Meraup Derasnya Berkah Pandemi lewat Tanaman Hias

Meraup Derasnya Berkah Pandemi lewat Tanaman HiasSalah satu tanaman hias yang dijual oleh Tinandur Yk. - Istimewa
01 Agustus 2020 19:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Bagi seseorang, memutuskan “pensiun dini” dari pekerjaan menjadi sebuah pertaruhan dalam hidup. Tak terkecuali yang dialami perempuan bernama lengkap Amalia Amanda Kasih. Keputusan meninggalkan pekerjaannya di bidang perhotelan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan menjadi gerbang untuk menganyam asa di bisnis baru.

Pandemi Covid-19 menjadi alasan bagi Amalia untuk meninggalkan pekerjaan mapannya di sebuah hotel yang berada di Maldives. Berbulan-bulan nasib Amalia sebagai staf sebuah hotel di Maldives menjadi tak menentu. Sejak Covid-19 merebak di seluruh dunia, tak ada satu pun kunjungan ke kepulauan yang jadi surga wisata itu.

Terbang jauh dari surga di Asia Selatan itu ke kampung halamannya, Jogja, Amalia memang punya harapan baru melalui bisnis barunya di dunia jual beli tanaman hias bermerek Tinandur Yk.

Latar belakang keluarga dengan hobi bercocok tanam menjadi modal pentingnya untuk memulai bisnis tanaman hias. Lewat Tinandur Yk, dia pun terus berinovasi sesuai tren hobi bercocok tanam yang kini mulai berkembang selama masa social distancing yang digaungkan saat pandemi.

Sepulang dari Maldives, Amalia melakukan karantina mandiri selama 14 hari di area rumah yang terpisah dari keluarganya. “Aku merenung. Ini kan posisinya aku belum tahu kapan akan kembali kerja lagi di Maldives. Aku kepikiran hobi bercocok tanam keluargaku, terutama ibu. Apalagi, sejak dulu aku memang pecinta Monstera. Aku berfikir ini mau diapakan,” kata Amalia saat ditemui Harianjogja.com di Tinandur Yk yang berada di Jalan Kadirojo, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Selasa (21/7/2020).

Amalia pun mulai memantau media sosial, banyak orang yang merasa jenuh di rumah selama masa social distancing. Mereka sibuk menata ulang kamar mereka, beberapa orang memilih menambah dekorasi dengan tanaman.

Amalia lantas memantau harga-harga tanaman yang diprediksi akan laris manis jika dijual ke pasaran. Salah satunya adalah Monstera.

Saat itu harga Monstera masih terbilang murah. Dengan merogoh kocek sekitar Rp100.000, Amalia sudah bisa mendapatkan Monstera dengan ukuran daun medium. Begitu juga tanaman lainnya saat awal pandemi masih ada dalam rentang harga terjangkau. Amalia segera merealisasikan idenya untuk merintis brand Tinandur Yk berdasarkan hobi keluarganya bercocok tanam.

Kaya Inovasi

Stok beberapa tanaman yang telah dibeli kemudian dia kemas dalam bentuk yang berbeda. Saat itu telah memasuki Idulfitri, Amalia ingin membuat produk yang sesuai dengan momen Lebaran. “Aku kebetulan juga hobi membuat segala hal yang handmade, tanaman itu yang ukuran daunnya masih kecil aku kemas jadi hampers. Waktu itu jual hampers Rosemary harganya Rp45.000,” kata Amalia.

“Banyak yang pengin pot gerabah, akhirnya kami sediakan. Akhirnya dari situ kami coba jual bibit, berbagai jenis pot, coco fiber [sabut kelapa], batu hias, kerikil sebagai media tanam,” kata Amalia.

Menurut Amalia, pandemi merupakan peluang tersendiri jika seseorang peka melihat peluang dari tren yang dilakukan orang-orang saat pandemi. Akan tetapi berkah itu juga datang sepaket dengan perkembangan permintaan yang sangat cepat berubah. Sebagai pemilik bisnis tanaman hias, dia harus tetap relevan terhadap perkembangan itu dengan serangkaian inovasi.

Produk inovasinya itu langsung meledak di pasaran setelah dijual melalui Instagram @tinandur.yk. Dalam satu hari, Amalia bisa menjual 10-15 paket hampers tanaman. Setelah Idulfitri, pelanggan berbondong-bondong mendatangi Tinandur Yk`untuk melihat langsung koleksi tanamannya. Dari situ lah banyak permintaan tak terduga.

Tak puas sampai di situ, Amalia mengunggah konten memanfaatkan botol kaca bekas, teko atau wadah apapun menjadi pot tanaman sebagai dekorasi ruangan. Dari situ, datang permintaan vas tanaman dari kaca.

“Kami juga mengembangkan tanaman hias dengan media air, di mana itu relatif mudah untuk pemula. Nanti kalau sudah ada akarnya, pemindahannya ke pot kami bimbing. Saat menanam tanaman media air, banyak sekali permintaan datang dari luar DIY dan di situ tantangannya,” kata Amalia.

Amalia juga masih acap menemukan pelanggan yang menilai produk koleksi tanamannya terlalu mahal. Dengan sabar, Amalia menjelaskan bahwa harga itu sudah termasuk pot, media tanam, dan konsultasi. Jika semua itu digabungkan, tentu harga itu sudah terjangkau.

Harga tanaman di Tinandur Yk untuk Monstera berkisar mulai dari Rp100.000 dalam bentuk bibit. Semakin besar daun Monstera, semakin tinggi harganya.

Sedangkan tanaman lain bisa didapatkan mulai dari harga Rp75.000. “Omzet selama pandemi ini memang tinggi, satu hari rata-rata bisa sampai Rp800.000,” kata Amalia.