Advertisement
Sejarah Pertalite: Diciptakan untuk Hilangkan Premium, Kini Akan Dihapus Atas Nama Emisi
Ilustrasi SPBU-dok - Bisnis Indonesia
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pertamina mengusulkan penghapusan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite pada 2024 mendatang. Penyebabnya, karena pertalite berada di RON 90 yang bertentangan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No.20/2017 Tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, Kategori N, dan Kategori O.
Bagimana Sejarah Pertalite ini muncul?
Advertisement
Nasib pertalite mungkin tak bisa selegendaris premium atau masyarakat mengenalnya bensin. Mengingat BBM jenis ini rencananya akan dihapus pada 2024 mendatang. Jika ini terealisasi, maka usia pertalite hanya bertahan sampai sembilan tahun saja.
BACA JUGA : Tahun Depan Pertalite Diganti Pertamax Green 92, Berapa Harganya?
Pertalite diciptakan di tengah Pertamina mengaku terus merugi saat menjual premium. Jenis pertamax dan oktan ke atasnya justru untung meski tidak bisa dipakai untuk menutup kerugian di jenis premium.
Oleh karena itu Pertamina di 2015 menciptakan BBM jenis baru Pertalite dengan RON 90 dengan nama pertalite tersebut. Pertalite kala itu secara terang-terangan dipakai untuk menggeser premium yang merupakan BBM subsidi.
Pertalite pertama kali diluncurkan pada Juli 2015 oleh Pertamina. Kala itu, bensin RON 90 ini dibuat dan dipasarkan guna memangkas konsumsi BBM subsidi, yakni Premium. Saat itu Dirut Pertamina dijabat oleh Dwi Sucipto dengan Menteri BUMN Rini Sumarno.
Pertalite pertama kali dijual Rp8.400. SPBU Abdul Muis Jakarta Pusat menjadi pertama yang menjual BBM jenis ini kala itu. Kemudian Pertamina menetapkan 68 SPBU lainnya untuk memasarkan pertaliter yang diikuti oleh sejumlah kota lain di Indonesia.
Pada 2016, produksi dan penjualan Pertalite terus dilakukan dan mengurangi konsumsi Premium menjadi 47 persen dan Pertalite naik hingga 33 persen. Karena saat itu premium dipersulit, dan kian dikurangi jatahnya setiap SPBU. Pada 2017 akhirnya pertalite sukses membunuh premium yang telah berpuluh-puluh tahun menemai rakyat Indonesia. Pertalite mengambil alih posisi pasar sejalan dengan hilangnya premium di pasaran.
BACA JUGA : Nilai Oktan Pertalite Ditingkatkan, Dewan Energi Pastikan Harga Tetap Rp10.000
Harga pertalite di 2015 diawali Rp8.400. Pada 2016 mengalami penurunan menjadi R07.900, Rp7.100, Rp6.900 - Rp7.300 per lite. Pada akhir 2016 harga naik lagi menjadi Rp7.050 - Rp7.450 per liter. Pada 2017, harga Pertalite menjadi Rp7.350 - Rp7.750 per liter, kemudian naik menjadi Rp7.400 - Rp7.800 per liter dan di tahun yang sama naik lagi Rp7.500 - Rp7.900 per liternya.
Kemudian 2018 harga menjadi Rp7.800 - Rp8.150 per liter. Lalu di 2019 pertalite turun di angka Rp7.650 - Rp8.000. Medio 2019 hingga 2021 harga masih tetap stabil di angka Rp8.000. Akan tetapi pada 2022 pertalite naik menjadi Rp10.000 hingga 2023 ini.
Terbaru, Pertamina akan menghapus pertalite karena dinilai bertentangan dengan Permen LHK terkait emisi yang batasnya RON 90.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
Advertisement
Kisah di Balik 3.000 Pamong Gunungkidul di Kirab HUT Sultan HB X
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- BSI Salurkan Zakat Rp289 Miliar ke BAZNAS, Terbesar di Indonesia
- Serapan Anggaran di DIY Masih Rendah, TKD Jadi Penopang
- Inflasi DIY Maret 2026 0,45 Persen, Lebih Rendah dari Februari
- Aturan BBM Subsidi Baru, Logistik Nasional Terancam Terganggu
- Tempe Indonesia Tembus Chile, Nilai Ekspor Rp2,1 Miliar
Advertisement
Advertisement








