Selain China & Korea, Erick Thohir Masih Buka Peluang Kerja Sama Perusahaan Baterai

Selain China & Korea, Erick Thohir Masih Buka Peluang Kerja Sama Perusahaan Baterai Menteri BUMN Erick Thohir. - Antara
04 Maret 2021 22:27 WIB Ika Fatma Ramadhansari Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan membuka peluang kerja sama lebih banyak dengan perusahaan privat dalam dan luar negeri. 

“Untuk berkolaborasi dan ambil bagian mengembangkan ekosistem EV [electric vehicle] baterai di Indonesia, tentu kami menunggu untuk bekerja sama dengan lebih banyak perusahaan privat,” ungkap Erick dalam acara MNC Group Investor Forum 2021 dikutip Kamis (4/3/2021). 

BACA JUGA : Tesla Patenkan Teknologi Baterai Mobil Listrik Berdaya

Terkait dengan proyek industri baterai kendaraan listrik atau baterai EV ini, Erick menyebutkan BUMN telah menggandeng perusahaan asal China Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dan juga perusahaan asal Korea Selatan LG Chem Ltd. 

Dia mengungkapkan proyek industri baterai ini merupakan bagian dari prospek perkembangan dunia di masa depan yang akan menggunakan energi terbarukan. Ke depannya menurut Erick akan lebih banyak kendaraan elektrik di jalanan. 

Tren ini menurutnya akan menjadi masa depan yang cerah untuk Indonesia, mengingat sumberdaya nikel yang ada di Indonesia yang menjadi bahan dasar dari baterai EV. 

BACA JUGA : Indonesia Siapkan Karpet Merah untuk Kunjungan Tesla 

“Terimakasih untuk sumberdaya nikel yang besar di Indonesia, sebagai material bahan dasar baterai lithium. Kami telah mengikutsertakan pemain global pada industri baterai EV, seperti CATL dari China dan LG Chem dari Korea Selata,” jelas Erick pada acara yang berlangsung Rabu (3/3/2021). 

Berdasarkan catatan Bisnis pada 1 Februari 2021, pemerintah melalui BUMN kini tengah melirik tujuh perusahaan global termasuk CATL dan LG Chem untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Di mana lima perusahaan lainnya adalah BYD Auto Co. Ltd., dan Farasis Energy Inc. dari China, Samsung SDI dari Korea Selatan, Panasonic asal Jepang, dan Tesla Inc. dari Amerika Serikat. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia