BI DIY Dukung Kesehatan dan Ekonomi Bangkit di Tengah Pandemi Covid-19

BI DIY Dukung Kesehatan dan Ekonomi Bangkit di Tengah Pandemi Covid-19Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan DIY, Miyono. - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
18 Agustus 2021 07:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Peringatan kemerdekaan, menjadi momentum optimisme untuk ekonomi dan kesehatan dapat bangkit kembali di tengah pandemi Covid-19. Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2021 tumbuh 7,07% years on years (yoy). Akselerasi pertumbuhan ekonomi merupakan low based effect dari triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh rendah -5,32% (yoy). Dari sisi lain, upaya perbaikan ekonomi yang dilakukan pemerintah membuahkan hasil, yang tercermin dari lebih tingginya pertumbuhan ekonomi secara triwulan sebesar 3,31% quarter to quarter (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya.

Di tingkat daerah secara regional, ekonomi tumbuh siginifikan, DIY pulih lebih cepat dibanding Nasional. Pada Triwulan II 2021, ekonomi DIY tumbuh 11,8% (yoy), tertinggi di Jawa. Realisasi pertumbuhan ini bahkan lebih tinggi daripada pertumbuhan Triwulan I 2021 yakni 5,8% (yoy). Secara akumulasi, pada semester I 2021 ekonomi DIY telah tumbuh 8,7% cumulative to cumulative (ctc), yang berarti ekonomi DIY telah tumbuh lebih tinggi dibanding sebelum pandemi.

Pertumbuhan ekonomi DIY ditopang oleh investasi dan konsumsi. Dari sisi investasi, tercatat tumbuh tinggi mencapai 19,0% (yoy). Kenaikan investasi utamanya dipicu oleh Proyek Strategis Nasional (PSN) penunjang bandara, yakni PSN Kereta Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) dan pembangunan tol Jogja-Solo maupun Jogja-Bawen. Selain itu, Proyek Strategis Daerah juga terus berjalan diantaranya pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Investasi dari proyek-proyek tersebut bila diakumulasi nilainya lebih besar dibanding nilai invetasi pembangunan Bandara YIA.

Sementara dari sisi konsumsi tumbuh 5,6% (yoy). Nilai konsumsi ini pertama kalinya mencatatkan pertumbuhan positif sejak pandemi. Hal ini tidak terlepas dari upaya dalam menjaga ketahanan konsumsi masyarakat menengah kebawah melalui jaring pengaman sosial, yang diiringi dengan pemberian stimulus untuk percepatan pertumbuhan ekonomi, dengan mengalokasikan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp157,41 Triliun untuk melanjutkan Bansos Tunai, Tambahan Kartu Sembako, Bantuan Beras, Perpanjangan Diskon Listrik, Perpanjangan Subsidi Kuota, Tambahan Pra Kerja, hingga Bantuan Subsidi Upah (BSU).

Selain itu pemerintah juga menurunkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yang kemudian Bank Indonesia melakukan kebijakan pembebasan down payment sehinga mendorong lonjakan penjualan mobil di DIY mencapai 84,6% (yoy) pada triwulan II 2021.

Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan DIY, Miyono mengatakan jika melihat data yang ada memang sejumlah sektor menyumbang pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Selain investasi dan konsumsi masyarakat, ekspor juga menyumbang pertumbuhan ekonomi. “Investasi jika dilihat mikro dengan kegiatan pembangunan itu, tentu ada pegawai, pekerja, dia mendapat penghasilan, akan belanja. Konsumsi masyarakat juga bergerak kemarin, dengan wisata bergerak. Selain itu ekspor juga tumbuh baik, negara mitra dagang juga telah menujukan kondisi ekonomi yang membaik. Sehingga demand global membaik, ekspor diuntungkan,” ucap Miyono, Senin (16/8/2021).

Miyono juga mengatakan untuk Indeks Keyakinan Konsumen hingga Triwulan II kemarin meski belum sesuai yang diharapkan, tetapi telah menunjukan tren yang baik. Perlu menjadi perhatian untuk Indeks Keyakinan Konsumen setelah Triwulan II, termasuk pertumbuhan ekonomi di Triwulan III. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dinilai akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, meski begitu berbagai upaya dinilai dapat menekan dampak dari sisi ekonomi, kebijakan PPKM itu.

Menjaga Tren Baik Pertumbuhan Ekonomi

Langkah pemerintah untuk melakukan pembatasan aktivitas melalui PPKM guna mengakhiri gelombang kedua Covid-19, berdampak langsung pada penurunan produktivitas. Untuk itu pemerintah terus mengevaluasi dan menyesuaikan kebijakan ini, sehingga diharapkan selain mampu menurunkan tingkat penyebaran virus, juga berdampak minimal terhadap perekonomian.

Miyono mengatakan ada sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk menjaga recovery ekonomi. Pertama, pelaksanaan vaksinasi perlu dipercepat. BI DIY bersinergi dengan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD), Pemerintah Daerah dan stakeholder terkait lainnya juga mendukung penyelenggaraan vaksinasi bagi masyarakat.

“Kami meyakini vaksinasi merupakan game changer untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Kami mengapresiasi stakeholder terkait sehingga progres vaksinasi di DIY menjadi salah satu yang tercepat di Indonesia. Namun upaya vaksinasi untuk kelompok lansia masih perlu dipercepat. Untuk itu kami menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk membantu keluarga ataupun tetangga yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan informasi mengenai vaksinasi. Termasuk di daerah-daerah remote perlu jadi perhatian untuk vaksinasi,” ucap Miyono.

Hal kedua yang perlu menjadi perhatian yaitu perlunya menguatkan semangat gotong royong dan empati dalam mengatasi pandemi Covid-19. Ia melihat di DIY juga banyak aksi saling bantu. Dia mencontohkan aksi belanja di tetangga terdekat merupakan langkah yang konkret untuk menghidupkan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Aksi tolong menolong warga yang sedang isolasi mandiri perlu terus diapresiasi, untuk menjaga aspek ketahanan ekonomi dan memutus rantai Covid-19.

Ketiga, tidak kalah pentingnya perlu mendorong masyarakat, utamanya kelas menengah keatas untuk meningkatkan konsumsi, agar dapat menggerakkan roda perekonomian. Masyarakat kelas menengah keatas diharapkan untuk berkonsumsi tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membantu tetangga yang sedang membutuhkan. “Sebenarnya paling mudah untuk menumbuhkan ekonomi ini, dengan konsumsi baik Jogja maupun Nasional. Utamanya masyarakat menengah atas. Tidak hanya untuk diri sendiri, jika bisa membantu yang lain,” ujarnya.

Keempat yang perlu jadi perhatian, yaitu mendorong percepatan digitalisasi. Di tengah pandemi ini, digitalisasi memang terakselerasi pertumbuhannya. Bank Indonesia berkomitmen melakukan digitalisasi sistem pembayaran melalui program 12 juta merchant Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan terus berupaya mendorong UMKM Go Digital. Digitalisasi dirasakan sangat penting untuk menjaga aktivitas transaksi ekonomi agar tetap berjalan di tengah adanya pembatasan aktivitas. Di DIY sendiri, BI DIY juga terus mendorong percepatan digitaliasi. Berdasarkan catatan dari BI DIY pertumbuhan QRIS juga sangat baik.

“Itu program BI secara nasional. BI akan menjadi Bank Sentral Digital di 2025, itu sudah target BI. Artinya berbasis digital, dalam konteks sekarang digitalisasi terkait QRIS. Untuk di DIY target hingga akhir 2021, yaitu 300.000 merchant, sekarang sudah 238.373 per 16 Juli kemarin. Jadi ada kenaikan 58,99% dari awal tahun. Sudah baik, mudah-mudahan di akhir Desember. Semua yang belum QRIS akan kami kasih QRIS,” ucapnya.

Selain itu catatan penting, yang dinilai bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi yaitu kelangsungan pelaksanaan proyek nasional di daerah perlu dijaga, agar berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. “PPKM perlu dikawal secara ketat dan terus dievaluasi secara bertahap, agar kesehatan terjaga dan ekonomi pulih kembali. Kemudian masyarakat yang belum tersentuh penting juga untuk jadi perhatian. Contoh masyarakat yang bekerja di sektor wisata, mungkin sebelumnya kebutuhan terpenuhi, dengan adanya pandemi PPKM ini penghasilan mereka terganggu. Ini perlu menjadi perhatian,” ucap Miyono. (ADV)