Harga Apartemen Menurun di Triwulan Pertama 2021, Ini Alasannya

Harga Apartemen Menurun di Triwulan Pertama 2021, Ini AlasannyaProyek apartemen The Newton 2. - Dok. www.newton2/ciputra.com
26 Mei 2021 08:27 WIB Yanita Petriella Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 membuat permintaan apartemen melemah hingga kuartal I/2021.

Managing Director Strategic Business & Services Sinarmas Land Alim Gunadi mengatakan pasar apartemen di Jakarta sepanjang tahun 2020 hingga kuartal I/2021 cenderung melemah baik dari sisi pasokan dan permintaan.

"Tahun lalu merupakan periode launching paling rendah karena semua orang dan semua industri itu perhatiannya lebih pada meningkatkan kemampuan untuk bertahan," ujarnya, Selasa (25/5/2021).

BACA JUGA : Pandemi hingga Harga Tanah yang Mahal Jadi Tantangan

Berdasarkan data konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL), sepanjang tahun 2020, pertumbuhan pasokan dan permintaan apartemen hanya sekitar 9 persen dengan launching unit baru kurang dari 5.000 unit.

Berbeda dengan rumah tapak dengan pasokan mencapai 15.000 unit yang umumnya dibangun di daerah-daerah tetangga ibu kota.

"Angka pasokan ini bahkan lebih tinggi dari sebelum Covid-19, dan sentimennya cukup bagus. Titik equlibriumnya sudah terlewati pada tahun lalu, dan sekarang kondisinya sudah mulai naik," katanya.

Menurutnya, salah satu alasan melemahnya permintaan apartemen yakni rental market yang sangat kecil saat ini karena berkurangnya jumlah ekspatriat. Hal tersebut membuat penghasilan atau pemasukan bagi investor menjadi tidak pasti.

"Permintaan apartemen sangat lemah. Karena jumlah ekspatriat juga berkurang akibat pandemi. Jadi ya yield-nya atau penghasilannya jadi tidak pasti," tuturnya.

Dia menilai apabila apartemen dalam keadaan kosong maka biaya pemeliharaan dibayarkan oleh pemilik unit. Hal ini lah yang menjadi salah satu pertimbangan apartemen tidak diminati selama Covid-19.

BACA JUGA : Harga Rumah Perdesaan Melonjak karena Bekerja

"Investor juga menilai bahwa keuntungan dari bisnis apartemen ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan membeli rumah tapak," ucapnya.

Menurutnya, berkurangnya pasokan apartemen baru yang terjadi sejak tahun 2020 disebabkan sejumlah aturan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna menekan penularan Covid-19.

Selain itu juga banyak pengembang yang tidak melaunching produk baru ataupun menahan proyek apartemen yang baru. Tak hanya itu, investor juga mengalihkan dananya ke instrumen investasi alternatif lain seperti pasar saham, emas, dan lainnya.

"Saat ini investor mengalihkan uang yang mereka punya ke instrumen investasi lain yang cenderung lebih dinamis, seperti emas, saham dan instrumen lainnya," ujarnya.

Oleh karena itu, dia menilai saat ini menjadi waktu untuk market end user dalam membeli hunian. Namun demikian, di masa Covid-19 ini, konsumen lebih memilih produk hunian yang dapat mendukung kesehatan.

"Ada ruang terbuka hijau, bisa mendukung kegiatan rumah, dekat dengan pusat perbelanjaan dan enggak crowded. Karena sekarang kesehatan nomor 1," kata Alim.

Country Manager Rumah.com Marine Novita menuturkan terjadi penurunan harga apartemen pada kuartal I/2021 sekitar 2,3 persen.

Penurunan harga apartemen terjadi di Jakarta sebesar 2,6 persen (quarter-on-quarter), Di Jawa Barat indeks harga apartemen mengalami penurunan sebesar 0,9% (quarter-on-quarter).

Penurunan harga apartemen juga terjadi di Banten sebesar 1,6% (quarter-on-quarter). Lalu di Jawa Tengah juga mengalami penurunan harga apartemen 0,33% (quarter-on-quarter).

Tren yang berbeda terlihat di Jawa Timur dimana indeks harga apartemen meningkat sebesar 1,79 persen (quarter-on-quarter).

"Pasar properti saat ini didominasi dengan rumah tapak," ucapnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia