Ekspor Salak Sleman Mulai Bergairah

Ekspor Salak Sleman Mulai BergairahPersiapan ekspor salak pondoh super di Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo, Turi, Sleman beberapa waktu lalu/Ist
26 April 2021 21:17 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Ekspor salak pondoh super Sleman mulai menggeliat setelah sekian lama tertahan akibat pandemi Covid-19. Para petani salak berharap ekspor salak terus membaik seiring membaiknya kondisi pandemi di negara tujuan.

Ketua Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo, Sari Siswanto mengatakan kegiatan ekspor salak terutama ke Kamboja dan China sempat terhenti akibat dua negara tujuan ekspor salak itu ditutup (lockdown) karena pandemi Covid-19. Namun komoditas salak berangsur kembali mengalami sejak kedua negara tersebut membuka kran impor.

Menurut Siswanto, ekspor salak Sleman pada 2019 lalu atau sebelum pandemi Covid-19 melanda bisa mencapai 640 ton dalam setahun. Namun sejak pandemi menghantam negara-negara di dunia, kegiatan ekspor salak terus merosot. "Kami mulai mengimpor salak ke China, terakhir minggu lalu melalui perjalanan udara. Selain ke China, ekspor salak dari Sleman juga dilakukan ke Kamboja," katanya saat dihubungi Harianjogja.com, Senin (26/4/2021).

Hal senada disampaikan Penanggungjawab Kegiatan Ekspor Petani Salak Mitra Turindo, Suroto. Dibandingkan China, katanya, ekspor salak ke Kamboja justru lebih tinggi. Jika dalam kondisi normal, katanya, ekspor salak ke China rata-rata antara 25 ton hingga 40 per bulan. "Kalau ke Kamboja, rata-rata perbulan bisa mencapai antara 40-50 ton. Ini kalau situasi normal (sebelum pandemi)," kata Suroto.

Dalam sebulan, pihaknya mampu mengirim 10 hingga 12 kali ekspor namun selama kondisi pandemi kadang kegiatan ekspor hanya sekali dilakukan. "Hanya China yang sudah membuka penerbangan. Jadi minggu kemarin kami baru kirim 5 ton 700 kg untuk tiga dokumen. Kalau ke Kamboja baru 5 ton kami kirim lewat kapal dua pekan lalu," katanya.

Menurut Suroto, selama April ini hampir 45 ton salak pondoh super yang sudah diekspor baik ke Kamboja maupun China. Kondisi ini dinilai cukup membantu 14 paguyuban petani salak yang tergabung dalam Gapoktan Mitra Turindo. "Jelas sangat membantu petani. Semakin banyak permintaan, tentu harganya juga akan membaik," katanya.

Dia berharap ke depan, kondisi pandemi Covid-19 bisa terus terkendali dan dunia membaik. Jika kondisi pandemi belum mambaik, maka akan berpengaruh kembali pada kegiatan ekspor. Berdasarkan informasi yang diterima, 5 ton salak yang sempat dikirim ke Kamboja masih tertahan karena negara tersebut kembali menerapkan status lockdown.

Suroto juga berharap ke depan, produk salak Sleman juga dipromosikan ke banyak negara untuk menambah negara tujuan ekspor. "Ya bisa lewat pameran dan promosi lainnya di banyak negara agar mereka bisa mengenal produk salak Sleman. Kami berharap agar situasi dan kondisi pandemi Covid-19 di banyak negara bisa teratasi," harapnya.

Berdasarkan catatan Dinas Pertanian, Pangan dan Perkebunan Sleman, ekspor salak ke China baru terlaksanakan kembali pada September 2020 sampai April ini. Sejak September 2020 hingga saat ini, Dinas mencatatkan volume ekspor sebesar 80,765 Ton. Salak yang diekspor ke China dikirim dengan menggunakan transportasi udara dan hanya dipilih dari kebun salak yang sudah teregister dan ternotifikasi oleh otoritas China.

Kegiatan ekspor salak yang dilakukan oleh Mitra Turindo dengan tujuan Kamboja mampu menyerap 136,926 ton salak dari kebun salak pondoh yang sudah teregister. Ekspor salak ke Kamboja menggunakan transportasi laut dan dilakukan sendiri oleh Mitra Turindo.