Komunitas Pencinta Tanaman Ini Berbisnis Sambil Mengedukasi Pembeli

Komunitas Pencinta Tanaman Ini Berbisnis Sambil Mengedukasi PembeliAnggota Jogja Jateng Online Plant Seller (JOPS) berkumpul secara rutin setiap tiga bulan sekali. - Istimewa
10 Agustus 2020 22:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Meningkatnya animo masyarakat untuk mengoleksi tanaman hias selama pandemi acap dimanfaatkan sejumlah pihak untuk mencurangi pembeli dengan menjual tanaman secara online. Atas dasar itulah, komunitas bernama Jogja-Jateng Online Plant Seller (JOPS) mulai berkomitmen menjadi wadah serta sarana untuk mengedukasi masyarakat agar terhindar dari penjual tanaman hias yang curang dan culas.

Selama pandemi, aktivitas mengoleksi tanaman hias mendadak naik daun. Tren ini kerap dimanfaatkan penjual tanaman untuk menipu masyarakat dengan menjual jenis tanaman mahal yang ternyata palsu.

Mengoleksi tanaman hias dan merawatnya menjadi alternatif penghilang stres yang paling mudah dan murah untuk dilakukan. Tanaman memang tak harus mahal, tetapi yang penting menyejukkan dan indah dipandang mata.

Fungsi tanaman sebagai hiasan dan hobi membuat tren koleksi tanaman hias tak pernah surut, justru bertambah peminat setiap tahunnya.

Awalnya di DIY muncul banyak penjual tanaman di kebun-kebun rumah mereka sendiri atau di pinggir jalanan kota yang bising. Seiring dengan perkembangan teknologi, para penjual tanaman pun merambah ke pasar daring. Persaudaraan antarpenjual tanaman pun terbentuk karena kegiatan bertukar ilmu seputar tanaman.

Beberapa komunitas pencinta tanaman mulai bermekaran, salah satunya Jogja Jateng Online Plant Seller (JOPS). Komunitas ini terbentuk September 2018 dengan anggota awal adalah enam orang penjual tanaman asal DIY.

“Kami membentuk komunitas agar lebih guyub bertukar ilmu, sharing pengalaman antarsesama plant seller khususnya yang berjualan via online di DIY,” kata Koordinator Wilayah Jogja JOPS, Glen Calvin kepada Harian Jogja, pekan lalu.

Komunitas ini bukan sekadar wadah bertukar ilmu dan memperkaya wawasan para anggotanya seputar bisnis tanaman hias secara online. Semua anggota yang bergabung dalam komunitas ini pun wajib bersih dari riwayat penipuan terhadap pembeli.

“Seluruh anggota yang bergabung dalam komunitas ini merupakan penjual tanaman hias terpercaya,” ucap Glen.

Selama pandemi, kata dia, minat masyarakat mengoleksi tanaman memang semakin tinggi karena banyak para pemula yang gemar mengoleksi tanaman hias saat masa social distancing. Beberapa jenis tanaman hias pun naik daun, di antaranya monstera, calathea, janda bolong, dan krokot pink.

Naiknya pamor beberapa tanaman tersebut yang lantas kerap dimanfaatkan segelintir penjual untuk menipu pembeli, khususnya dari kalangan pemula. Praktik yang kerap terjadi adalah penjual tanaman hias yang curang mengaku menjual Monstera Marmorata dan dipatok dengan harga jual tinggi, padahal itu adalah tanaman hias murah bernama Epipremnum Aureum.

“Karena memang beberapa tanaman memiliki bentuk dan warna daun yang mirip tetapi harga jualnya sangat berbeda. Ini berbahaya bagi orang awam yang belum mengetahui perbedaannya,” kata owner bisnis tanaman hias dengan brand Bellaspina ini.

Itulah sebabnya seluruh penjual tanaman hias online yang tergabung dalam JOPS selalu mengedukasi pelanggan mereka masing-masing tentang berbagai jenis tanaman. Mulai dari spesies, ciri,hingga warna. “Beberapa dari kami bahkan aktif mengedukasi lewat video dan yang diunggah di Instagram,” ucap dia.

Edukasi mereka pun kian masif. Pasalnya anggota yang bergabung di JOPS nyatanya tak hanya penjual tanaman hias di DIY. “Pada perkembangannya kami juga menambah anggota dari luar Jogja, sehingga sekarang kepanjangannya adalah Jogja-Jateng Online Plant Seller. Sampai saat ini berjumlah 28 member,” kata Glen.