Bank Indonesia Klaim Uang Elektronik Semakin Dicintai Masyarakat, Ini Buktinya

Bank Indonesia Klaim Uang Elektronik Semakin Dicintai Masyarakat, Ini BuktinyaKartu Flazz dengan logo terbaru yang diluncurkan pada saat BCA Expoversary Online 2021. - Dok. BCA
19 Maret 2021 09:37 WIB M. Richard Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan transaksi ekonomi dan keuangan digital terus tumbuh tinggi sejalan dengan meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, meluasnya pembayaran digital dan akselerasi digital banking.

Pertumbuhan tersebut tercermin dari nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pada Februari 2021 sebesar Rp19,2 triliun, atau naik 26,42% (year on year/yoy). Volume transaksi digital banking juga terus meningkat 36,41% (yoy) mencapai 464,8 juta transaksi dan nilai transaksi digital banking tumbuh 22,94% (yoy) mencapai Rp2.547,5 triliun per Februari 2021.

"Transaksi ekonomi dan keuangan digital terus tumbuh tinggi sejalan dengan meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat," sebut Perry Warjiyo usai RDG BI, Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Jurus Jitu Dapatkan Keuntungan Lebih Besar dalam Berbisnis

Dia melanjutkan Bank Indonesia memperkirakan tren digitalisasi masih akan terus berlanjut dengan mempertimbangkan pesatnya perkembangan teknologi, inovasi, serta perluasan dan penguatan ekosistem digital.

Dari sisi kebijakan sistem pembayaran, Bank Indonesia terus mendukung pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan digital, antara lain dengan perluasan akseptasi QRIS melalui implementasi fitur QRIS Customer Presented Mode (CPM) serta penggunaan QRIS sebagai salah satu metode pembayaran dalam e-commerce.

Di sisi lain, Perry melanjutkan uang kartal yang diedarkan (UYD) pada Februari 2021 mencapai Rp783,6 triliun, tumbuh 11,95% (yoy).

Adapun, nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, Kartu Debet, dan Kartu Kredit pada Februari 2021 tercatat Rp579,6 triliun, mengalami kontraksi 4,93% (yoy) sejalan dengan masih terbatasnya mobilitas dan lemahnya permintaan domestik akibat pandemi Covid-19.

Sumber : Bisnis.com