Sinergitas Menjadi Kunci Pemulihan Ekonomi

Sinergitas Menjadi Kunci Pemulihan EkonomiKepala Perwakilan BI DIY, Hilman Tisnawan menyampaikan pemaparan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2020, Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi, di Royal Ambarrukmo, Kamis (3/12/2020). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
04 Desember 2020 07:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, dinilai ampuh untuk pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X mengungkapkan saat ini kasus Covid-19 secara global masih meningkat tidak terkecuali Indonesia. Kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, pemerintah maupun masyarakat.

Pandemi tersebut menjadi tantangan tujuan pembangunan berkelanjutan. Angka kemiskinan, pengangguran dikatakan sedikit mengalami kenaikan. Perlu menyelaraskan kesehatan fiskal nasional, dengan cara menjaga optimisme pasar untuk menjaga, menguatkan ekonomi negara, sekaligus meningkatkan consumer confidence sebagai representasi optimisme masyarakat.

Dia mengatakan Presiden sudah meminta seluruh jajaran pemerintah berkonsentrasi pada realisasi anggaran 2020 yang tinggal tiga minggu, dan akan segera membelanjakan anggaran 2021 di awal tahun atau di Januari. Pemerintah DIY telah menata bersiap mengoptimalisasi belanja daerah di awal tahun. Hal ini untuk memicu dan memacu roda perekonomian daerah.

“Pemda DIY perlu untuk kolaborasi mencapai target ini. Pemda DIY menekankan kerjasama lintas sektor untuk melaksanakan pembangunan. Seperti konsep pembangunan berkelanjutan pentahelix. Strategi pembangunan dengan pondasi kerjasama lintas sektor, melibatkan unsur pemerintah sebagai pemilik political power, akademisi sebagai knowledge power, dunia usaha sebagai pemilik economic power, masyarakat sebagai social control, dan media pemilik information power,” ucap Paku Alam X, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2020, Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi, di Royal Ambarrukmo, Kamis (3/12/2020).

Baca juga: Pola Konsumsi di Harbolnas 12.12 Tahun Ini akan Berbeda

Hal senada diungkapkan Kepala Perwakilan BI DIY, Hilman Tisnawan yang mengatakan 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi DIY. Pertama, Covid-19 menyebabkan tekanan ekonomi di seluruh dunia, termasuk DIY. Berhentinya aktivitas pergerakan manusia pada semester I lalu, menyebabkan jangkar perekonomian DIY, yaitu sektor pariwisata dan pendidikan mengalami kontraksi dalam.

Kedua, faktor statistical based effect menjadi salah satu penyebab penurunan kinerja ekonomi DIY. Pasca berakhirnya proyek strategis nasional Yogyakarta International Airport (YIA), belum ada lagi investasi besar lain yang masuk ke DIY yang dapat mendorong sektor investasi dan sektor konstruksi DIY. Sehingga dalam jangka pendek pertumbuhan ekonomi DIY 2020 mengalami penurunan. Namun berkat implementasi Kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional serta upaya kolaborasi berbagai pihak, dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Nasional, DIY telah melewati puncak tekanan pada triwulan II/2020 lalu, dan saat ini ekonomi DIY perlahan mulai pulih.

“Pandemi Covid-19 mengajarkan banyak hal, dimana kolaborasi dan sinergi menjadi kunci untuk pemulihan ekonomi. Bank Indonesia DIY selalu berkomitmen menjadi mitra strategis Pemda DIY, Akademisi, dan Pelaku Usaha, untuk berkontribusi nyata dalam memajukan ekonomi DIY,” ucap Hilman.

Komitmen BI DIY tercermin dari berbagai program kolaborasi pentahelix dengan berbagai pihak, antara lain pertama, Program Bejo Talk untuk fasilitasi forum diskusi ekonomi dengan berbagai pihak. Harapannya akan terjadi sinergi pemikiran, sehingga rekomendasi yang diusulkan kepada pengambil keputusan lebih konkret dan efektif.

Kedua, program Sinergi Pariwisata Ngayogyokarto (Siwignyo) yaitu kolaborasi program sebagai upaya percepatan pemulihan pariwisata DIY dan percepatan reaktivasi pariwisata DIY. Tergabung dalam pentahelix ini adalah Pemda DIY, BIDIY, Asosiasi Pariwisata DIY, dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY.

Ketiga, program Smart Traditional Market (SEMAR) yaitu upaya digitalisasi pasar tradisional dan pengembangan produk UMKM berdaya saing. Keprihatinan terhadap pasar tradisional yang terdampak COVID-19 mendorong terbentuknya kolaborasi antara Pemkot Jogja, BI, BPD DIY dan Yayasan Beringharjo Inisiatif.

Keempat, Koordinasi Pengendalian Inflasi Jogja Sekitarnya (KOPI JOSS), yaitu upaya pengendalian inflasi di DIY, yang tergabung di dalam TPID, berupa pembangunan big data inflasi, pengembangan pilot project klaster ketahanan pangan, dan digitalisasi pertanian.

Baca juga: Masih Ada Zona Hijau Corona di Sleman Meski Segelintir

Hilman mengatakan BI DIY memperkirakan pertumbuhan ekonomi DIY 2020 akan kontraksi pada kisaran 2,3 – 1,9% (yoy). “Namun, kami meyakini ekonomi DIY pada 2021 akan segera recovery dengan proyeksi pertumbuhan yakni 3,9 – 4,3% [yoy],” ucapnya.

Sementara itu, Inflasi DIY 2020 diperkirakan rendah pada kisaran 1,3-1,7% (yoy). Sejalan dengan penurunan kinerja ekonomi, capaian inflasi DIY tersebut masih lebih rendah dibanding sasaran 3,0±1% (yoy). Pada 2021, perbaikan kinerja ekonomi berpotensi meningkatkan inflasi, utamanya dari kelompok inti dan harga pangan. Namun diperkirakan, inflasi DIY 2021 akan berada di sekitar titik tengah sasaran inflasi.

Makroprudensial

Di sisi makroprudensial, stabilitas sistem keuangan di DIY masih terjaga baik selama pandemi Covid-19. Hingga saat ini kemampuan korporasi DIY dalam menghasilkan laba (rentabilitas) maupun likuiditas masih relatif baik. Dari sisi lembaga intermediasi, Bank Indonesia telah melonggarkan likuiditas melalui Quantitative Easing. Saat ini likuiditas perbankan di DIY lebih dari cukup, sehingga mampu untuk mendukung restrukturisasi kredit yang terdampak pandemi. Diyakini perbaikan ekonomi pada 2021 akan mendorong intermediasi perbankan di DIY.

Pada sisi Sistem Pembayaran, BI DIY selalu menjaga kelancarannya baik secara tunai maupun non tunai. Digitalisasi sistem pembayaran terus dilakukan dengan menggunakan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) sebagai akselerator inklusi keuangan.

Pengguna QRIS di DIY meningkat lebih dari 200% dibandingkan dengan akhir 2019. Potensi penggunaan terus diperluas kepada UMKM, pasar tradisional hingga kotak amal digital di tempat tempat ibadah. Selain itu, untuk mengakselerasi penggunaan transaksi non tunai pada transaksi pemerintah, BI DIY bersama empat Pemkab, yaitu Sleman, Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo telah membentuk Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD). TP2DD Sleman merupakan TP2DD pertama di Indonesia dan sering mendapat apresiasi di tingkat nasional.

“Ke depan, kami tetap meyakini sinergi merupakan kata kunci untuk pemulihan ekonomi dari pandemi ini. BI DIY bersama dengan Pemerintah Daerah, OJK, Akademisi, Asosiasi, Pelaku Usaha dan para mitra kerja akan terus duduk bersama dalam perumusan kebijakan. Dengan sinergi itulah DIY menunjukkan ketahanan menghadapi dinamika Covid-19 maupun ekonomi global. Dengan sinergi, transformasi dan inovasi, kami optimis DIY akan mendorong Indonesia menuju negara maju yang semakin sejahtera,” ucapnya.