Bikin Usaha Pizza, Mantan Koki Kapal Pesiar Ini Mantap Sasar Kalangan Wong Ndeso

Bikin Usaha Pizza, Mantan Koki Kapal Pesiar Ini Mantap Sasar Kalangan Wong NdesoPizza Dezzo. - Istimewa
26 Juli 2020 15:57 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Aris menghabiskan masa mudanya bekerja di kapal pesiar Carnival Amerika Serikat sejak 1999. Di sana dia dikenal sebagai juru masak khusus pizza khas Italia. Untuk membuat satu loyang pizza, Aris harus memastikan berbagai kualitas bahan supaya dinyatakan layak dihidangkan kepada para tamu.

Aris mengaku sangat menikmati proses bekerja di kapal pesiar. Namun jauh dari keluarga selama bertahun-tahun, membuat Aris mulai berfikir untuk pulang ke kampung halamannya sambil tetap melakukan hal yang dia sukai, yaitu meramu pizza dengan cita rasa berkualitas. “Sekitar 2010 saya memutuskan pulang kampung, saya membayangkan merintis bisnis pizza,” kata Aris kepada Harianjogja.com, Rabu (157).

Pria asal Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman ini mengaku tak punya banyak modal untuk menjalankan sebuah usaha, termasuk kuliner pizza. Di rumah, dia hanya punya dapur yang luas serta sebuah oven.

Untuk menghemat modal, Aris menjadikan kediamannya sebagai gerai pusat Pizza Dezzo. Pizza Dezzo artinya Pizza untuk “wong ndeso” (orang desa). Brand ini dipilihnya setelah mengamati lingkungan sekitar rumah yang murni pedesaan di pinggir kota.

Setelah mengamati sekelilingnya, Aris mantap terjun fokus menjual pizza buatannya di segmen menengah bawah. “Karena pemain besar pizza umumnya berada di tengah kota, harganya mahal, pembelinya menengah atas. Mereka mau beli selain mahal juga terlalu jauh. Pangsa menengah bawah terbuka lebar,” kata Aris.

Aris menganggap pangsa pasar menengah bawah masih belum tergarap dengan baik. Jika pun ada usaha pizza rumahan, tak banyak yang menjalaninya dengan serius.

Meski begitu, tantangan ternyata tetap datang silih berganti. Pada 2010, saat merintis bisnis pizza rumahannya, Aris benar-benar berjuang seorang diri.

Aris putar otak agar bisnisnya tak berakhir seperti kebanyakan bisnis pizza rumahan pada umumnya. Aris memulai dari pemilihan bahan baku paling berkualitas dengan harga paling terjangkau.

Bahan yang dia gunakan tentu berbeda dengan bahan yang biasa dia gunakan ketika bekerja di kapal pesiar, namun dengan ketekunan uji coba dan kemampuannya meracik pizza, dia mendapatkan tekstur adonan dan rasa yang berkualitas.

“Kalau pizza pada umumnya kan kalau sudah dingin, adonannya menjadi kaku dan susah dikunyah. Kalau yang saya buat itu walau nantinya jadi dingin, tetap empuk bahkan sampai pinggiranya. Saya pikir, kan belum ada pizza khusus segmen menengah bawah yang kualitasnya seperti ini,” kata Aris.

Pizza rumahan buatan Aris pun dibuat semirip mungkin dengan pizza yang biasa dibeli segmen menengah atas. Pinggiran pizza berupa bites, atau adonan berisi keju juga dia tambahkan dalam menu. Pelanggan bisa memilih jenis pinggiran pizza yang paling mereka sukai, persis yang ada di gerai pizza lainnya.

Andalkan Brosur

Meski sudah sangat bersemangat menjalankan usahanya, ternyata dia sadar bahwa tak semudah itu pizzanya dikenal dan diterima oleh masyarakat yang terbiasa memilih camilan lain. Terlebih, saat dia merintis bisnisnya itu, penggunaan media sosial pun belum semasif akhir-akhir ini.

“Saya sempat kebingungan pemasarannya bagaimana. Yang bisa saya lakukan hanya buat brosur sebanyak yang saya bisa, kemudian saya sebarkan ke mana pun sambil antar pesanan pizza yang masih sedikit. Tiap ada kerumunan pokoknya saya datangi saya beri brosur,” kata Aris.

Tak jarang, Aris melihat brosur yang disebarnya berserakan di jalan dibuang begitu saja. Meski begitu dia tetap yakin kualitas bahan dan rasa tak akan pernah berdusta. Alhasil, dari satu orang yang mencicipi pizzanya, terjadi promosi otomatis dari mulut ke mulut.

“Penjualan langsung naik, setiap ada yang mencoba memang langsung merekomendasikan orang terdekat untuk beli Pizza Dezzo. Sejak penjualan naik, langsung buka cabang dan buka kemitraan,” kata Aris.

Saat ini, Pizza Dezzo dijual dengan berbagai varian. Harganya bervariasi mulai dari Rp30.000 hingga Rp50.000 untuk ukuran medium. Aris kini sudah menjajaki kerja sama dengan Gofood untuk memudahkan pelanggan di pedesaan memesan pizza buatannya.

“Sekarang karyawan sudah banyak. Produksi di pusat dan dua cabang juga naik, omzet satu hari bisa mencapai Rp2 juta,” kata Aris.