Milenial dan Gen-Z Jadi Incaran Pengembang Perumahan

Milenial dan Gen-Z Jadi Incaran Pengembang PerumahanFoto udara perumahan di kawasan Tangerang, Banten, Selasa (5/5/2015). - Antara/M Agung Rajasa
09 November 2021 18:27 WIB Yanita Petriella Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Kalangan milenial dan gen Z menjadi incaran pengembang dan perbankan dalam menawarkan produk properti.

Berdasarkan Riset Tren Pasar Properti semester I/2021 perusahaan teknologi yang bergerak di bidang properti (PropTech) Lamudi.co.id, dalam 5 tahun terakhir demografis pencari properti usia 25–45 tahun meningkat, dan dipimpin oleh kelompok yang ada di rentang usia 25–34 tahun.

Kelompok demografi ini mengalami kenaikan 781 persen sejak 2016 hingga semester I/2021, dan menjadi 30 persen dari pengguna platform, baik melalui smartphone, desktop, ataupun perangkat lainnya.

Sementara itu, pembeli berusia 18–24 tahun berada di peringkat kedua, berlomba ketat di 26,7 persen, selanjutnya kelompok usia 35–44 tahun di 20,6 persen.

BACA JUGA: Pecinta Motor Honda Lintasi 6 Pulau dalam Ekspedisi Nusantara

Riset tersebut menyebutkan bahwa kelompok usia 18–24 tahun adalah mereka yang ada dalam tahap mencari atau scouting, belum memiliki kekuatan ekonomi, tetapi telah bercita-cita untuk memiliki rumah sendiri.

Kelompok usia 25–34 tahun mayoritas telah mencapai stabilitas finansial dan baru membina rumah tangga atau mulai berkeluarga. Pasalnya, hunian menjadi kebutuhan yang krusial bagi grup keluarga baru ini.

Kemudian, pencari ketiga terbanyak berasal dari kelompok usia 35–44 tahun yang sebagian besar telah berpengalaman dalam hal jual-beli properti, namun terus berusaha mencari investasi yang lebih baik lagi.

Hal itu pun sejalan dengan yang dijelaskan oleh Direktur Marketing & Sales Paramount Land M. Nawawi, yang menyebut bahwa pembeli rumah di Paramount Land, khususnya untuk Paramount Petals sebagian besar merupakan kalangan milenial.

Adapun, profil pembeli unit rumah di Paramount Petals sekitar 68 persen berasal dari kelompok dengan rata-rata usia 39 tahun.

“Untuk Paramount Land Gading Serpong 51 persen pembeli milenial yang usianya kurang dari 39 tahun,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (9/11/2021).

Paramount Petals./Istimewa

Menurutnya, prospek milenial dalam membeli properti semakin nyata dan masih menjadi pasar yang tebal. Hal tersebut tentu menjadi fokus bagi semua pengembang untuk menyediakan produk milenial.

“Rumah yang diminati, saya melihat masih ada dua segmen, yakni rumah harga Rp700 juta sampai dengan Rp1 miliar, dan rumah menengah seharga Rp2,5 miliar,” kata Nawawi.

 Properti Tetap Tumbuh

Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida memproyeksikan industri properti akan tetap tumbuh pada 2022. Saat ini, pangsa pasar properti sebesar 70 persen merupakan kalangan millennial, karena mempunyai pendapatan yang lebih stabil.

“Potensi generasi milenial untuk membeli properti relatif besar. Kemampuan kelompok ini memenuhi gaya hidupnya selama ini, karena ditopang penghasilan yang cukup memadai. Apabila penghasilan milenial itu digabung dengan pasangannya, tentu daya beli mereka akan jauh lebih besar lagi. Jadi mestinya generasi milenial mampu mencicil rumah Rp2,5 juta sampai Rp3 juta per bulan,” ucapnya.

Dia meyakini industri properti tumbuh dengan sentimen positif, seperti suksesnya program vaksinasi Covid-19 yang akan memicu pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun mendatang.

“Apalagi saat ini ada UU Cipta Kerja Nomor 11/2020 yang mulai berlaku, dan akan memangkas birokrasi perizinan, sehingga menciptakan lingkungan yang ramah bisnis,” tuturnya.

REI menargetkan penjualan properti mencapai Rp500 triliun hingga akhir 2021, seiring dengan perpanjangan kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), dengan catatan tidak ada gelombang ketiga kasus penularan Covid-19.

 Program Khusus Milenial

Sementara itu, Direktur Consumer and Commercial Lending BTN Hirwandi Gafar menuturkan, pasar milenial ini masih sangat besar, karena banyak yang belum memiliki hunian.

Menurutnya, selama ini kesulitan milenial dalam memiliki rumah karena kemampuan angsuran yang dimiliki untuk mencicil rumah.

Oleh karena itu, BTN meluncurkan fitur Graduated Payment Mortgage (GPM) dalam produk KPR BTN Gaess for Millenial yang dapat memudahkan milenial dalam memiliki rumah dengan angsuran terjangkau.

Fitur GPM memiliki keunggulan utama, di antaranya suku bunga promo lebih rendah dan diperhitungkan secara berjenjang, yaitu 4,75 persen selama 2 tahun pertama pinjaman.

Angka itu lebih rendah bila dibandingkan dengan KPR biasa menggunakan skema fix and cap, sehingga besar angsuran GPM lebih rendah dibandingkan dengan angsuran KPR reguler pada awal masa kredit.

“Jadi selama 2 tahun pertama ini milenial hanya membayar bunganya saja, tidak membayar pokoknya sebesar 4,75 persen. Lalu nanti setelah itu ada kenaikan gradual sebesar 1 persen setiap tahunnya. Akan tetapi, ini sesuai dengan kemampuan masing-masing milenial. Harapan kami, milenial bisa mencicil rumah dan juga bisa memenuhi kebutuhan dia,” terangnya.

Menurut Hirwandi, GPM dalam KPR Gaes Millenial dapat dimanfaatkan oleh anak muda yang memiliki perencanaan keuangan matang, karena fitur itu sesuai dengan kondisi finansial dan tidak terlalu membebani kantong, karena cicilan pada 2 tahun pertama terbilang ringan.

Setelah itu, pembayaran angsuran akan meningkat secara stabil sesuai dengan asumsi kenaikan penghasilan calon debitur setiap tahunnya.

Adapun, realisasi KPR BTN Gaess For Millenial sejak 2019 sampai dengan September 2021 mencapai Rp15,2 triliun. Perusahaan pun mengejar penyaluran KPR Non-Subsidi mencapai Rp10,3 triliun hingga akhir tahun ini melalui program KPR BTN Gaess For Millenial.

“Penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) non-subsidi sebesar 70 persen. Ini kebanyakan milenial dari usia 21 tahun hingga 35 tahun,” katanya.

Adapun, tipe rumah yang kerap dibeli milenial yakni di bawah harga Rp1 miliar dengan ukuran luas tanah sekitar 60 meter persegi hingga 72 meter persegi.

“Kami juga memfasilitasi milenial dalam memilih properti rumahnya melalui website, sehingga milenial bisa mengetahui kondisi rumah yang dipilih. Saat ini banyak juga pengembang yang menyasar milenial dengan desain rumah kekinian,” tuturnya.

Kemudahan yang ditawarkan BTN diharapkan membuat kaum milenial tidak menunda untuk membeli rumah.

Apabila kaum milenial antusias memiliki rumah, maka akan mendorong sektor perumahan, khususnya KPR non-subsidi kembali menggeliat. Terlebih saat ini sebagian besar kegiatan dilakukan di rumah.

Sumber : Bisnis.com