BPS: Aktivitas Ekonomi DIY Mulai Menggeliat

BPS: Aktivitas Ekonomi DIY Mulai MenggeliatKepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Heru Margono saat merilis pertumbuhan ekonomi DIY Triwulan III, Kamis (5/11/2020). - Ist/ tangkapan layar
06 November 2020 10:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Pertumbuhan ekonomi di DIY Triwulan III 2020 mengalami perbaikan jika dibandingkan pada Triwulan II 2020 meski masih minus.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Heru Margono mengatakan perekonomian DIY triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 masih mengalami kontraksi sebesar 2,84% (y-on-y). “Lebih ringan kontraksinya dibanding triwulan II-2020 yang mencapai 6,72%, dan berbalik arah jika dibanding periode yang sama tahun 2019 yang tumbuh 6,01%. Bila dibanding triwulan II-2020 perekonomian DIY tumbuh sebesar 9,24% [q-to-q],” ucap Heru, Kamis (5/11/2020).

Pertumbuhan lapangan usaha tertinggi terjadi di jasa kesehatan dan kegiatan sosial yaitu sebesar 21,85%. Hal ini didorong oleh peningkatan yang besar terkait penanganan pencegahan penularan Covid-19. Aktivitas informasi dan komunikasi juga masih tumbuh tinggi yaitu sebesar 17,83%.

Baca juga: Resesi, Pengusaha Sebut Ekonomi Mitra Dagang Jadi Kunci

Pola pembelajaran secara daring dan aktivitas belanja daring menjadi pemicunya. Usaha pertanian juga masih tinggi yaitu 7,49% yang disebabkan terjadinya pergeseran musim tanam kedua komoditas padi yang menyebabkan di triwulan III 2020 masih banyak terjadi panen padi di sebagian besar wilayah pertanian DIY.

Jika Triwulan III 2020 dibandingkan Triwulan II 2020 hampir semua lapangan usaha, selain administrasi pemerintahan tumbuh positif. Pendorong utama tumbuhnya perekonomian ini adalah penyediaan akomodasi dan makan minum dan jasa lainnya. Keduanya tumbuh di atas 40%, yaitu 43,86% dan 40,63%. Selain itu, lapangan usaha jasa perusahaan, transportasi dan pergudangan, dan konstruksi juga tumbuh lebih dari 10%, masing-masing 27,50%, 23,17%, dan 16,44%. Sementara lapangan usaha lain, masih tumbuh kurang dari 10%.

Sejak dibukanya kembali pembatasan arus lalu lintas di perbatasan wilayah DIY pada awal Juli, mobilitas masyarakat mulai meningkat. Berbagai acara Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) kembali diselenggarakan di wilayah DIY. Objek wisata juga mulai dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan. Kembalinya aktivitas tersebut, ditambah liburan panjang Muharam mampu mendorong peningkatan hunian hotel sekitar 30% hingga 40% untuk hotel berbintang dan 20% untuk hotel non bintang.

Baca juga: Pemerintah Pusat Berikan Jaminan Pembiayaan Pembangunan

“Meningkatnya aktivitas pariwisata mendorong aktivitas penyediaan makan minum. Sudah banyak rumah makan yang sudah melayani makan di tempat atau menambah jam kerja, yang diharapkan menerapkan protokol kesehatan seperti anjuran pemerintah. Aktivitas jasa angkutan, baik kereta, angkutan darat, angkutan udara, dan jasa penunjang angkutan, termasuk biro agen perjalanan wisata juga mulai menunjukkan geliatnya,” ujar Heru.

Di lapangan usaha konstruksi, pembangunan tiang pancang dan tiang penyangga rel KA bandara sudah mencapai 50% dengan total biaya Rp1,2 triliun, dengan dana yang bersumber dari APBN. Realisasi pengadaan semen naik 53,14%. Berdasarkan data APBD, belanja modal triwulan ini naik sebesar 390%. Selain itu, ada perbaikan jalan dan saluran drainase di beberapa lokasi di wilayah Sleman dan Kota Jogja.