Advertisement
OJK hingga LPS Ikut Berkomentar soal Moody's Turunkan Peringkat Bank di AS
Monitor menampilkan nama Moody's Corp. - Bloomberg / Michael Nagle
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Bank-bank di Amerika Serikat (AS) tertekan seiring dengan turunnya peringkat berdasarkan lembaga pemeringkat Moody's. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memastikan tak ada dampak dari turunnya peringkat Moody’s bank-bank AS itu bagi industri perbankan di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, Moody’s memangkas peringkat 10 bank kecil hingga menengah AS satu tingkat. Moody’s juga sedang memantau 6 bank raksasa AS, yang berpotensi turun peringkat. Perubahan ini seiring penurunan keyakinan lembaga pemeringkat asal AS itu atas kondisi bank yang ratingnya dipangkas.
Advertisement
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan berdasarkan pengamatan otoritas, kondisi perbankan di Indonesia masih meyakinkan. Kondisinya berbeda dengan bank-bank di AS. Alhasil, dampak turunnya peringkat Moody's bank-bank di AS pun minim ke bank-bank Indonesia.
"Kalau dari kacamata kami, [turunnya peringkat Moody's bank-bank AS] tidak akan berpengaruh ke kondisi perbankan kita, karena eksposur perbankan AS ke perbankan kita sangat kecil sekali," ujarnya dikutip dari Bisnis.com-jaringan Harianjogja.com, Kamis (24/8/2023).
Baca juga: Pembeli di Pangkalan LPG 3 KG Ada yang PNS, Data Tidak Bisa Diinput
Ditambah, kondisi fundamental bank-bank Indonesia menurutnya masih tahan banting. Likuiditas perbankan sedikit turun meskipun masih jauh di atas threshold, antara lain tercermin dari rasio alat likuid/noncore deposit (AL/NCD) dan alat likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing sebesar 119,04 persen dan 26,73 persen.
Liquidity coverage ratio (LCR) juga memadai, berada pada level 230,24 persen, melampaui threshold 100 persen. Dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) berada pada level 25,41 persen.
Kualitas kredit juga terjaga tercermin dari rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross turun ke level 2,44 persen dari bulan sebelumnya 2,52 persen. Kemudian NPL net di level stabil 0,77 persen.
Sebelumnya, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro juga mengatakan industri perbankan Indonesia, baik dari sisi likuiditas, permodalan, dan risiko kredit masih dalam kondisi yang terjaga.
“Dari sistem ketahanan, khususnya perbankan masih bagus, dari sisi likuiditas, permodalan, dan dari sisi risiko kredit,” katanya dalam acara Taklimat Media, pekan lalu (9/8/2023).
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa pun mengatakan meski turunnya peringkat bank-bank AS bisa memicu kekhawatilran pelaku pasar, tetapi kondisi itu bisa memberi dampak yang positif bagi Indonesia.
"Ke kita harusnya positif, kenapa? Kita kan enggak pernah enggak membayar utang. Amerika hampir enggak bayar kan? Harusnya lebih jatuh lagi," ujarnya ketika ditemui di acara Like It, Senin (14/8/2023).
Menurutnya, peringkat tersebut sebetulnya diberikan untuk melihat apakah satu negara mau membayar utang atau mampu bayar utang. "Kita dua-duanya mampu," tutur Purbaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Pemerintah Tanggung PPh 21 Pekerja 5 Sektor Padat Karya 2026
- Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar, tapi Produksi Anjlok
- Penjualan Tiket KAI Tembus 4 Juta pada Arus Balik Nataru
- GIPI DIY: Nataru Ramai, Lama Tinggal Wisatawan Masih Jadi PR
Advertisement
Pemkab Sleman Luncurkan e-Kalurahan, Awasi Transaksi Desa
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Hari Ini 7 Januari 2026, UBS dan Galeri24 Melonjak
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Ekonomi Vietnam Tumbuh 8,02 Persen pada 2025, Tertinggi 3 Tahun
- Konsumsi Dex Series di Jateng-DIY Naik 35,6 Persen Saat Nataru 2026
- Libur Nataru, Konsumsi Listrik di DIY Meningkat 16 Persen
- 75 Persen Tiket Nataru Dibeli Lewat Access by KAI
Advertisement
Advertisement




