Optimalkan Sumber Daya yang Ada Jadi Cara Memimpin Dirut PDAM Tirta Gemilang

Optimalkan Sumber Daya yang Ada Jadi Cara Memimpin Dirut PDAM Tirta Gemilang Direktur Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Gemilang Magelang, Agus Tri Suharyono. - Harian Jogja/Nina Atmasari
28 Desember 2020 18:37 WIB Nina Atmasari Ekbis Share :

Harianjogja.com, MAGELANG--Bekerja di perusahaan daerah yang bukan menjadi daerah asalnya, jadi bukti bahwa Direktur Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Gemilang Magelang, Agus Tri Suharyono bisa memimpin di manapun ia berada. 

Berawal dari informasi tentang rekrutmen Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Gemilang Kabupaten Magelang pada awal 2020, Agus Tri Suharyono mendaftar. Tanpa bekal relasi maupun informasi daerah, Agus yang saat itu merupakan warga Kendal Jawa Tengah, kemudian mengikuti proses seleksi.

"Sudah jadi prinsip saya untuk melakukan dengan sungguh-sungguh apa yang sudah saya niatkan. Saya ikut seleksi dengan sebaik-baiknya bahkan menerapkan target untuk lolos, dan akhirnya lolos," katanya, Senin (28/12/2020).

Modalnya adalah pengalaman sebelumnya menjadi Dirut PDAM Kabupaten Kendal, selama tiga periode, atau 12 tahun. Agus merupakan pria asli Kendal. Saat kali pertama menjabat sebagai Dirut PDAM Kendal, tepatnya pada 2006, dia merupakan Dirut PDAM termuda, karena usianya waktu itu baru 29 tahun.

Proses itu ia capai tanpa melalui jenjang karier di internal PDAM. Sebelumnya, dia bekerja di perusahaan asing, dengan posisi sebagai akunting. Selanjutnya, dia keluar dari perusahaan itu dan memilih membuka usaha di bidang otomotif.

Ketika PDAM Kendal membuka rekrutmen Dirut, dia mendaftar dan lolos menjadi orang nomor satu di perusahaan daerah yang mengurusi air bersih untuk warga tersebut.

Sedianya, posisi Dirut PDAM Kendal yang merupakan jabatan empat tahunan, bisa diisi maksimal lima periode. "Namun setelah menjabat tiga periode, saya pilih berhenti karena ingin mencoba di tempat lain, dan ternyata membawa saya sampai ke Magelang," kata pria lulusan Magister Manajemen sebuah kampus di Semarang, Jawa Tengah, tersebut.

Alasan ayah tiga anak ini tertarik dengan Kabupaten Magelang adalah karena sumber daya alam (SDA). Menurutnya, Magelang punya banyak potensi sumber daya air yang masih bisa dikembangkan untuk kesejahteraan warganya.

Kondisi yang ada di PDAM Tirta Gemilang saat ini masih bisa dikembangkan lebih besar, dengan menambah sumber air dan menambah pelanggan PDAM.

Untuk mewujudkan misinya tersebut, Agus mengaku tidak bisa sendiri. Strategi yang dilakukannya adalah memaksimalkan sumber daya yang ada di perusahaan, baik SDA maupun sumber daya manusia (SDM) yang ada.

Ini menjadi strategi bagi Agus yang tidak memiliki latar belakang teknis tentang pengairan. "Kami [PDAM] punya struktur organisasi dengan tenaga-tenaga ahli di bidangnya. Tugas saya memimpin manajerial. Saya memaksimalkan mereka sesuai dengan tugas dan fungsinya, sehingga pekerjaan terselesaikan dengan baik dan kebutuhan pelanggan terpenuhi," ucap pria berusia 44 tahun itu.

Kemampuan Manajerial

Kemampuan manajerial inilah yang menjadi kunci utama Agus bisa memimpin perusahaan dengan baik. Ia tidak lagi memandang di mana dia bekerja, tetapi menurutnya, di manapun bekerja, ia akan mengoptimalkan apa yang ada di perusahaan tersebut, demi tercapainya kemajuan perusahaan.

Prinsip pengoptimalan SDM ini, menurutnya dibarengi dengan inovasi mengembangkan sumber daya alam yang bisa digunakan untuk mengembangkan perusahaan. PDAM Magelang memiki SDA yang mendukung, ada banyak mata air yang bisa dimanfaatkan dalam rangka mencukupi kebutuhan air bersih warganya.

Apalagi saat ini, baru 27% cakupan layanan PDAM secara administrasi. Dari 21 kecamatan, baru 17 yang terlayani. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan kapasitas. Target yang ditetapkan oleh Agus dengan menjadi Dirut PDAM yakni ingin masyarakat kabupaten Magelang semakin banyak yang mendapatkan pelayanan air bersih

Tak Selalu Mulus

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Agus mengakui tidak mudah dan tidak selalu mulus. Ada gangguan pekerjaan yang kadang dialaminya. Contohnya adalah ada pipa pecah sehingga harus diganti atau diperbaiki. Perbaikan butuh waktu, namun kebutuhan air pelanggan tidak bisa lama berhenti. Saat itulah ia memberikan solusi dengan mobil tangki air untuk menyediakan air bersih warga.

Contoh lain adalah saat tiba-tiba tagihan listrik PDAM melonjak karena perubahan status pelanggan dari PLN. Padahal target di perusahaan tetap. Agus harus mengatur agar perusahaan tetap bisa memenuhi kewajibannya. "Sebenarnya bisa memotong gaji karyawan, tetapi tidak saya lakukan. Saya pilih melakukan pembenahan teknis agar hasil capaian meningkat," katanya.

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang sudah melanda sembilan bulan terakhir, Agus mengakuui dampaknya tidak terlalu signifikan. Bahkan, dia bisa memberikan kebijakan membantu pelanggan terdampak pandemi dengan memberikan subsidi tarif mulai 25% hingga 100% pada pelanggannya dengan nilai total Rp1,3 miliar.