mempengaruhi arus kas.
Subsidi bunga penting bagi bank karena selain bisa mengganti pendapatan yang tertunda juga mempercepat recovery sektor riil. Bank juga makin terpacu untuk memperluas restrukturisasi pada debitur lainnya
"Harus segera dicairkan bulan juni ini. Pencairannya bisa dibagi antara bank bumn dan swasta. Karena banyak juga bank BUKU 1 dan 2 perlu dibantu apalagi porsi debitur UMKM nya lebih besar," katanya kepada JIBI, Minggu (6/7/2020).
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) pun mengaku masih menanti pencairan subsidi dari pemerintah setelah melakukan restrukturisasi kepada 2,3 juta debitur dengan baki kredit Rp140,24 triliun.
Pasalnya, hingga kini bantuan likuiditas dan subsidi dari pemerintah tak kunjung turun. Padahal penerapan restrukturisasi berupa penundaan pembayaran pokok dan bunga maupun pengurangan bunga telah mempengaruhi likuiditas dan profitabilitas.
“Likuiditas jadi tantangan terbesar sekarang ini,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso dalam acara Virtual Halalbihalal Pemimpin Redaksi dengan Jajaran Direksi BRI, Jumat (5/6/2020).
Kendati demikian, menurut Sunarso, pihaknya telah menyiapkan beberapa skenario yang diperlukan untuk mengantisipasi likuiditas jika subsidi bunga dari pemerintah belum juga cair.
Salah satu skenario yang akan digunakan adalah mencairkan pinjaman siaga atau standby loan sebesar US$1 miliar dengan bunga murah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Arus Mudik 2026, Kendaraan Masuk Jogja via Tol Prambanan Naik
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Lonjakan Penumpang Kereta di Jogja Capai 30 Persen Saat Lebaran 2026
- Harga Emas Antam Turun Rp24.000, UBS dan Galeri24 Ikut Melemah
- Angkutan Lebaran 2026, Stasiun Jogja Dipercantik Ornamen Ramadan
- Dampak Perang Iran-AS, Pemerintah Siapkan Mitigasi Krisis Ekonomi
- Anggaran MBG Tembus Rp19 Triliun per Bulan, Ini Datanya
- Syarat Ketat Aplikator Bikin 6 Juta Driver Tak Dapat BHR Ojol 2026
- Indef Ingatkan Daya Beli Warga Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global
Advertisement
Advertisement







