Ketersediaan Beras Bergantung pada Produksi selama Oktober-Desember

Ketersediaan Beras Bergantung pada Produksi selama Oktober-DesemberPetani melakukan penyemprotan pestisida organik pada tanaman padi di areal persawahan Kecamatan Ranomeeto, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin (7/9/2020). Perum Bulog Kanwil Sulawesi Tenggara mencatat telah menyerap sebanyak 17.600 ton beras petani dari target 20 ribu ton serapan beras di tahun 2020. ANTARA FOTO - Jojon
16 Oktober 2020 22:27 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Ketersediaan beras pada 2020 akan sangat bergantung pada produksi selama Oktober-Desember. Pemerintah perlu mencermati sejumlah faktor demi menjamin pasokan beras memadai dan tak menimbulkan kenaikan harga.

Angka sementara yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi gabah kering giling (GKG) sepanjang Januari-September 2020 berjumlah 45,45 juta ton.

Angka ini turun 3,17% dibandingkan dengan 2019 dan terjadi lantaran luas panen yang turun dari 9,28 juta hektare (ha) menjadi 9,01 juta ha.

Namun, BPS juga melaporkan bahwa luas panen pada Oktober-Desember 2020 bisa mencapai 1,78 juta ha atau naik 27,54 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Jika produksi pada kuartal IV sejalan dengan prediksi ini, maka produksi beras diproyeksi mencapai 31,63 juta ton atau naik 1,1% dibandingkan produksi 2019.

Dengan konsumsi ditaksir berjumlah 29,37 juta ton, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan Indonesia bisa menikmati surplus beras sampai 2,3 juta ton. 

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan soal perkembangan La Nina di Samudra Pasifik.

Fenomena iklim ini secara historis menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia sampai 40 persen di atas normal.

Menurut Suhariyanto, dampak peningkatan curah hujan perlu diwaspadai dan diantisipasi dengan sejumlah langkah mitigasi seperti pengelolaan produksi pertanian. Pemerintah perlu menjamin ketersediaan pangan karena selama ini produksi amat dipengaruhi oleh iklim.

Ketua Umum Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa mengatakan fenomena La Nina perlu disyukuri. Menurutnya, fenomena La Nina dan volume produksi padi kerap menunjukkan korelasi positif.

“Faktor penentu produksi beras di Indonesia hanya ada dua, iklim dan hama. Pada 2007 sampai 2010 ketika terjadi fenomena La Nina, produksi beras kita terus naik,” kata Dwi kepada Bisnis, Jumat (16/10/2020).

Perlu Jadi Catatan

Kendati demikian, Dwi mengatakan ketersediaan beras tetap perlu menjadi catatan. Dia memperkirakan produksi beras bisa turun sampai 500.000 ton pada 2020 sebagai imbas turunnya produksi pada semester I.

Penurunan ini lebih rendah dibandingkan dengan prediksi awal Dwi yang memperkirakan bahwa produksi akan turun 1,5 juta ton.

Di sisi lain, informasi jaringan tani AB2TI juga menunjukkan adanya pergerakan harga GKP dari Rp4.800 per kg di tingkat petani pada September menjadi Rp5.000 pada pertengahan Oktober. Dwi menyebutkan tren kenaikan harga berpotensi berlanjut mengingat produksi pada akhir tahun cenderung lebih sedikit.

“Pada akhirnya harga akan terpengaruh dan ini yang perlu dicermati. Kalau produksi naik stok bisa aman. Namun kalau produksi turun atau sama, stok bisa tidak aman,” kata Dwi.

Sumber : JIBI/Bisnis.com